k Cerita Awek: awek cantik
Showing posts with label awek cantik. Show all posts
Showing posts with label awek cantik. Show all posts

Friday, December 6, 2013

Cinta pertamaku

Awek Pantat Panas CantikHi pembaca yang setia, aku baru pertama menulis di sini, dan aku sekarang ingin berbagi pengalamanku kepada pembaca sekalian. Aku berbagi pengalaman ini karena menurut aku ini adalah hal yang paling indah yang pernah aku alami. Aku akan mulai dengan perkenalan singkat, namaku Azwin, usiaku 19 tahun, sekarang aku sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Aku mempunyai sifat pemalu yang sejak dulu menjadi hambatan bagiku dalam menjalin hubungan dengan lawan jenisku. Peristiwa yang aku alami ini ternyata mengubah hidupku menjadi luar biasa, lebih dari yang aku bisa bayangkan.

Perjalananku dimulai ketika aku pulang ke Jakarta pada saat liburan semester. Liburanku berawal dari tanggal 27 Juli sampai dengan 13 September, aku berada di Jakarta sudah sejak tanggal 30 Juli. Dalam liburan ini aku berkunjung ke rumah beberapa temanku, diantaranya adalah seorang teman lamaku Silvi yang sudah sejak SMU tidak pernah bertemu. Kalau kuhitung-hitung sudah sekitar satu tahun aku tidak bertemu dia. Sejak aku pertama kali bertemu dia aku langsung jatuh cinta.

Thursday, November 7, 2013

Mbak Ine yang seksi - 1

Awek Pantat Panas CantikPagi yang cerah itu Adi sendirian di rumah karena kuliahnya kosong hari itu, adiknya sudah berangkat sekolah, sedangkan orang tuanya pergi ke luar kota. Setelah bangun tidur (biasanya kalau libur dia bangun agak siang, kira-kira jam 9), Adi menuju kamar mandi. Segera disiramnya tubuhnya dengan air dingin yang segar. Selesai mandi dan berpakaian, dia menuju meja makan untuk sarapan. Setelah itu baca-baca koran sebentar, kemudian beranjak ke teras depan rumah. Sambil duduk-duduk, dia menatap ke rumah depan yang didiami oleh Mbak Ine dan suaminya Mas Anto, tetangganya yang sering bertandang ke rumah Adi untuk ngobrol-ngobrol bersama ibunya atau keluarganya. Mbak Ine adalah wanita yang cantik berumur kira-kira 28 tahun. Dia adalah seorang ibu rumah tangga yang modern, yang selalu mengikuti mode, sedangkan suaminya Mas Anto adalah tipe pria pekerja yang kadang selalu lupa waktu dan keluarga. Mas Anto umurnya kira-kira 35 tahun. Mereka berdua belum dikaruniai anak dan di rumah itu hanya tinggal bertiga bersama seorang pembantu yang berusia kira-kira 20 tahun serta seekor anjing Dalmatian peliharaan Mbak Ine. Mas Anto mempunyai perusahaan warisan orang tuanya yang cukup besar dan sukses, sehingga waktunya sering tersita untuk memikirkan perusahaannya daripada memikirkan istrinya yang cantik dan seksi kesepian di rumah yang cukup besar itu. Dia hanya ditemani pembantu dan anjing setianya. Adi sendiri adalah seorang mahasiswa komunikasi jurusan advertising di sebuah fakultas swasta terkenal. Sambil melamun, Adi tiba-tiba ingat tugas fotografinya untuk mengambil obyek outdoor. Segera dia masuk ke kamarnya mengambil kamera dan kembali ke teras depan. Sambil berjalan di taman, dia mencari-cari obyek untuk dijepret, berharap ada kupu-kupu yang hinggap di atas bunga-bunga peliharaan ibunya. Nah, ada seekor kupu-kupu yang hinggap, segera dia pasang aksi seperti fotografer profesional untuk mengambil gambarnya. Baru asik-asiknya motret, Adi dikejutkan oleh sapaan Mbak Ine yang tiba-tiba saja sudah masuk ke dalam taman di rumahnya. "Eeeh.. Dik Adi.. lho.. kok ngga kuliah..? Baru ngapain tuh, motret yah..? Mbok motret Mbak Ine aja yang cantik ini daripada motret kupu-kupu..!" sapa Mbak Ine. "Aduh, saya kirain siapa.. bikin kaget aja Mbak Ine ini.. Anu Mbak, hari ini aku libur, eh.. Mbak Ine mau cari Ibu ya..? Baru ke luar kota tuh Mbak, pulangnya mungkin lusa." jawab Adi. Sekilas Adi melihat dandanan Mbak Ine hari itu, cantik sekali dia dengan kaos you can see-nya yang memperlihatkan lengannya yang putih mulus dan rok mininya di atas lutut memperlihatkan kedua kaki jenjangnya yang berbetis indah dan berpaha putih mulus. Rambutnya yang panjang berwarna agak kemerahan digerai dengan bandana menghiasi kepalanya. Bibirnya yang seksi berwarna merah disapu lipstik merah tipis, pokoknya dahsyat deh dandanan Mbak Ine. "Ahh.. enggak, Mbak cuma mau maen aja, abis bosen sendirian di rumah. Si Suli baru ke pasar, jadi Mbak nggak ada kegiatan apa-apa nih.." "Lho.. Mas Anto apa udah berangkat Mbak..? Biasanya kan jam 10:00 baru ngantor..?" tanya Adi. "Udah, tadi pagi-pagi sekali jam 8:00. Katanya mau meeting sama kliennya di kantor. Paling pulangnya juga baru ntar malem.." jawab Mbak Ine sambil menghela napas panjang. "Dik Adi ngapain motret bunga segala..?" sambung Mbak Ine. "Ini nih Mbak, buat tugas mata kuliah fotografi. Motret obyek outdoor..!" jawab Adi. "Kalau gitu motret Mbak Ine aja, Mbak kan nggak kalah cantik sama model-model cover girl di majalah itu, ya nggak..?" sahut Mbak Ine. "Iya deh, Adi percaya kok kalau Mbak cantik, seksi lagi.. tapi apa Mbak bersedia buat modelku. Kan ini nanti hasilnya untuk didiskusikan di depan kelas, Mbak.." "Kenapa enggak.. siapa tau nanti ada produser atau talent scout atau dosenmu yang tertarik untuk mengontrak Mbak. Kan Mbak jadi terkenal.. hi.. hi.. hi.." canda Mbak Ine. "Ngomong-ngomong kamu bilang tadi, Mbak seksi ya..? Apa bener githu..?" sambil tangan Mbak Ine mencubit pinggang Adi. Adi hanya tersenyum, dan kemudian menarik tangan Mbak Ine untuk mengarahkan gayanya jadi model pemotretan. Setelah 15 frame diambil Adi, sekarang Mbak Ine malah yang aktif merubah sendiri gayanya. Dia tundukkan badannya ke depan sambil tangannya menyangga tubuhnya di bebatuan kolam, rambutnya dibiarkan tergerai ke belakang. Tatapan matanya tajam ke depan menatap kamera, sedangkan bibirnya yang sensual terbuka sedikit. Adi mengambil posisi di depan Mbak Ine, dia terperangah memandang pose Mbak Ine sambil gemetar memegang kamera. Karena dari pose itu terlihat jelas gundukan payudara Mbak Ine yang kenyal dan indah itu menggantung di balik kaos you can see yang berpotongan leher rendah. Melihat keindahan duniawi itu, membuat Adi menelan ludah dan segera mengabadikannya sebanyak 5 frame. Setelah ganti pose, sekarang Mbak Ine duduk di atas bebatuan kolam sambil mengangkangkan kakinya lebar-lebar tapi tangannya diletakkan di depan selangkangannya sehingga menutupi celana dalamnya. Kepalanya dimiringkan sedikit dan bibirnya terbuka, tatapannya sayu seakan mengajak untuk tidur. Disuguhi pemandangan seperti itu, Adi blingsatan sendiri. Paha Mbak Ine yang mulus sekali serta betisnya yang indah, membuat Adi yang penggemar betis indah cewek ini ingin mengelus dan mengecup serta menjilatinya. Celana dalam Mbak Ine yang mengintip nakal berwarna ungu, nampak menggembung indah menggambarkan bukit kemaluannya walaupun sedikit terhalang oleh tangan Mbak Ine. Payudara Mbak Ine yang mengkal berukuran 34B, tampak tercetak jelas dihimpit kaos ketatnya. Tanpa disuruh lagi, si Adi yunior di balik celana pendeknya menggeliat bangun. Setelah beberapa kali mengambil gambar, Mbak Ine melontarkan usul, "Dik Adi gimana kalo kita ganti setting? Ke rumah Mbak aja.. kan nanti bisa di kolam renang segala. Entar Mbak bikinin spagheti kesukaan kamu deh.. gimana..?" Adi terdiam sejenak, kemudian mengangguk setuju. Lalu Adi membereskan kameranya dan mengunci pintu rumah. Selanjutnya Adi mengikuti langkah Mbak Ine dari belakang. Sambil berjalan Adi menatap Mbak Ine yang berjalan di depannya, sungguh seksi sekali wanita ini. Cara berjalannya, lenggak-lenggok pinggulnya, pantatnya yang padat bulat tercetak ketat di rok mininya, paha mulusnya, betis indahnya, ooh, sungguh indah. Ingin rasanya Adi menikmatinya. Setelah masuk di dalam rumah, Mbak Ine mempersilahkan Adi menganggap sebagai rumah sendiri dan meminta Adi menunggu sebentar untuk ganti pakaian. Adi pun duduk di ruang tengah sambil nonton siaran TV kabel yang tidak terdapat di rumahnya. Adi memandang kagum rumah besar yang dihiasi perabotan moderen itu yang menggambarkan kesuksesan bisnis Mas Anto. Siro, anjing Dalmatian Mbak Ine tampak berlari-lari kecil menghampiri Adi dan duduk tenang di sisi kaki Adi. Tidak lama, Suli pembantu Mbak Ine yang sudah pulang dari pasar, membawakan minum untuk Adi. "Monggo lho Mas Adi.. diminum dulu airnya.. saya ke belakang dulu, mau masak." "Ehm.. iya Sul.. makasih yaa.. kamu udah pulang to..?" jawab Adi. Suli ini memang usianya tidak berbeda jauh dengan Adi, dua tahun lebih muda dari Adi. Suli berasal dari Jawa Tengah, manis orangnya, putih kulitnya dan bisa dibilang seksi juga. Kalau diberi nilai, yah.. 6 lah..! Adi sering juga mengintip si Suli ini kalau sedang menyiram taman dengan menggunakan celana pendek yang memamerkan paha mulusnya dan kaos ketat bekas pemberian Mbak Ine yang menampakkan gundukan payudaranya. Benar-benar terlihat masih murni dan belum terjamah lelaki. Tidak lama kemudian, Mbak Ine turun dari kamarnya di lantai atas mengenakan jas kamar dan kemudian menghampiri Adi, lalu duduk di sebelahnya. Mbak Ine kemudian mengobrol sebentar dengan Adi, dan berkeluh kesah serta curhat tentang kesepiannya ditinggal oleh Mas Anto yang super sibuk. Hingga tidak disangka, Mbak Ine tanpa risih pun bercerita tentang kehidupan seksualnya bersama suaminya kepada Adi. Adi pun walaupun segan, tetap berusaha mendengarkan dan menghibur Mbak Ine. Sesekali sambil curhat, Mbak Ine duduk tidak beraturan hingga jas kamarnya tertarik dan tampaklah paha putih mulus yang dihiasi bulu-bulu halus. Adi pun menelan ludah melihat keindahan itu, yuniornya mulai berontak di dalam celananya. Tiba-tiba Mbak Ine seperti tersadar kemudian berkata, "Aduh.. sory ya, Di.. Mbak kok malah jadi curhat. Padahal tadi kita kan mau pemotretan ya..? Ayo deh, kita langsung aja ke kolam renang di belakang," sambil menggeret tangan Adi menuju ke kolam renang. Setelah sampai, Adi pun menyiapkan peralatannya, sementara Mbak Ine melepas jas kamarnya. "Sudah siap Mbak..?" tanya Adi sambil membalikkan badan menatap Mbak Ine. Adi terkesiap melihat Mbak Ine memakai bikini yang hanya menutupi sedikit payudaranya dan secarik celana dalam menutupi kemaluannya hingga bulu-bulu kemaluannya sedikit keluar dari celana yang bisa dibilang hanya seperti secarik kain itu. Kontan yunior Adi pun berteriak, "Merdekaa.." mengacungkan kepalannya, berdiri tegak di dalam celananya sehingga tampak sedikit menggembung bila dilihat dari luar. Mbak Ine yang melihat Adi melongo memandangnya hanya senyam-senyum saja, apalagi ketika Mbak Ine melihat tonjolan di celana Adi akibat kepalan merdeka yunior Adi. "Heh.. Di.. ati-ati, ada lalat masuk mulut kamu ntar.." Mbak Ine menyadarkan Adi. "Ehh.. Ehhmm.. ii.. iiya.. ya.. Mbak.." jawab Adi gelagepan. Mbak Ine sengaja jalan melenggak-lenggok di depan Adi dan kemudian merebahkan diri di sisi kolam renang sambil mengangkangkan kakinya untuk menggoda Adi. Adi hanya bisa melotot menyaksikan tubuh indah Mbak Ine. "Di.. ayo cepetan doong.. dipotret. Kamu tuh kayak nggak pernah liat cewek pake baju renang aja..!" "Iii.. ii.. iiyaa.. iyaa.. Mbak.." sambil tangannya gemetar memegang kamera dan menekan tombol. Akhirnya, setelah satu rol film dihabiskan di kolam renang, Mbak Ine tanpa memakai jas kamarnya lagi, menarik tangan Adi ke dalam lalu dibawanya ke lantai atas masuk ke kamarnya. "Eh.. Mbak mau kemana niih..?" tanya Adi. "Ssst.. udah diem aja, nanti kamu tau sendiri..!" jawab Mbak Ine. Bersambung . . . .


