k Cerita Awek: Cerita Berahi
Showing posts with label Cerita Berahi. Show all posts
Showing posts with label Cerita Berahi. Show all posts

Friday, December 13, 2013

Malapetaka KKN - Nafsu sekretraris desa - 1

Awek Pantat Panas CantikDiantara rombongan itu, Alya adalah gadis yang paling pendiam. Sifatnya itu membuat dirinya terlihat begitu anggun dan berwibawa, tanpa terkesan angkuh. Padahal kalau mau jadi angkuhpun orang menganggap hal itu tidak terlalu berlebihan kerena Alya punya semua hal yang bisa dibanggakan. Alya adalah anak seorang pengusaha kaya, selain itu dia sendiri juga sangat cantik dan menawan. Wajahnya yang bulat telur ditambah hidungnya yang mancung menegaskan kecantikannya yang tidak kalah jika dibandingkan dengan artis sinetron atau fotomodel. Yang paling disukai dari diri Alya adalah matanya yang sangat bening dan bercahaya dan giginya yang gingsul di sebelah kiri yang jika tersenyum akan menampakkan deretan gigi yang seputih mutiara. Rambutnya yang hitam legam dimodel shaggy sebatas pungung, bisanya selalu dibiarkan tergerai.
Sore itu, Alya terlihat segar setelah mandi. Tubuhnya yang langsing tapi padat setinggi 167 cm terlihat seksi terbalut baju berleher rendah lengan panjang warna biru muda. Kakinya yang sekal terbalut celana jins ketat biru.
Rapi amat, tegur salah satu teman pria satu pondokannya. Mau pergi ke mana?
Alya menoleh sesaat menatap temannya.

Friday, November 22, 2013

Herry, teganya kau

Awek Pantat Panas CantikSaya ingin menceritakan pengalaman seks saya 8 tahun yang lalu, sekarang saya sudah berumur 22 tahun. Cerita ini mengenai mengapa saya kehilangan perawan saya untuk pertama kali. Semenjak itu, saya menjadi kesal dengan semua laki-laki tapi bukan berarti saya menjadi lesbi. Saya bukan lesbi tapi saya juga tidak mau mengenal laki-laki. Tidak tahu lagi apa itu namanya.

Saya adalah cewek yang lumayan cantik karena saya memiliki hidung yang mancung dengan mata yang kecil dan lentik. Payudara saya cukup besar untuk cewek berumur 14 tahun saat itu. Saya tidak mempunyai pacar karena saya ingin belajar giat supaya saya bisa bersekolah di Philadelphia, United States setelah saya lulus SMA nanti. Saya memiliki kakak laki-laki yang usianya 2 tahun di atas saya. Namanya adalah Herry Susanto (Nama belakangnya bukan nama keluarga saya karena nama belakangnya adalah karangan saya saja). Dia satu sekolah dengan saya sehingga tiap hari Herry selalu menemani saya di sekolah. Saya tidak pernah berpikir kenapa dia sampai melakukan perbuatan maksiat itu terhadap saya apalagi saya adalah adik perempuannya satu-satunya.

Tuesday, November 12, 2013

Rosi dan Tantenya

Awek Pantat Panas CantikRosi, sebut saja demikian, sudah beberapa bulan kami saling berbagi kebutuhan biologis. Rosi adalah wanita berusia 22 tahun dengan tinggi 160-170 cm, dan dengan dada yg tak terlalu besar tetapi mengkal kira-kira 34, kulit putih, dengan wajah mirip wanita cina, jadi agak sipit.

