"Namanya 'ANU Message', di jalan Otista, berseberangan dengan Pasar Baru, tarifnya seratusan sejam," katanya.
"Bagus engga cewenya?" tanyaku.
"Loe tahu kan selera gue? Pokoknya engga nyesel."
k
Karena kelelahanku yang sangat menguasai seluruh jaringan tubuhku, aku benar-benar mampu tertidur dengan pulas dan tenang. Entah sudah berapa lama aku tertidur pulas, yang jelas saat kubangun udara dingin segera menyergapku. Sial. Aku sadar, ini di desa dekat Merapi, tentu saja dingin. Tidak berapa lama jam dinding berdentang lima sampai enam kali. Jam enam pagi..! Dengan agak malas aku beranjak berdiri, tetapi tidak kulihat Tante Yus ada di kamar ini. Sepi dan kosong. Dimana dia..? Aku terus mencoba ingin tahu. Dalam keadaan bugil ini, aku melangkah mendekati meja lampu. Secarik kertas kutemukan dengan tulisan dari tangan Tante Yustina.
Kapan seks kilat muncul? Yahhh, saat berduaan dong. Dimulai dari iseng-iseng, lalu mendapat tanggapan, kemudian muncullah hasrat yang membara. Menurut Dr. Bambang Sukamto DMSH, iseng-iseng itulah yang menjadi media pemanasan yang intensif. Menurutnya, kegiatan semacam ini disenangi sebagian perempuan.
Sepanjang tahun 2001 hingga 2002 kami melakukan banyak hal. Apapun kami kerjakan berdua. Kedekatan kami seperti kedekatan sepasang kekasih. Sangat melekat. Aku tahu sidat dan karakternya, suasana hatinya. Diapun demikian. Dimana ada aku, di situ ada dia. Juga sebaliknya. Jika orang ingin cari aku, maka yang ditanya adalah Alex. Kalau orang ingin cari Alex, maka yang ditanya adalah aku. Setiap pagi malah saling membangunkan lewat telepon. Kami pernah mandi bersama namun tidak pernah melakukan hubungan seks karena kutahu ia straight.. Hanya saling memperhatikan saja. Itupun aku berusaha untuk tidak ereksi.