Saturday, August 31, 2013

Malam tahun baru di Kuta - 1

Awek Pantat Panas CantikSetelah lewat beberapa waktu, tahun-tahun telah berlalu, aku teringat akan kisah petualanganku di Bali, yang hanya tinggal kenangan manis dan kapan akan terulang kembali aku tak tahu dan tak mengerti haruskah kisah seperti itu akan datang kembali dengan keadaan yang sudah berubah. Hanya angan-angan dan sisa-sisa kenangan manis yang kini kembali terbayang dalam pelupuk mataku menjelang aku berangkat keperaduanku. Kisah bermula ketika aku masih semester lima disalah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya, pada saat akhir tahun tahun ajaran yang juga merupakan akhir tahun umum, masih teringat aku ketika itu tanggal 29 Desember, salah satu adik kelasku yang bernama Budi yang pada waktu itu masih duduk di semester tiga mengajakku pergi ke Bali untuk menghabiskan liburan semester sambil menikmati pergantian tahun di Bali. Pada waktu itu aku lagi bokek alias lagi nggak punya duit sama sekali, tapi dianya ngotot ngajak aku pergi, katanya, "Nggak apa-apa, pokoknya kita pergi. Kalau mau yaa kita pake gaya mbambung aja biar bisa ngirit duit" "Duitmu berapa sih, terus terang aja aku nggak punya duit banyak" "Gini aja kita berangkatnya ngandol kendaraan umum atawa kereta api barang ke Banyuwangi, terus nyebrang dari Ketapang ke Gilimanuk, terus dilanjutkan dengan kendaraan umum dari Gilimanuk ke Denpasar terus dilanjutkan ke Kuta," katanya. "Ok, kalau itu yang jadi maumu," jawabku sekenanya. Eh ternyata besok sorenya pada tanggal 30 Desember, dia sudah nongol ketempat kostku. "Jadi berangkat apa nggak sih," tanyanya. Aku sendiri masih ragu-ragu karena bekal uangku cukup pas-pasan untuk biaya perjalanan Surabaya-Denpasar dan untuk biaya hidup minimal dua hari dengan syarat makan sederhana sekali. Tapi karena sudah jadi tekatnya, akhirnya kukemasi juga pakaianku secukupnya dan kami berangkat berdua menuju terminal bus. Diterminal bus, entah gimana caranya si Budi negosiasi dengan awak bus jurusan Surabaya-Denpasar, sampai akhirnya kami bedua bisa naik bus dengan hanya membayar satu tiket saja yang berarti kami harus duduk gantian dikursi dan diatas tutup mesin disebelah driver. Sampai sekitar jam 7.00 pagi waktu Bali, tanggal 31 Desember kami sampai diterminal bus Ubung dan kami melanjutkan perjalanan kami menuju pantai Kuta dengan menggunakan angkutan umum yang banyak menawarkan jasa disekitar terminal. Selama dalam perjalanan tidak banyak yang kami bicarakan, mungkin berkecamuk dengan pikiran masing-masing, karena selama hidup baru kali ini perjalanan jauhku yang tidak terasa nyaman dan tenang karena bekal yang pas-pasan itu. Seharian itu aku habiskan waktuku dipantai Kuta dengan berjalan-jalan menyusuri pantai. Sedangkan Budi entah kemana aku nggak tahu, mungkin aja dia sedang menggodain cewek bule karena memang dia itu orangnya straight. Akan tetapi dia juga nggak tahu diriku yang sebenarnya sehingga aku cuekin aja dia dengan segala aktivitasnya. Langkah demi langkah membawa diriku makin menjauhi dimana Budi sedang ngrumpi sama cewek Perancis, sedangkan aku tak tahu arah tujuan sampai mendekati Legian, dan kudengar satu suara menyapa dan kulihat sekelilingku tapi tak ada seorangpun, yang ada hanya aku dan seorang bule yang usianya jauh diatasku sedang sendirian dan melambaikan tangannya padaku. "Hai," katanya. "Are you alone," tanyanya. "Yes," kujawab sekenanya. "I need Indonesian boy for my friend today," katanya lagi. "You like it?" "Yes I like" jawabku. "You free," lanjutnya lagi. "Ok, I free," kataku lagi. "Only just fun?" tanyanya lagi. "Sure," jawabku. Saat itu juga aku diajaknya kekamar ditempat dia menginap yang tidak jauh dari pantai itu, sesampai didalam kamarnya aku dipersilahkan untuk mencuci kakiku yang penuh dengan pasir dan sekalian mandi untuk menyegarkan badanku karena mulai dari pagi sampai siang ini badanku belum tersentuh air dan ketika ada kesempatan emas datang mengapa tidak kumanfaatkan sebaik-baiknya. Ketika sedang enak-enaknya aku membersihkan diriku kudengar pintu kamar mandi diketuk dari luar dan ketika kubuka si bule sudah berdiri di depan pintu dengan telanjang bulat. "I want shower with you," katanya. Tanpa ba-bi-bu dia langsung masuk dan mengguyur badannya dengan air pancuran yang ada didinding kamar mandi, kemudian dia minta tolong padaku untuk menyabun punggungnya, badannya, kakinya dan kemudian dia minta untuk menyabun penisnya yang gedenya bukan main walaupun belum tegang sambil kusabun dan kukocok. Akhirnya penisnya mulai menggeliat bangun dan yaa ampun pajangnya sekitar 22 cm dan gede segenggaman tanganku, kemudian dia memintaku untuk mengulum penisnya yang gede itu sampai rasanya mulut ini tak muat untuk menampung penisnya itu. Tapi semuanya kulakukan karena memang aku juga menginginkan akan hal-hal baru yaitu ingin bermain dengan bule itu gimana sih rasanya. Saling mengisap dan saling mengocok terjadi di kamar mandi sampai akhirnya dia memintaku untuk mengeringkan tubuh dengan handuk dan kembali ketempat tidurnya dan mulai saling menghisap dengan posisi 69. Sampai akhirnya dia ngecrot duluan dan banyaknya pejuh minta ampun, tertumpah diatas perutnya. Ketika itu aku pengin memasukin lobang pantatnya dengan penisku, akan tetapi dianya nggak mau. "Your cream for me" "I want taste your cream" "I'am sorry," katanya lagi. Kuturuti kemauannya dengan kembali memasukkan penisku ke dalam mulutnya dan kugoyangkan masuk keluar dimulutnya, akan tetapi sudah cukup lama belum juga ada tanda-tanda aku segera ngecrot karena memang sangat sulit sekali bagiku kalau hanya mengandalkan dihisap saja. Sampai akhirnya dia kewalahan kemudian dia segera mengocok penisku dengan tangannya dan ketika aku mau ngecrot, cepat-cepat dia memasukkan penisku ke dalam mulutnya dan crot croott croot pejuhku keluar semua sampai tuntas didalam mulutnya. Akupun segera memakai pakaianku kembali dan bersiap-siap untuk kembali ketempat dimana Budi berada, karena memang aku nggak berniat untuk menerima imbalan sesuatu dari si bule itu, akan tetapi tanpa kuduga sebelumnya, si bule yang aku tak tahu namanya itu mencegahku untuk pergi secepat itu meninggalkan dia yang masih dalam keadaan telentang diatas tempat tidurnya. Kemudian dia segera bangun dan membersihkan dirinya lalu dia segera memakai pakaiannya kembali dan segera dia membuka almarinya diambil dompetnya dan diberikannya kepadaku beberapa lembar uang dollar. Pada mulanya aku menolak karena memang aku tidak menginginkan itu sesuai dengan perjanjian pada awalnya. Tapi dia tetap memaksaku untuk menerima pemberiannya, karena aku tidak ingin mengecewakannya maka kuterima lembaran dollar yang diberikannya itu. "Thank you for your cream" "Thank you for your service" "Thank you, thank a lot," katanya. Aku diam saja dan segera kutinggalkan dia sambil melambaikan tanganku, aku segera berlari menyusuri pantai Kuta untuk menuju ketempat Budi berada, ternyata dia masih tetap ngrumpi dengan cewek Perancis tadi dan masih tetap ditempat yang sama ketika kutinggalkan tadi. "Dari mana aja sih kamu ini?" tanyanya. "Biasa, dari jalan-jalan sampai kedaerah Legian," jawabku, tanpa harus menceritakan pengalaman yang baru saja kunikmati. Karena memang aku nggak berniat ngrumpi dengan cewek, maka Budi segera kutinggalkan kembali ke arah yang berbeda karena kulihat dia makin asyik dengan sicewek bule itu. Akhirnya sampailah aku ke seorang penjual bakso, kemudian aku membeli baksonya sambil ngobrol sana sini dengan si penjual bakso itu, ternyata dia datang dari daerah Banyuwangi, karena sore itu cuaca agak mendung sehingga pantai Kuta kelihatan agak sepi, atau mungkin semua turis yang ada disitu pada tidur semua untuk persiapan malam tahun baru, aku nggak tahu. Tapi suasana sore itu cukup mendukung untuk mengadakan pendekatan pada sipenjual bakso yang masih muda dan kelihatan kekar itu, akhirnya setelah aku selesai makan bakso, dan terus ngobrol dengannya karena memang tidak ada pembeli lagi karena mendung makin gelap sampai akhirnya turun hujan rintik-rintik halus, karena jauh dari tempat berteduh maka akhirnya kami berdua menuju kesemak-semak yang ada disekitar pantai itu sambil meinggalkan rombong baksonya yang dibiarkan begitu saja ditengah-tengah pasir dipantai Kuta. Karena semak-semak itu sempit dan kami saling berdempetan, maka mulailah tangan nakalku bergerilya untuk mulai mengetahui isinya yang sedari tadi membuatku penasaran itu, mula-mula kupegang pahanya sambil kuelus-elus, dia diam saja dan tanpa reaksi maka segera tanganku menuju penisnya yang masih tertidur segera kuremas-remas dan kupijit dan mulailah mengeliat bangun dengan makin tegangnya dan tanpa kuduga sebelumnya dia malah merebahkan dirinya disemak-semak itu sehingga makin memudahkan aku untuk mengenggamnya penisnya yang sudah keras itu dan makin mudah pula aku membuka celana jeansnya itu dan segera kukeluarkan penisnya yang berwarna hitam dan tidak segede penis bule tadi tapi cukup oke juga kalau aku bermain-main dengan penisnya, kemudian mulai kukulum penisnya dan dia mengerang kenikmatan sambil mulutnya meracau. "Ayyoo, terus, teerruuss" "Yaa, eennaakk" "Eeehhmm, tteerruuss" Waktu berjalan beberapa saat, dan puncak kenikmatan yang kuinginkan belum tercapai, tiba-tiba kudengar suara motor datang mendekati tempat kami berdua, maka segera dia mengancingkan kembali celananya dan aku segera mengambil sikap duduk lagi, dan ternyata ada seorang anak yang sebaya denganku tiba-tiba menerobos masuk kesemak-semak itu dengan maksud ikut berteduh, maka buyarlah sudah acara menghisap penis tadi, yang ada hanya saling memandang antara aku dan si penjual bakso tadi, ada rasa penyesalan dan kecewa karena tidak bisa mencapai kepuasan. Setelah hujan agak reda, dia segera menghampiri rombong baksonya dan mulai berjalan keliling lagi dan akupun juga menuju ketempat dimana Budi berada, dan kulihat dia masih tetap ngrumpi dengan cewek bule tadi akan tetapi tempatnya sudah bergeser menuju ketempat yang lebih terlindung dari siraman air hujan, didekat semak-semak yang ada dipantai itu. Kudekati Budi dan aku mengajaknya untuk mencari tempat berteduh dan tempat menginap karena hari telah mulai gelap disamping suasana mendung juga matahari mulai bergeser ke arah barat. Akhirnya kuhampiri kembali si penjual bakso dan aku mengutarakan kalau pengin mandi ditempat mondoknya dia, dan diapun tidak keberatan untuk memberikan tumpangan untuk sekedar mandi akan tetapi dia keberatan kalau memberikan tumpangan untuk menginap, karena ditempatnya mondok tidak ditempatinya sendiri akan tetapi banyak penjual bakso yang semuanya mondok disitu, ada kurang lebih tujuh atau delapan orang. Akupun menyetujuinya, dan kamipun berjalan melalui lorong-lorong yang sempit untuk menuju ketempat pemondokannya, setelah sampai aku dan Budi segera menuju kekamar mandi yang sederhana sekali dan tanpa basa-basi aku segera melepaskan seluruh pakaianku demikian halnya dengan Budi, walaupun Budi sudah telanjang bulat dihadapanku, akan tetapi tidak ada keinginanku untuk menggodai Budi, atau untuk memegang penisnya, dan akupun juga tidak ada nafsu untuk mengerjainya, karena aku tahu siapa Budi dan aku juga nggak mau Budi tahu siapa aku sebenarnya. Setelah selesai mandi aku dan Budi segera mengenakan pakaian yang bersih dan kami segera berpamitan dengan si penjual bakso yang kukenal itu, segera kami lalui lorong-lorong sempit itu kembali untuk menuju ke arah pantai Kuta untuk sekedar mencari makanan untuk mengisi perut. Setelah kami makan bersama aku segera mencari tempat untuk duduk sambil menikmati deburan ombak dipantai Kuta yang tiada henti-hentinya, sedangkan aku nggak tahu Budi sudah berjalan-jalan kemana saja, karena memang kami sudah sepakat tidak ingin mengganggu kenikmatan masing-masing dalam perjalanan kali ini. Sehingga kemana dia pergi tidak ada yang tahu mau kemana asal nanti bertemu ditempat yang telah kami sepakati. Malam kian larut dan hujanpun sudah mulai reda sejak petang tadi, sehingga jalan-jalan mulai ramai dengan orang yang berlalu-lalang ingin menikmati suasana malam tahun baru, aku sudah begitu lelah sehingga aku mengambil tempat dikerumunan anak-anak muda di depan sebuah toko, dan ternyata mereka juga sama kayak kami yaitu ingin menikmati suasana malam tahun baru, akan tetapi tidak punya cukup banyak uang, kelihatannya mereka pergi dengan sekelompok besar, ternyata setelah aku ikut bergabung dengan mereka ternyata ada yang datang sendirian dan juga ada yang datang berdua dan juga bertiga jadi kami merasa senasib sehingga walaupun baru saja saling mengenal kelihatannya sudah begitu akrab, saling berbagi cerita dan pengalaman dan diselingi canda dan tawa sehingga membuat waktu cepat berlalu tanpa terasa sudah menunjukkan pukul 23.00 waktu Bali. Tiba-tiba Budi datang menghampiriku, memang sejak sore tadi aku sudah merasa lelah sehingga aku nggak mengikuti kemana dia pergi. "Ayo, ikut aku," katanya. "Aku dapet kenalan orang bule, sedangkan bahasa inggrisku nggak lancar," lanjutnya. "Kamu aja yang ngajak dia ngomong," tambahnya lagi. Dengan ogah-ogahan akhirnya aku bangun dari dudukku dan dengan berat hati aku meninggalkan kawan-kawan senasib yang baru kukenal, pergi meninggalkan mereka mengikuti langkah Budi yang ada di depanku menuju ke arah pantai Kuta. Setelah sampai didekat pantai maka oleh Budi aku diperkenalkan dengan seorang bule yang umurnya lebih tua dari aku. "Steve, he is my friend Adi," kata Budi pada bule itu. "How do you do?'" katanya. "How do you do," balasku. Setelah berbasa-basi sejenak, sambil ngobrol ditepi pantai, menayakan identitas masing-masing maka kuketahui bahwa dia masih berumur 27 tahun, karena cambang diwajahnya begitu lebat maka dia kelihatan lebih tua dari usianya yang sebenarnya. Kami bertiga cepat menjadi akrab, hanya Budi saja yang jarang sekali berbicara karena memang bahasa inggrisnya dia masih kurang fasih dan masih amburadul sehingga akulah yang banyak mengambil peran untuk terus mengobrol dengan Steve si bule itu. Sampai tak terasa pergantian tahun tinggal beberapa detik lagi yang ditandai dengan adanya kembang api beraneka warna warni diudara dan orang-orang disekitar pantai pada menghitung sambil melihat jam mereka masing-masing.. Lima.. Empat.. Tiga.. Dua.. Satuu happy new year, kata mereka serentak. Bersambung . . . .