Hubungan kami berawal pada sebuah pesta kawanku, aku kenalan dengannya dan menjadi akrab dengannya bahkan aku menawarkan tumpangan untuk mengantarkannya pulang, untung aku bawa helm cadangan. Kami berdua pulang, karena dia bosan untuk berada disana dia ditinggal oleh temannya. Rosi membonceng motorku, dia ngga keberatan dengan itu. Malam itu cukup dingin, kupinjamkan jaketku untuk menutupi tubuhnya yang hanya memakai kaos putih itu dan celana jeans biru. Bagiku Rosi sungguh sexy malam itu, dia memakai kaos putih tanpa lengan, dan bra hitam yang semakin menunjukkan kemolekkan tubuhnya. Dan rambut panjangnya yang terawat dibiarkan tergerai.

Friday, November 8, 2013

Selir-selir sang prabu - 2

Awek Pantat Panas CantikTernyata tangan itu adalah tangan kanan Gayatri. Dia membelai payudara kanan Linggasuri sambil menjilati leher Linggasuri. Linggasuri bereaksi dengan tangan kanannya yang membelai vagina Gayatri. Dan dibalas Gayatri dengan remasan tangan kanannya pada payudara kanan Linggasuri.

Linggasuri kemudian membalikkan tubuhnya sambil tangan kanannya tetap membelai vagina Gayatri. Diciumnya juga bibir Gayatri. Gayatri lalu membalikkan tubuh Linggasuri. Jari tengah tangan kanannya masuk ke vagina Linggasuri dari belakang dan dikocoknya vagina Linggasuri. Linggasuri sendiri menarik-narik lembut anting yang ditindikkan ke kedua puting payudaranya. Dia lalu membalikkan tubuhnya dan mulutnya langsung menghisap payudara kiri Gayatri.

Saturday, August 31, 2013

Malam tahun baru di Kuta - 1

Awek Pantat Panas CantikSetelah lewat beberapa waktu, tahun-tahun telah berlalu, aku teringat akan kisah petualanganku di Bali, yang hanya tinggal kenangan manis dan kapan akan terulang kembali aku tak tahu dan tak mengerti haruskah kisah seperti itu akan datang kembali dengan keadaan yang sudah berubah. Hanya angan-angan dan sisa-sisa kenangan manis yang kini kembali terbayang dalam pelupuk mataku menjelang aku berangkat keperaduanku. Kisah bermula ketika aku masih semester lima disalah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya, pada saat akhir tahun tahun ajaran yang juga merupakan akhir tahun umum, masih teringat aku ketika itu tanggal 29 Desember, salah satu adik kelasku yang bernama Budi yang pada waktu itu masih duduk di semester tiga mengajakku pergi ke Bali untuk menghabiskan liburan semester sambil menikmati pergantian tahun di Bali. Pada waktu itu aku lagi bokek alias lagi nggak punya duit sama sekali, tapi dianya ngotot ngajak aku pergi, katanya, "Nggak apa-apa, pokoknya kita pergi. Kalau mau yaa kita pake gaya mbambung aja biar bisa ngirit duit" "Duitmu berapa sih, terus terang aja aku nggak punya duit banyak" "Gini aja kita berangkatnya ngandol kendaraan umum atawa kereta api barang ke Banyuwangi, terus nyebrang dari Ketapang ke Gilimanuk, terus dilanjutkan dengan kendaraan umum dari Gilimanuk ke Denpasar terus dilanjutkan ke Kuta," katanya. "Ok, kalau itu yang jadi maumu," jawabku sekenanya. Eh ternyata besok sorenya pada tanggal 30 Desember, dia sudah nongol ketempat kostku. "Jadi berangkat apa nggak sih," tanyanya. Aku sendiri masih ragu-ragu karena bekal uangku cukup pas-pasan untuk biaya perjalanan Surabaya-Denpasar dan untuk biaya hidup minimal dua hari dengan syarat makan sederhana sekali. Tapi karena sudah jadi tekatnya, akhirnya kukemasi juga pakaianku secukupnya dan kami berangkat berdua menuju terminal bus. Diterminal bus, entah gimana caranya si Budi negosiasi dengan awak bus jurusan Surabaya-Denpasar, sampai akhirnya kami bedua bisa naik bus dengan hanya membayar satu tiket saja yang berarti kami harus duduk gantian dikursi dan diatas tutup mesin disebelah driver. Sampai sekitar jam 7.00 pagi waktu Bali, tanggal 31 Desember kami sampai diterminal bus Ubung dan kami melanjutkan perjalanan kami menuju pantai Kuta dengan menggunakan angkutan umum yang banyak menawarkan jasa disekitar terminal. Selama dalam perjalanan tidak banyak yang kami bicarakan, mungkin berkecamuk dengan pikiran masing-masing, karena selama hidup baru kali ini perjalanan jauhku yang tidak terasa nyaman dan tenang karena bekal yang pas-pasan itu. Seharian itu aku habiskan waktuku dipantai Kuta dengan berjalan-jalan menyusuri pantai. Sedangkan Budi entah kemana aku nggak tahu, mungkin aja dia sedang menggodain cewek bule karena memang dia itu orangnya straight. Akan tetapi dia juga nggak tahu diriku yang sebenarnya sehingga aku cuekin aja dia dengan segala aktivitasnya. Langkah demi langkah membawa diriku makin menjauhi dimana Budi sedang ngrumpi sama cewek Perancis, sedangkan aku tak tahu arah tujuan sampai mendekati Legian, dan kudengar satu suara menyapa dan kulihat sekelilingku tapi tak ada seorangpun, yang ada hanya aku dan seorang bule yang usianya jauh diatasku sedang sendirian dan melambaikan tangannya padaku. "Hai," katanya. "Are you alone," tanyanya. "Yes," kujawab sekenanya. "I need Indonesian boy for my friend today," katanya lagi. "You like it?" "Yes I like" jawabku. "You free," lanjutnya lagi. "Ok, I free," kataku lagi. "Only just fun?" tanyanya lagi. "Sure," jawabku. Saat itu juga aku diajaknya kekamar ditempat dia menginap yang tidak jauh dari pantai itu, sesampai didalam kamarnya aku dipersilahkan untuk mencuci kakiku yang penuh dengan pasir dan sekalian mandi untuk menyegarkan badanku karena mulai dari pagi sampai siang ini badanku belum tersentuh air dan ketika ada kesempatan emas datang mengapa tidak kumanfaatkan sebaik-baiknya. Ketika