Tuesday, June 18, 2013

Antara Jakarta dan Bandung 1

Awek Pantat Panas CantikLaki-laki brengsek!, Merry mengumpat seraya menekan pedal gas Cielonya dalam-dalam. Ia saja melewati pintu tol menuju Bandung, tapi pikirannya masih mengingat kejadian siang tadi ketika ia melihat Rendy, tunangannya sedang menyuapkan sesendok makanan ke seorang wanita di sebuah cafe. Ketika Merry mendekati mereka wajah Rendy langsung pucat dan tergagap-gagap ia menjelaskan yang diyakini oleh Merry tidak ada satupun yang bisa dipercaya.
Oleh karena itu, ia memutuskan untuk berakhir pekan ke Bandung. Melupakan kekesalan hatinya. Ia langsung berangkat sepulang kerja, setelah mengepak keperluan secukupnya untuk berakhir pekan, Merry langsung berangkat menuju rumahnya yang ada di pinggiran kota Bandung.
Setelah beberapa saat keluar dari pintu tol, dan hari sudah gelap, sekitar pukul 8 malam. Tiba-tiba mesin mobilnya berbunyi aneh. Dan tanpa disangka-sangka asap mengepul dari kap depan mobilnya menutupi dan mesin mobilnya langsung terbatuk-batuk dan berhenti. Dengan sisa-sisa tenaga, mobil itu berhasil dkemudikan ke pinggir jalan oleh Merry yang kebingungan dan panik melihat asap yang mengepul dari depan.
Merry masih berusaha untuk menyalakan lagi mesin mobilnya, tapi sia-sia. "Shit!" Merry keluar dari mobil dan menemukan dirinya ada di pinggir jalan yang gelap, sumber cahaya hanya dari bulan purnama yang sedang bersinar. Hampir tidak ada mobil yang lewat, sedangkan tidak ada tanda-tanda di sekitar situ ada rumah penduduk.

Sunday, June 16, 2013

6 kunci sukses mencapai kenikmatan dalam bercinta

Awek Pantat Panas CantikHubungan Seks yang sejati bukanlah sekedar hubungan fisik, melainkan merupakan penyatuan tubuh, jiwa dan pikiran. Kehidupan seks yang memadai dan sehat akan membuat tubuh seimbang. Sebaliknya jika gairah seks menurun, berarti fisuk anda sudah lelah atauanda sedang stres.

Kegiatan seksual merupakan kebutuhan pokok hidup yang harus mendapatkan tempat utama bagi mereka yang sudah resmi menjadi pasangan suami-istri. Sebab tanpa seks kehidupan akan berjalan hampa dan kering.

Friday, June 14, 2013

Hadiah bagi pahlawan - 1

Awek Pantat Panas CantikSaya berasal dari Tasikmalaya dan sudah 2 tahun menempuh kuliah di Jakarta. Di sini aku tinggal di sebuah rumah kost yang dihuni banyak mahasiswa perantauan sepertiku. Kisah ini bermula ketika aku sedang berbelanja ke sebuah mall di Jakarta. Aku tidak sendirian, tapi bersama 2 gadis teman kostku, mereka adalah Diana dan Sinta. Keduanya cantik dan sama-sama warga keturunan sepertiku. Diana adalah seniorku semester akhir, sama-sama jurusan manajemen denganku, sifatnya pendiam, banyak yang mengatakan dia judes karena jarang tersenyum, karena sifat tertutupnya inilah temannya cuma sedikit, tapi kalau sudah akrab ternyata orangnya baik dan menyenangkan. Dia sering membantuku dalam tugas-tugas kuliah. Hubungan kami seperti kakak adik, orangnya putih cantik, tinggi, rambut panjang, wajah oval dan bodinya ideal, kalau dilihat-lihat mirip dengan Vivian Hsu, sedangkan Sinta seangkatan denganku tapi dari fakultas psikologi, pacarnya adalah salah satu temanku yang sedang belajar di luar negeri, sifatnya periang dan humoris, kadang-kadang suka bercanda kelewatan, tingginya skitar 160 cm, bodinya langsing, berambut lurus sebahu, wajahnya putih licin dengan hidung mancung, dia dan aku termasuk beberapa dari segelintir orang yang dekat dengan Diana.

Malam itu langit sudah gelap kira-kira jam 19:00, kami sudah selesai berbelanja dan sedang menuju tempat parkir bertingkat. Tempat itu sudah sepi dan gelap karena aku kebetulan parkir di tingkat agak atas jadi jarang ada kendaraan. Suasana di sana cukup menyeramkan hanya diterangi lampu remang-remang. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh 2 orang preman berpenampilan sangar yang menghadang jalan kami.

Friday, May 17, 2013

Murid dan Guru - Hadiah istimewa - 3

Awek Pantat Panas CantikDebby sangat menyukai usapan-usapan telapak tangan Theo. Usapan-sapan itu mengurangi dinginnya terpaan angin malam. Bahkan kehangatan pun mulai terasa menjalar di bagian bawah perutnya ketika ia merasakan lidah Theo merayap mendekati lipatan antara paha dalam dan vaginanya. Ia merintih ketika bibir lelaki yang suka 'mimik' pipisnya itu menariki bulu-bulu halus di sekitar bibir vaginanya. Bulu-bulu itu masih terlalu pendek, masih sepanjang bulu alis mata sehingga bibir itu selalu gagal menariknya. Hal itu malah membuat vaginanya semakin basah. Setelah mengencangkan lilitan kimono agar belahan di bagian dadanya tidak terbuka, kedua lengannya segera jatuh di atas kepala lelaki itu. Ia menginginkan lidah hangat itu membelah bibir vaginanya.

"Theo, mimik dulu dong lendirnya," kata gadis itu sambil membuka bibir vaginanya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Sejenak, Theo menghentikan ciuman-ciumannya. Ia menengadah sambil tersenyum, tak lama kemudian, ia kembali menciumi paha kiri gadis itu. Sengaja tidak diturutinya keinginan gadis itu.
"Theo, jahat!" kata gadis itu sambil menarik kepala Theo ke arah pangkal pahanya. Kedua tangannya menahan agar kepala itu tetap berada di pangkal pahanya. Dan ketika ia merasakan kehangatan lidah menyusup ke dalam vaginanya, ia merintih..

Monday, April 15, 2013

Daftar Cerita - Lainnya 04

Awek Pantat Panas Cantik301. Gara-gara ditilang polwan - 1
302. Gara-gara ditilang polwan - 2
303. Hanya sebatas petting
304. Ilmu pelet tingkat tinggi - 1