sedang enak-enaknya aku membersihkan diriku kudengar pintu kamar mandi diketuk dari luar dan ketika kubuka si bule sudah berdiri di depan pintu dengan telanjang bulat. "I want shower with you," katanya. Tanpa ba-bi-bu dia langsung masuk dan mengguyur badannya dengan air pancuran yang ada didinding kamar mandi, kemudian dia minta tolong padaku untuk menyabun punggungnya, badannya, kakinya dan kemudian dia minta untuk menyabun penisnya yang gedenya bukan main walaupun belum tegang sambil kusabun dan kukocok. Akhirnya penisnya mulai menggeliat bangun dan yaa ampun pajangnya sekitar 22 cm dan gede segenggaman tanganku, kemudian dia memintaku untuk mengulum penisnya yang gede itu sampai rasanya mulut ini tak muat untuk menampung penisnya itu. Tapi semuanya kulakukan karena memang aku juga menginginkan akan hal-hal baru yaitu ingin bermain dengan bule itu gimana sih rasanya. Saling mengisap dan saling mengocok terjadi di kamar mandi sampai akhirnya dia memintaku untuk mengeringkan tubuh dengan handuk dan kembali ketempat tidurnya dan mulai saling menghisap dengan posisi 69. Sampai akhirnya dia ngecrot duluan dan banyaknya pejuh minta ampun, tertumpah diatas perutnya. Ketika itu aku pengin memasukin lobang pantatnya dengan penisku, akan tetapi dianya nggak mau. "Your cream for me" "I want taste your cream" "I'am sorry," katanya lagi. Kuturuti kemauannya dengan kembali memasukkan penisku ke dalam mulutnya dan kugoyangkan masuk keluar dimulutnya, akan tetapi sudah cukup lama belum juga ada tanda-tanda aku segera ngecrot karena memang sangat sulit sekali bagiku kalau hanya mengandalkan dihisap saja. Sampai akhirnya dia kewalahan kemudian dia segera mengocok penisku dengan tangannya dan ketika aku mau ngecrot, cepat-cepat dia memasukkan penisku ke dalam mulutnya dan crot croott croot pejuhku keluar semua sampai tuntas didalam mulutnya. Akupun segera memakai pakaianku kembali dan bersiap-siap untuk kembali ketempat dimana Budi berada, karena memang aku nggak berniat untuk menerima imbalan sesuatu dari si bule itu, akan tetapi tanpa kuduga sebelumnya, si bule yang aku tak tahu namanya itu mencegahku untuk pergi secepat itu meninggalkan dia yang masih dalam keadaan telentang diatas tempat tidurnya. Kemudian dia segera bangun dan membersihkan dirinya lalu dia segera memakai pakaiannya kembali dan segera dia membuka almarinya diambil dompetnya dan diberikannya kepadaku beberapa lembar uang dollar. Pada mulanya aku menolak karena memang aku tidak menginginkan itu sesuai dengan perjanjian pada awalnya. Tapi dia tetap memaksaku untuk menerima pemberiannya, karena aku tidak ingin mengecewakannya maka kuterima lembaran dollar yang diberikannya itu. "Thank you for your cream" "Thank you for your service" "Thank you, thank a lot," katanya. Aku diam saja dan segera kutinggalkan dia sambil melambaikan tanganku, aku segera berlari menyusuri pantai Kuta untuk menuju ketempat Budi berada, ternyata dia masih tetap ngrumpi dengan cewek Perancis tadi dan masih tetap ditempat yang sama ketika kutinggalkan tadi. "Dari mana aja sih kamu ini?" tanyanya. "Biasa, dari jalan-jalan sampai kedaerah Legian," jawabku, tanpa harus menceritakan pengalaman yang baru saja kunikmati. Karena memang aku nggak berniat ngrumpi dengan cewek, maka Budi segera kutinggalkan kembali ke arah yang berbeda karena kulihat dia makin asyik dengan sicewek bule itu. Akhirnya sampailah aku ke seorang penjual bakso, kemudian aku membeli baksonya sambil ngobrol sana sini dengan si penjual bakso itu, ternyata dia datang dari daerah Banyuwangi, karena sore itu cuaca agak mendung sehingga pantai Kuta kelihatan agak sepi, atau mungkin semua turis yang ada disitu pada tidur semua untuk persiapan malam tahun baru, aku nggak tahu. Tapi suasana sore itu cukup mendukung untuk mengadakan pendekatan pada sipenjual bakso yang masih muda dan kelihatan kekar itu, akhirnya setelah aku selesai makan bakso, dan terus ngobrol dengannya karena memang tidak ada pembeli lagi karena mendung makin gelap