Monday, March 4, 2013

Persahabatan tiga ABG gay - 16

Awek Pantat Panas CantikMeskipun di kolam renang tadi, Tomi sudah dua kali mengalami orgasme dan ejakulasi, tetapi pada orgasmenya yang ketiga dalam tempo 2,5 jam itu tetap terjadi ejakulasi yang dahsyat berupa semburan air mani yang mencapai 9 kali tanpa henti. Dan semua semburan air mani itu ditelah hingga tuntas dan bersih oleh Johan yang benar-benar menikmati gurih dan segarnya air mani hangat milik Tomi. Begitu habis air maninya disemburkan ke mulut Johan, tubuh Tomi langsung ambruk tertelungkup lemas di samping tubuh mulus Johan. Akibatnya, kontol Iwan yang sebelumnya tertancap erat dan amblas seluruhnya ke dalam anus Tomi, langsung tercabut begitu saja. Kontol yang sedang ngaceng keras itu langsung melejit berdiri mengacung bebas di atas wajah Johan yang sedang terkapar terengah-engah karena kelelahan setelah menghisap habis-habisan batang penis milik Tomi. Tomi sendiri langsung terkulai lemas dengan nafas terengah-engah tapi wajahnya tetap dihiasi senyuman manisnya yang menandakan ia benar-benar telah mencapai puncak kepuasan yang terhebat yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Sementara itu, Johan dan Iwan juga tampak bernafas terengah-engah dengan wajah yang memerah karena menahan gejolak birahi yang belum terpuaskan. Johan sempat hendak menyambar kontol Iwan yang teracung di hadapan wajahnya, untuk segera mengulum dan menghisapnya sampai memancarkan air mani lagi. Tapi keinginannya itu dicegah oleh Johan. "Lho kenapa Wan, kok aku gak boleh ngisap kontolmu? Kita kan sudah sepakat bebas melakukan apa saja di antara kita bertiga" rajuk Johan manja sambil mengelus-elus dua buah zakar Iwan. "Tenang Jo, nanti pasti kamu dapatkan giliranmu menghisap kontolku sampai kamu puas. Tapi sekarang kan kontolku ini sudah kotor, belepotan pelicin KY, masa kamu masih mau menghisapnya? Kan rasanya KY itu tidak enak" ujar Iwan menjelaskan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. "Wah benar juga kamu Wan..aku memang belum pengalaman soal seperti ini" ujar Johan sambil segera menyambar mulut seksi Iwan untuk kembali memberikan ciuman-ciuman maut. Sementara mereka berciuman dengan ganas, Tomi tampak senyum-senyum melihat tingkah dua pacarnya yang sedang dimabuk nafsu birahi yang belum tuntas tersalurkan. Setelah nafasnya normal, dan rasa lemas mulai berkurang setelah digenjot dan dihisap habis-habisan oleh Iwan dan Johan, Tomi pun mulai beraksi kembali. Perlahan ia menggeserkan badannya menuju arah selangkangan Johan di mana terdapat kontol Johan yang tampak sedikit lemas karena sempat tidak mendapat rangsangan seks lagi. Dengan mudah, Tomi segera mendapatkan kontol yang menyusut menjadi tinggal 14,5 cm dan kemudian segera mengulumnya lagi. Johan yang sedang asik melakukan French kiss dengan Iwan, tidak menolak perlakuan Tomi terhadap kontolnya. Bahkan Johan sangat menikmati hisapan dan kuluman mulut Tomi pada batang penisnya. Akibatnya, dengan cepat, batang penis Johan segera ereksi lagi hingga sekeras batang kayu jati. Segera saja, hisapan dan kuluman mulut Tomi itu kembali menghadirkan sejuta kenikmatan pada diri Johan, sampai membuat Johan kembali mendesah dan mengerang erotis sebagai reaksi atas sentuhan penuh nikmat yang terjadi melalui batang kemaluannya. "Akh.. oh.. ternyata kamu memang hebat Tom udah ngecrot masih juga kuat ngisap kontolku" ujar Johan, sambil menghentikan ciuman ganasnya pada mulut Iwan yang semakin terengah-engah menahan gejolak birahinya. Iwan tampak senang menyaksikan adegan Tomi mengisap batang penis milik Johan, sementara tangan kanan Tomi sibuk mengocok kontol Iwan. "Jo, kamu pasti ingin menikmati enaknya anal seks kan?" tanya Iwan sambil memberikan kecupan mesra pada bibir Johan. "Tentu saja aku sangat menginginkannya. Kalau tidak, untuk apa kita bertiga ada di sini sekarang" jawab Johan dengan cepat sambil tak kalah mesra memberikan ciuman balasan kepada Iwan. "Kalau begitu sekarang giliranmu melakukan anal seks padaku Jo. Kamu mau kan Jo? Aku benar-benar ingin merasakan kehadiran dirimu yang menyatu dengan diriku melalui anal seks" ujar Iwan masih dengan mesra dan tatapan sayu yang mencerminkan nafsu birahinya sudah memuncak hingga ke ubun-ubun. "Kamu mau aku memasukkan kontolku ke pantatmu sekarang Wan? Tentu saja aku mau sekali. Sudah lama aku memimpikan peristiwa seperti ini. Sekarang aku sudah siap melakukannya untukmu, sayangku" ujar Johan sambil kembali memberikan ciumannya untuk Iwan. Mendengar jawaban Johan, Iwan segera mengubah posisinya, menjadi terlentang dan kemudian mengangkat kedua kakinya dalam posisi menganggkang. Posisi itu dengan jelas memperlihatkan rekahan pantat seksi Iwan. Dan Johan semakin bernafsu ketika matanya menatap lubang sempit dan gelap tepat di tengah-tengah rekahan pantat itu. Anus Iwan yang selama ini hanya pernah dimasuki kemaluan Tomi, tampak terkatup rapat, dengan bibirnya yang memerah segar. Iwan sengaja menggerak-gerakkan otot anusnya, sehingga bibir anusnya tampak bergerak kembang kempis, seolah menantang kejantanan batang penis Johan untuk segera menikmati kehangatan dan remasan lembut otot-otot anusnya. "Wah.. Wan, ternyata anusmu sungguh menggairahkan aku gak sabar lagi nih" ujar Johan sembari berlutut tepat di depan selangkangan Iwan, sehingga ujung kontolnya menempel tepat di bibir Iwan. "Iya.. Jo, aku juga tidak sabar lagi merasakan sodokan kontolmu. Ayo Jo, masukkan cepat, jangan ragu lagi. Aku udah pasrah nih" balas Iwan. Kemudian dengan bantuan Tomi, kontol Johan yang semakin ngaceng itu segera disaput oleh pelicin KY. Sejenak tangan kanan Tomi mengocok-ngocok kontol Johan untuk meratakan sapuan pelicin KY ke sekujur batang penis Johan, terutama bagian kepala kontolnya yang sangat besar itu. Tomi tampak dengan gemas mengocok-ngocok kontol itu untuk beberapa saat sampai Johan kembali mendesah-desah penuh nikmat. Setelah merasa kontol itu telah dibaluri pelicin KY dengan rata, jemari Tomi segera mengolesi bibir dan permukaan rongga anus Iwan dengan pelicin yang tersisa di jemarinya. Dengan mudah jari telunjuk Tomi menyusup ke dalam anus Iwan, sehingga menghadirkan sensasi kenikmatan bagi Iwan. Setelah jari telunjuknya lancar keluar masuk anus itu, Tomi juga segera menyusupkan jari tengahnya ke anus itu hingga dua jarinya habis terbenam dalam anus hangat Iwan. Iwan makin menggelinjang dan menggeliat keenakan ketika dua jari Tomi menggelitik serta memijit-mijit dinding lorong anusnya untuk beberapa saat, sampai penis Iwan meneteskan banyak pre cum. Puas melemaskan otot-otot anus Iwan, Tomi segera menarik keluar dua jarinya dari anus itu. Ketika jari itu telah tercabut, maka tampaklah anus Iwan yang menganga kemerahan, sebagai pertanda bahwa anus itu telah siap menerima penetrasi dari kontol Johan. Johan yang sudah tak sabar lagi, segera menempelkan kepala penisnya yang sudah licin oleh pelicin KY dan bercampur dengan pre cum bening. Karena belum pengalaman melakukan anal sex, beberapa kali Johan gagal memasukkan kepala penisnya ke dalam mulut anus Iwan. Selain itu kepala kontolnya yang bulat dan besar seperti jamur merang, membuatnya makin kesulitan melakukan penetrasi. Beruntung, ada Tomi yang dengan setia membantu Johan mengatasi kesulitannya. Tangan kanan Tomi tampak menggenggam kontol Johan dan membantu mengarahkannya ke mulut anus Iwan, sehingga kepala penis itu tidak lagi tergelincir. Sedangkan kedua tangan Johan tampak menahan kaki Iwan yang mengangkang lebar ke atas. Berkat kesabaran mereka, akhirnya kepala penis Johan berhasil menyusup ke dalam mulut anus Iwan. Tapi, begitu kepala penis itu berhasil masuk semuanya ke dalam mulut anus Iwan, tiba-tiba Iwan menjerit lirih sambil meringis. Dengan wajah memerah dan peluh mulai membasahi keningnya, Iwan tampak merasa kesakitan. "Akh.. aduh ah nyeri Jo, perih rasanya Jo" jerit lirih Iwan yang memang merasakan sakit, nyeri, dan ngilu pada anusnya. Dengan cepat, Johan berusaha menarik keluar lagi kepala penisnya dari jepitan otot anus Iwan. Johan tidak tega menyaksikan Iwan yang tampak kesakitan seperti itu. Tetapi sebelum ia berhasil menarik keluar kepala penisnya, tangan Tomi segera mencegah gerakan kontol itu. "Biarkan saja begitu Jo, diamkan saja dulu sebentar sampai otot-otot anus Iwan rileks semuanya" ujar Tomi mengajari Johan dengan penuh kesabaran. "I.. i.. iya Jo. Biarkan saja begitu sebentar. Nanti juga sakitnya hilang sendiri" ujar Iwan terbata-bata. "Kok kamu masih merasa sakit sih Wan? Kan kontol Tomi udah sering masuk ke pantatmu" ujar Johan merasa kebingungan dengan tatapan bersalah. "Abis kepala kontolmu besar banget sih Jo" jawab Tomi. "Iya Jo kepala kontolmu besar sekali, jauh lebih besar dari kontol Tomi dan dan kontolku sendiri. Sampai rasanya pantatku ini sobek. Berdarah nggak Tom?" ujar Iwan dengan nada khawatir. "Tenang Wan, nggak berdarah kok. Kan anus kamu udah gak perawan lagi" ujar Tomi sambil tersenyum geli melihat tingkah dua kekasihnya itu. Johan baru menyadari bahwa kepala penisnya memang memiliki ukuran yang tidak normal. Kepala penisnya itu tampak membulat dan membesar melebihi besarnya lingkar batang penisnya. Ia pun segera melirik ke kontol Tomi yang sudah ngaceng lagi. Tampaklah perbedaan kepala penis Tomi dengan miliknya. Kepala penis Tomi ternyata tidak membulat pada bagian ujungnya, tetapi meruncing dan kemudian sedikit membesar ke arah leher kepala penis sehingga seperti membentuk kerucut. Kemudian Johan membandingkan kepala penis Tomi dengan milik Iwan. Meskipun penis Iwan tampak setengah lemas karena konsentrasi Iwan tidak tertuju pada penisnya melainkan pada anusnya, tetapi, Johan masih bisa melihat bahwa bentuk kepala penis Iwan ternyata berbeda dengan dengan miliknya maupun milik Tomi. Kepala penis Iwan ternyata berbentuk standar, dengan ujung yang membulat tapi tidak membesar dan kemudian merata hingga ke leher penis dengan ukuran besar yang rata dengan batang penisnya. Sehingga penis Iwan sepintas tampak seperti batang sapu yang lurus dengan dihiasi tonjolan urat-urat dan pembuluh darah. Ketika Johan sedang asik membanding-bandingkan ukuran dan bentuk kepala penisnya dengan milik dua kekasihnya, tiba-tiba Iwan mengingatkann, "Ayo Jo, sudah ngga terasa sakit lagi sekarang. Teruskan, masukkan semua kontolmu hingga habis" ujar Iwan sambil menghela nafas panjang. Mendengar perintah Iwan itu, Johan pun mulai melanjutkan menekankan batang penisnya ke arah anus Iwan. Pelan tapi pasti, penis Johan mulai menyusup dengan lancar menembus kegelapan dan merasakan kehangatan rongga anus Iwan. Sementara penis Johan bergeser pelan memasuki rongga anusnya, mulut Iwan tidak hentinya mendesis dan mendesah berkepanjangan. Setiap centimeter kontol itu bergerak masuk, maka desahan dan desisan dari mulut Iwan terdengar semakin keras dan semakin erotis. Iwan tiba-tiba mendesah keras diselingi erangan panjang ketika ia merasakan kepala penis Johan menyentuh dan menekan prostatnya. Padahal ketika itu, baru tiga perempat bagian batang kemaluan Johan yang telah memasuki rongga anusnya. Bersambung . . . . .


Monday, February 25, 2013

Pacarku penari striptease - 2

Awek Pantat Panas CantikSekarang tanganku mulai bergerak kebawah, kubuka kancing celana jeans pendeknya, resluitingnya dan kumasukkan tanganku ke dalam celananya. Terasa di tanganku bulu-bulu lebat keriting dan kasar itu. Kutempelkan jari tengahku ke lipatan empuk yang hangat itu. Yah itu memeknya. Belum pernah aku meraba memeknya, dan baru kali ini aku menyentuhnya, bahkan aku ingin lebih dari itu. Kugerakkan ujung jariku sehingga sedikit terselip ke dalam belahan itu. Basah dan hangat.

"Jangan Jim..", desahnya sambil menahan tanganku dengan tangannya.
Aku tahu dia masih cukup sadar untuik mempertahankan dirinya. Entah kenapa aku tidak marah ataupun kesal lagi padanya, namun perasaan itu berganti jadi rasa ingin menyetubuhinya saat itu juga di dalam mobil Ndut teman kuliahku.

Thursday, February 21, 2013

Saudara tiri - 1

Awek Pantat Panas CantikSebelum aku cerita, kenalkan dulu namaku Ben. Ceritaku ini dimulai, waktu aku SMA kelas 3, waktu itu aku baru sebulan tinggal sama ayah tiriku. Ibu menikah dengan orang ini karena karena tidak tahan hidup menjanda lama-lama. Yang aku tidak sangka-sangka ternyata ayah tiriku punya 2 anak cewek yang keren dan seksi habis, yang satu sekolahnya sama denganku, namanya Lusi dan yang satunya lagi sudah kuliah, namanya Riri. Si Lusi cocok sekali kalau dijadikan bintang iklan obat pembentuk tubuh, nah kalau si Riri paling cocok untuk iklan BH sama suplemen payudara.

Sejak pertama aku tinggal, aku selalu berangan-angan bahwa dapat memiliki mereka, tapi angan-angan itu selalu buyar oleh berbagai hal. Dan siang ini kebetulan tidak ada orang di rumah selain aku dengan Lusi, ini juga aku sedang kecapaian karena baru pulang sekolah. "Lus! entar kalau ada perlu sama aku, aku ada di kamar," teriakku dari kamar. Aku mulai menyalakan komputerku dan karena aku sedang suntuk, aku mulai dech surfing ke situs-situs porno kesayanganku, tapi enggak lama kemudian Lusi masuk ke kamar sambil bawa buku, kelihatannya dia mau tanya pelajaran. "Ben, kemaren kamu udah nyatet Biologi belom, aku pinjem dong!" katanya dengan suara manja. Tanpa memperdulikan komputerku yang sedang memutar film BF via internet, aku mengambilkan dia buku di rak bukuku yang jaraknya lumayan jauh dengan komputerku.

Wednesday, February 13, 2013

Sensasi seks keroyokan

Awek Pantat Panas CantikGara-gara terjebak nafsu untuk berselingkuh, malah membuatku ketagihan. Dulu aku puas ngeseks hanya dengan satu pria. Sekarang, aku lebih puas dengan ngeseks ramai-ramai. Bukan lagi dengan satu pria tentunya, melainkan lima pria sekaligus, aku baru puas.

Aku seorang wanita berumur 30 tahun, ibu dari dua orang anak. Tentunya statusku nikah dengan seorang suami. Kami telah terikat perkawinan selama tujuh tahun. Aku nikah setelah berhasil meraih gelar kesarjanaanku di kota Bandung.

Thursday, February 7, 2013

Hanya cinta sesaat - 2

Awek Pantat Panas CantikAkupun berhenti menjilatnya, lagian leherku juga sakit dengan posisiku yang tengkurap sambil menjilat vaginanya. Sambil berdiri, kulihat penisku masih berdiri dengan gagahnya. Kupikir, kalau aku memasukkan batangku ke vagina Eryani, pasti dia akan terbangun dan mungkin akan mengusirku, itu sama saja dengan memperkosa, jadi terpaksa aku keluarin di kamar mandi. Aku keluar sampai tiga kali di kamar mandi, kalau aku bayangkan enaknya vagina Eryani dan kalau saja aku bisa memasukkan penisku di dalam lubangnya yang hangat.

Setelah itu, peniskupun tidur kecapean, tidur di lantai yang beralaskan karpet. Ternyata, aku tidak bisa terlelap tidur, jam 5.00 pagi aku terbangun, dan susah untuk tidur kembali. Kulihat Eryani masih terlelap di tempat tidur. Kuhampiri dia, dan kutatap wajahnya yang polos tanpa make up itu. Wajahnya terlihat cantik ketika tidur. Kukecup pipinya mesra. Dia masih tetap terlelap. Kukecup bibirnya yang agak tebal. Lembut sekali. Kuisap-isap lembut bibirnya, seperti aku mengisap-isap sebuah permen yang kenyal. Birahiku mulai timbul lagi. Sambil terus memainku bibirnya di bibirku, tanganku mulai merayap ke arah payudaranya, kuremas-remas payudara yang padat namun lembut dan kenyal itu. Gila benar nih, aku sudah terangsang sekali. Ingin aku mengulangi perbuatanku tadi malam.

Saturday, February 2, 2013

Mbak Titis aduhai - 2

Awek Pantat Panas CantikSesampai di dalam rumah aku tidak menemukan siapa pun. Dimana Mbak Titis, pikirku. Kulangkahkan kakiku ke ruang tengah. Kosong juga. Wah, di mana nih. Perlahan aku berjalan ke dapur sambil berharap cemas. Kalo udah pada tidur ya aku pulang aja. Sampai aku dikejuntukan oleh sepasang tangan yang melingkar dipinggangku dari belakang.
"malam ini temenin Mbak ya", terdengar bisikan di telingaku.
Tanpa basa-basi aku segera memutar tubuhku dan di depanku telah berdiri Mbak Titis dengan paras yang sangat cantik. Wajah Mbak Titis persis di depanku. Hidungku nyaris bersentuhan dengan hidung Mbak Titis. Terasa hangat di wajahku ketika Mbak Titis menghembuskan nafas. Aku benar-benar dibuat terpesona.
Mbak Titis sudah berganti pakaian dengan kimono warna pink. Matanya sayu menatapku. Entah keberanian dari mana yang mendorong wajahku sehingga bibirku mengecup lembut bibir Mbak Titis. Tidak ada perlawanan dari Mbak Titis. Bibirku terus bermain di bibir Mbak Titis beberapa lama. Kurasakan tangan Mbak Titis meremas lembut kemejaku. Aku mencoba melingkarkan tanganku di punggung Mbak Titis. Kuusap perlahan punggungnya sambil terus memainkan bibirku. Lidahku mulai menerobos masuk ke dalam mulut Mbak Titis. Bibir Mbak Titis lembut sekali, wangi dan itu membuatku semakin bernapsu.

Wednesday, January 23, 2013

Tubuh montok Tante Deborah - 1

Awek Pantat Panas CantikSenin pagi itu, tak biasanya Deborah datang pagi-pagi sekali ke tokonya di jalan B, daerah selatan stasiun kereta api di kota YK. Saat itu ia mengenakan blouse hijau tanpa lengan yang sangat ketat di tubuhnya yang putih montok. Rambut ikalnya yang panjang bercat kemerahan diikatkannya ke atas, memperlihatkan tengkuknya yang putih seksi. Rupanya pagi itu, ia memang orang pertama yang datang ke tokonya. Pegawai-pegawainya biasanya baru datang pukul 8 pagi. Setelah membuka pintu toko mainannya, ia langsung menuju meja kasir dan menghitung laba perolehan hari sebelumnya, sambil menunggu para pegawainya datang 1 jam lagi.

Deborah adalah seorang wanita keturunan tionghoa, yang sudah cukup berumur. Akan tetapi, walaupun usianya sudah kepala 4, tetapi perawakannya masih mengundang air liur lelaki yang memandangnya. Tubuhnya yang montok selalu mengundang lirikan lelaki dan memancing fantasi liar untuk dapat menindihnya. Belum lagi bila memandang buah dadanya yang putih montok itu, setiap lelaki pasti ingin meremas gemas dam memelintir lembut putingnya. Di usianya itupun, wajahnya masih menunjukkan garis-garis kecantikan, serta sorot matanya yang sayu tetapi tajam, menandakan kebinalannya di atas tempat tidur.

Wednesday, January 16, 2013

Nakal di kampung nelayan - 3

Awek Pantat Panas Cantik"Akak sedih.. Akak frust.." Kak Zizah bersuara. Ayatnya itu membuatkan N berasa tak keruan.
"Naper sedih? Naper frust kak?" tanya N bersahaja memegang dan memilin tangan Kak Zizah yang lembut. Kak Zizah membiarkan tangannya diramas-ramas dan dicium oleh N. Dia suka. Dia berasa dia dibelai dan dimanja dan dia diapresiasi.
"Akak sudah janda N, akak sudah jadi balu. Akak yang muda ni masi belum puas bersuami kini sudah ditinggalkan" katanya dalam nada yang sayu dan serak-serak basah.
"Sabar kak, akak masih muda.. Ada peluang lagi nak bersuami.." balas N yang memebelai dan mengusuk-ngusuk telapak tangan Kak Zizah.

Thursday, January 10, 2013

Cyberlove story - 1

Awek Pantat Panas CantikTeknologi mempengaruhi perilaku manusia tak bisa dibantah. Perkembangan teknologi jaringan yang begitu pesat memungkinkan orang melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhannya hanya dengan sentuhan ujung jari di kamar masing-masing tanpa terjebak traffic jam. Ngobrol, berbelanja, berkiriman dokumen, cari informasi apapun, semuanya dapat dilakukan tanpa beranjak dari rumah. Bahkan sebentar lagi orang tak memerlukan office space yang mahal itu. Seluruh aktivitas bisnis dapat dilakukan dan dikendalikan dari rumah. Boss tak pernah bertatap muka langsung dengan staff-nya merupakan hal yang biasa. Tak apa-apa, yang penting urusan beres. Demikian pula untuk satu urusan yang universal dimiliki manusia penghuni planet biru ini, urusan cinta. Orang jatuh cinta tak lagi hanya dari pandangan pertama, tapi bisa dimulai dari sentuhan ujung jari pada keyboard. Cyber Love, demikian julukannya. Seperti kisah cinta di dunia nyata, percintaan di alam mayapun tak selalu diakhiri dengan happy ending, malahan lebih banyak unhappy-nya, paling tidak seperti yang pernah kualami. Dua kali Aku terlibat cinta cyber dan dua-duanya berakhir dengan unhappy. Inilah yang hendak Aku ceritakan kepada Anda sekalian pecinta Rumah Seks yang budiman! Anda yang tak tertarik dengan perselingkuhan yang berakhir unhappy jangan dilanjutkan membacanya, cukup sampai disini saja. Juga bagi Anda yang tak suka kisah-kisah kegagalan. Aku memang tak secanggih para penggemar Rumah Seks lainnya yang begitu mudah mendapatkan cewek idealnya. Begitu mudah menggaet cewek dengan gambaran tubuh yang "wah" dan amat mudah juga mengajaknya ML. Beginilah Anda biasanya menggambarkan fisik yang "wah" itu: Langsing dan tinggi nyaris dua meter, kulit putih mulus licin bak salju sehingga lalatpun gagal hinggap di tubuhnya, terpeleset --walaupun belum tentu pernah melihat salju--, buah dada kenyal bulat sebesar kepala bayi, pinggang ramping kayak bambu, paha bulat mirip batang pohon pinang dengan liang vagina sekecil lidi.. pendek kata, seperti Sophia Latjuba atau Tamara Blezinsky-lah (gimanapun ejaannya). Aku tak secanggih itu, pembaca. Cewek teman selingkuhku tak secantik kedua selebritis itu. Tinggi "cuman" 163 (tidak 2 meter), kulit kuning langsat (bukan putih), bra ukuran 34 (bukan bukan dibalik jadi 43), pinggang cukup membentuk gitar (nggak sekecil bambu) dan "kewanitaan" yang sedikit sesak untuk ukuran penisku yang rata-rata orang melayu. Dan untuk berlanjut sampai ke ranjang pun tak semudah seperti yang biasa Anda lakukan: begitu ketemu, kenalan terus langsung jilat-jilat vagina dan tancepan. Prosesku lumayan panjang dan dengan intensitas hubungan yang naik-turun, tak selalu lancar. Aku, pria 28 tahun, sudah berkeluarga, anak satu, kerja di perusahaan swasta di Jakarta. "Ketemu" pertama kali dengan Alia (begitu saja kusebut namanya) di mailing list group yang mengkhususkan diskusi tentang politik Indonesia. Di antara belantara lalu-lintas diskusi itu suatu saat pada topik tertentu Aku dan Alia saling dukung pendapat (topik apa dan gimana saling dukungnya tak relevan bila kutulis di sini). Maka kulayangkan sebuah mail lewat japri-nya. Isi mail masih lanjutan topik tadi dan kuakhiri dengan keinginan untuk kenal lebih dekat. Perkenalanku mendapat respons positif dan mulailah kami saling berkirim mail sampai "melupakan" forum mailing-list dan jadi jarang posting. Pada tahap saling membuka identitas masing-masing kusebutkan statusku dengan sebenarnya. Alia sedang kuliah di jurusan Sospol Universitas di kotanya Makassar semester VI. Asli dari Manado tapi kelahiran Makassar. Statusnya sedang berpacaran dengan mahasiswa dari jurusan lain yang berasal dari daerah yang sama, sejak tahun pertama kuliah. Perbincangan lewat mail tak lagi tentang politik, tapi lebih soal-soal pribadi. Misalnya dia dengan terbuka menceritakan telah menyerahkan segalanya kepada pacarnya itu. Dia sudah tak gadis lagi sejak setengah tahun sebelum bertemu aku lewat dunia maya. Dia juga bercerita tentang aktivitas seks-nya dengan pacarnya serta perasaan-perasaannya. Termasuk pengakuannya bahwa dia hanya berhubungan seks dengan satu pria saja, yaitu pacarnya itu. Juga dia selalu menceritakan masalah yang dia alami dalam berpacaran. Semacam curhat. Komunikasi diantara kami tak hanya lewat mail saja, tapi juga chatting. "Witing tresno jalaran soko kulino" begitu pepatah Jawa yang artinya kurang lebih awal cinta datang karena dekatnya bergaul. Itulah yang sedang kualami. Hubungan kami begitu dekatnya sehingga diam-diam timbul sesuatu di dalam hati yang tak kami perkirakan sebelumnya. Ada sesuatu yang hilang rasanya bila sehari saja tak membaca mailnya. Ketika Aku bilang ke Alia tentang perasaan ini, ternyata dia mengalami hal yang sama. Singkatnya, kami saling jatuh cinta walaupun masing-masing telah punya pasangan tetap. Kami juga berjanji, saling berusaha mencari peluang untuk bertemu secara fisik. ---------- "Elo tahu engga kantor Departemen Anu," tulisnya pada suatu siang kami chatting. "Tahu. Kenapa?" jawabku. "Gue ada rencana kuliah lapangan ke situ." Nah! akhirnya peluang buat ketemu Alia datang juga. Jangan gembira dulu, kataku dalam hati. "Oh ya? Kapan? Sama siapa?" tulisku memberondong. "He he.. satu-satu dong, semangat banget." "Semangat dong, kan kita bisa ketemu." "Pengin ketemu, gitu?" "Ah elo, kaya engga tahu aja. Pengin banget, tahu. Kapan nih?" Alia sebutkan tanggal yang artinya 2 minggu lagi. "Sama temen-temen 10 orang, plus 2 orang dosen," katanya lagi. Saat ketemu inilah yang Aku tunggu-tunggu. Oh, aku mencintainya. "Nginap di mana?" "Di Mess Yayasan Anu." "Nggak nginap ama gue aja?" "Enak aja, engga boleh dong, musti ngumpul."Bagus, nggak boleh bukan berarti tak mau. Saat bermalam bersama ini pula yang kudambakan. Tak sekedar melepas rindu memuaskan hasrat cinta, tapi juga hasrat yang lain. "Iya ngerti musti ngumpul, tapi sesekali boleh dong minta izin nginap di rumah famili, gitu." Alia diam. "Emang bisa nginap di rumah elo?" katanya setelah beberapa saat hening. Betapa polosnya dia. Tak mungkin Aku masukin cewek ke rumah, bisa-bisa terjadi perang rumah tangga. "Entar gue booking kamar." Langsung, boo.. "Ih, elo. Udah biasa gitu ya?" "Bukan begitu," sahutku cepat-cepat. "Alia, elo tahu kan, gue pengin banget ketemu. Kesempatan ketemu yang amat langka ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya.." "Kenapa musti di hotel?" Iya, kenapa ya? Bingung jawabnya. "Yah, supaya kita bisa kangen-kangenan, ngobrol, bebas dari gangguan." Diam. Sejurus kemudian. "Entarlah. Gimana nanti aja." Bukankah ini semacam sinyal setuju? Tibalah saat yang amat kunantikan. Alia dan rombongan akan tiba Minggu sore di Jakarta. Dia berjanji akan meneleponku ke kantor begitu dia punya peluang yang aman. Akupun mulai melakukan persiapan untuk menyambut kedatangannya. Pertama, persiapan waktu. Aku harus cari akal supaya bisa kabur dari rumah sekitar seminggu. Dari beberapa alternatif alasan dan memperhitungkan resikonya, Aku memilih alasan "dinas luar ke Semarang". Kedua, persiapan tempat. Aku memilih Hotel "AM" di Kebayoran Baru walaupun room rate-nya lumayan mahal, tapi dekat dengan tempat Alia kerja dan juga Mess-nya. Dan jauh dari rumah, supaya lebih aman. ---------- Obrolan kami makin seru setelah masa "ice-breaking" tak lama dilalui. Kami sempat saling salah tingkah pada menit-menit pertama Alia masuk ke kamar hotel. Alia begitu bersemangat cerita tentang kegiatannya selama praktek kerja lapangan di instansi pemerintah itu. Aku tak begitu memperhatikan ceritanya. Perhatianku terpusat pada gerak gesture dia bercerita dan sesekali melempar pandangan ke bawah, ke sepasang kaki mulusnya dan sedikit paha yang tak tertutup oleh rok span-nya. Tapi konsentrasi pikiranku sebenarnya adalah, bagaimana "strategi" untuk memindahkan Alia dari tempat duduknya sekarang ke kasur yang kududuki, bagaimana cara memulainya. Memang, memulai adalah hal yang paling sulit. "Aneh ya gue.." katanya tiba-tiba. Dia baru menyadari mataku sering mampir ke kakinya. Aku sedikit gugup. "Emang kalo ke kantor gue mesti pakaian begini?" sambungnya. "Nggak ah, justru gue seneng loe pakai seragam." "Oh iya? Kenapa?" "Lebih feminim." "Emang gue maskulin ya?" "Bukan begitu. Gue emang lebih suka ngeliat cewek pakai rok dibanding pake celana panjang, apalagi.." "Apalagi apa?" "Kalo nggak pakai apa-apa." "Huh, dasar." "Sorry." Aku khawatir kalau dia tak suka gurauanku yang menjurus ini. Mukanya bersemu merah. Apakah ini saat memulai? Ayo Sam, bangkit dan dekati dia. 'Bangkit' sih sudah, yang di dalam celanaku, dekatinya ragu-ragu. Kenapa ragu? Dia sudah mau masuk kamar dengan pintu tertutup, apakah ini bukan suatu tanda? Iya, tapi kan duduk di kursi dan dia asyik cerita pengalamannya. Siapa tahu dia menunggu action kamu? Umm.. tapi masa tiba-tiba "nyerang", begitu. Nggak dong, gunakan cara seperti pengalaman kamu sebelumnya! Dia duduknya "jauh" sih. Okay, Aku ke kamar mandi pura-pura mau pipis supaya bisa pindah duduk. Nah, sudah duduk di kursi, tapi masih ada penghalangnya, ada meja bundar di antara kami. "Terus nanti selesai job training di situ, ngapain?" pancingku memulai obrolan. "Tulis laporan. Kan kerja sambil kumpulin data." Nah, mulailah dia bercerita lagi tentang job trainingnya, penuh semangat. Aku terus menatapi gerak bibirnya yang menggemaskan itu. "Eh, ngapain sih, ngeliatinnya gitu?" "Gitu kenapa?" "Tajem." "Seneng aja ngliatinnya." "Ngliatin apaan?" "Bibir kamu." "Kenapa, dower?" "Eh, nggak. Bibir kamu seksi." Telapak tanganku mampir di bahunya. Alia menunduk tapi tak menepis tanganku. Kuremas bahunya pelan. Masih menunduk. Dengan tangan masih di bahunya Aku bangkit mendekat, kedua tanganku di bahu kanan-kirinya. "Alia.." Dia masih menunduk. Wajahnya bersemu merah lagi. Kusentuhkan jariku di dagunya, mengangkat. Barulah matanya menatapku. Kepalaku bergerak pelan mendekati wajahnya, bibirnya kukecup. Sekali kecupan lalu kulepas lagi. Tak ada tanda-tanda penolakan. Serangan kedua pada bibirnya tak sekedar kecupan lagi tapi diikuti dengan lumatan. Pada detik kedua bibir Alia memberikan reaksi, lumatanku disambutnya. Nafasnya mulai memburu. Tangan kananku yang ada di bahunya perlahan bergeser turun. Telapak tanganku memberi sinyal bahwa buah yang tak begitu besar itu keras dan membulat, ternyata. Tentu saja tanganku tak puas hanya merasakan kekenyalan dadanya dari luar, ingin menyentuh kulitnya langsung. Dua kancing bajunya yang teratas telah kulepas dan detik berikutnya keempat jariku mulai menyusup ke balik bra Alia. Detik-detik berikutnya akan lancar saja, pikirku. Tapi ternyata tidak. Tangan Alia menarik tanganku yang baru saja merasakan halusnya kulit buah kenyal itu dan lumatanku pun dilepas. Alia menggeleng lembut sambil menyodorkan mulutnya lagi. Kulumat lagi. Dadanya tak boleh disentuh. Mungkin belum saatnya, aku harus bersabar. Ciuman dengan posisi begini tak nyaman juga. Kutarik tubuhnya, kubimbing ke kasur dan kurebahkan. Tak ada penolakan, aman. Bahkan Alia membentangkan kakinya. Dengan sendirinya kedua belah telapak tanganku segera menelusuri kedua pahanya, menyusup di balik roknya. Oops, lagi-lagi Alia menepis tanganku. Kenapa sih dia? Main tarik-ulur? Tanganku ditariknya sehingga tubuhku rebah menindihnya. Kami berciuman lagi. Bukan Sammy kalau tak mencoba dan mencoba lagi. Sambil terus melumat bibir tangan kananku menyusup lagi ke bawah menelusuri lengkungan pinggir pinggulnya. Tak ada gerakan perlawanan. Bahkan ketika tanganku berhasil mencapai kain celana dalam di pinggir pinggulnya. Bahkan ketika menarik karet celana dalamnya ke bawah tak ada juga perlawanan. Lebih jauh lagi, ketika telapak tanganku merasakan lebatnya bulu-bulu kewanitaannya. Bulu lebat itu tak mengagetkanku, lengannya memang ditumbuhi bulu lumayan lebat, apalagi "pusat"nya. Aku kaget karena Alia tak menolakku merabai kewanitaannya. Basah berlendir. Aku jadi penasaran ingin menikmati "pemandangan" di bawah sana. Aku bangkit dan menyingkap roknya. Alia memang unpredictable, tiba-tiba dia mencegah tanganku yang membuka roknya. Bingung gue. Yang membuatku makin bingung, Alia melepas kaitan ikat pinggangku, melepas kancing jeansku, menarik ritsnya dan karet celana dalamku dan merabai Juniorku sudah tak betah terkurung tegang. Aku seperti orang tolol yang hanya diam saja menyaksikan Alia mengelusi batang penisku. Bingung. Waktu kedua tanganku menyusupi pahanya, dia menolak. Tapi tak bereaksi sewaktu aku menarik celana dalamnya dan merabai kelaminnya. Aku yakin, dia bukannya tak tahu apa keinginanku saat ini, ingin menyetubuhinya. Tersirat dalam mail-mailnya dia tak menolak ketika aku "minta" kelak kalau ada kesempatan bertemu. Tubuh bawahku sudah telanjang, penisku sudah tegang mengacung. Tentunya dia makfum akan "langkah selanjutnya". Alia masih berpakaian lengkap, kecuali celana dalamnya yang sedikit bergeser ke bawah tapi masih nempel di pahanya. Gerakan Alia berikutnya lagi-lagi membuatku bingung. Tangannya berhenti mengelusi kelaminku lalu Alia bangkit berdiri. Selagi aku bengong mencoba mengerti tingkahnya ini, tiba-tiba kedua tangan Alia membuat gerakan cepat melepas celana dalamnya! Lalu, lagi-lagi dia menarik tubuhku hingga rebah menindih tubuhnya. Dengan gemas kugigiti kedua buah dadanya berganti-ganti kanan dan kiri. Tak langsung ke kulitnya sih, masih ada penghalang baju dan bra-nya. Apa boleh buat, memang hanya itu yang diizinkan. Beberapa kali aku berusaha membuka pakaian atasnya, dia selalu menolak. Aku tak tahan lagi, ingin segera memasuki tubuhnya. Dengkulku membuka pahanya dan penisku merengsek masuk mencapai selangkangannya. Kugeser-geser, kugosok-gosok, dan.. perlahan namun pasti, aku mulai masuk. Tak mudah memang, tapi tak susah benar. Aku tak kaget kalau dia sudah tak perawan lagi. Alia pernah cerita miliknya yang paling berharga telah diserahkan kepada pacarnya yang sekarang. "Itulah satu-satunya penis yang pernah kulihat dan memasuki tubuhku," tulisnya ketika itu. "Jadi nanti, punyaku yang kedua," balasku. "Iya, kalau jadi." Bersambung . . . .


Tuesday, January 8, 2013

Mojang Bandung

Awek Pantat Panas CantikBeberapa tahun lalu ketika perusahaan tempatku bekerja mendapatkan kontrak suatu proyek pada sebuah BUMN besar di Bandung, selama setahun aku ngantor di gedung megah kantor pusat BUMN itu. Fasilitas di gedung kantor ini lengkap. Ada beberapa bank, kantor pos dan kantin. Kantorku di lantai 3, di lantai 1 gedung ini terdapat sebuah toko milik koperasi pegawai BUMN ini yang menyediakan kebutuhan sehari-hari, mirip swalayan kecil. Ada 3 orang pegawai koperasi yang melayani toko ini, 2 diantaranya cewek. Seorang sudah berkeluarga, satu lagi single, 22 tahun, lumayan cantik, putih dan mulus, mungil, sebut saja Sari namanya.

Awalnya, aku tak ada niat "mengganggu" Sari, aku ke toko ini karena memang butuh makanan kecil dan rokok. Sari menarik perhatianku karena paha mulusnya "diobral". Roknya selalu model mini dan cara duduknya sembarangan. CD-nya sempat terlihat ketika ia jongkok mengambil dagangan yang terletak di bagian bawah rak kaca etalase. Aku jadi punya niat mengganggunya (dan tentu saja ingin menyetubuhinya) setelah tahu bahwa Sari ternyata genit dan omongannya "nyrempet-nyrempet". Niatku makin menggebu setelah Sari tak menunjukkan kemarahan ketika beberapa kali aku menjamah paha mulusnya dan bahkan sekali aku pernah meremas buah dadanya. Paling-paling ia hanya menepis tanganku sambil matanya jelalatan khawatir ada orang yang melihatnya. Tentu ini ada "ongkosnya", yaitu aku tak pernah minta uang kembalian.

Sunday, January 6, 2013

Perjalanan bisnisku - 3

Awek Pantat Panas CantikAku beranjak duduk disofa. Sambil memperhatikan mereka yang ada di kamar kaca, yang asyik berpacu dengan kenikmatan. Tapi suaranya tidak terdengar. Yang ribut suara disini saja. Ada laki laki yang jalan sambil memegang kontolnya, ada yang memasukkan kontol buatan ke memeknya, ada yang saling kocok, macam tingkah lakunya. Di belakangku ada pasangan yang sedang saling menikmati.. Rupanya tidak di kaca saja mereka saling menikmati..

Ditempat nonton ini jadi ajang yang lebih nikmat.. Bisa berciuman, berpelukan sesukanya. Saling pegang pada semua yang ada disini.. Bisa milih kontol besar. Hatiku menghayal lagi.. Dan terangsang lagi. Tiba tiba aku disapa dari belakang.

Saturday, January 5, 2013

Isteri Sojar - Haslima

Awek Pantat Panas CantikHati Lina hanya tinggal sebahagian sahaja. Ada orang yang tidak pernah memulangkannya, walaupun Lina hanya pinjamkan sekejap. Ada yang pulangkan dengan penuh kelukaan. Ada yang sudi berikan sebahagian hatinya pula sebagai ganti. Dan jika nak tahu, setiap hati manusia ada nilai yang tersendiri.

Sekali hati terluka, kadangkala sukar untuk mengubati-nya. Ada kalanya, mengambil masa yang lama. Bila tiba sesuatu yang tidak diingini, mungkin pemilik hati itu akan menyendiri sehingga hatinya pulih semula. Hati yang diberi ini bukan untuk suka-suka. Ianya lahir atas satu kepercayaan. Dari situ, wujudlah rasa kasih sayang. Jika hilang rasa percaya itu, maka sukarlah untuk hati itu kem-bali indah.