sampai akhirnya turun hujan rintik-rintik halus, karena jauh dari tempat berteduh maka akhirnya kami berdua menuju kesemak-semak yang ada disekitar pantai itu sambil meinggalkan rombong baksonya yang dibiarkan begitu saja ditengah-tengah pasir dipantai Kuta. Karena semak-semak itu sempit dan kami saling berdempetan, maka mulailah tangan nakalku bergerilya untuk mulai mengetahui isinya yang sedari tadi membuatku penasaran itu, mula-mula kupegang pahanya sambil kuelus-elus, dia diam saja dan tanpa reaksi maka segera tanganku menuju penisnya yang masih tertidur segera kuremas-remas dan kupijit dan mulailah mengeliat bangun dengan makin tegangnya dan tanpa kuduga sebelumnya dia malah merebahkan dirinya disemak-semak itu sehingga makin memudahkan aku untuk mengenggamnya penisnya yang sudah keras itu dan makin mudah pula aku membuka celana jeansnya itu dan segera kukeluarkan penisnya yang berwarna hitam dan tidak segede penis bule tadi tapi cukup oke juga kalau aku bermain-main dengan penisnya, kemudian mulai kukulum penisnya dan dia mengerang kenikmatan sambil mulutnya meracau. "Ayyoo, terus, teerruuss" "Yaa, eennaakk" "Eeehhmm, tteerruuss" Waktu berjalan beberapa saat, dan puncak kenikmatan yang kuinginkan belum tercapai, tiba-tiba kudengar suara motor datang mendekati tempat kami berdua, maka segera dia mengancingkan kembali celananya dan aku segera mengambil sikap duduk lagi, dan ternyata ada seorang anak yang sebaya denganku tiba-tiba menerobos masuk kesemak-semak itu dengan maksud ikut berteduh, maka buyarlah sudah acara menghisap penis tadi, yang ada hanya saling memandang antara aku dan si penjual bakso tadi, ada rasa penyesalan dan kecewa karena tidak bisa mencapai kepuasan. Setelah hujan agak reda, dia segera menghampiri rombong baksonya dan mulai berjalan keliling lagi dan akupun juga menuju ketempat dimana Budi berada, dan kulihat dia masih tetap ngrumpi dengan cewek bule tadi akan tetapi tempatnya sudah bergeser menuju ketempat yang lebih terlindung dari siraman air hujan, didekat semak-semak yang ada dipantai itu. Kudekati Budi dan aku mengajaknya untuk mencari tempat berteduh dan tempat menginap karena hari telah mulai gelap disamping suasana mendung juga matahari mulai bergeser ke arah barat. Akhirnya kuhampiri kembali si penjual bakso dan aku mengutarakan kalau pengin mandi ditempat mondoknya dia, dan diapun tidak keberatan untuk memberikan tumpangan untuk sekedar mandi akan tetapi dia keberatan kalau memberikan tumpangan untuk menginap, karena ditempatnya mondok tidak ditempatinya sendiri akan tetapi banyak penjual bakso yang semuanya mondok disitu, ada kurang lebih tujuh atau delapan orang. Akupun menyetujuinya, dan kamipun berjalan melalui lorong-lorong yang sempit untuk menuju ketempat pemondokannya, setelah sampai aku dan Budi segera menuju kekamar mandi yang sederhana sekali dan tanpa basa-basi aku segera melepaskan seluruh pakaianku demikian halnya dengan Budi, walaupun Budi sudah telanjang bulat dihadapanku, akan tetapi tidak ada keinginanku untuk menggodai Budi, atau untuk memegang penisnya, dan akupun juga tidak ada nafsu untuk mengerjainya, karena aku tahu siapa Budi dan aku juga nggak mau Budi tahu siapa aku sebenarnya. Setelah selesai mandi aku dan Budi segera mengenakan pakaian yang bersih dan kami segera berpamitan dengan si penjual bakso yang kukenal itu, segera kami lalui lorong-lorong sempit itu kembali untuk menuju ke arah pantai Kuta untuk sekedar mencari makanan untuk mengisi perut. Setelah kami makan bersama aku segera mencari tempat untuk duduk sambil menikmati deburan ombak dipantai Kuta yang tiada henti-hentinya, sedangkan aku nggak tahu Budi sudah berjalan-jalan kemana saja, karena memang kami sudah sepakat tidak ingin mengganggu kenikmatan masing-masing dalam perjalanan kali ini. Sehingga kemana dia pergi tidak ada yang tahu mau kemana asal nanti bertemu ditempat yang telah kami sepakati. Malam kian larut dan hujanpun sudah mulai reda sejak petang tadi, sehingga jalan-jalan mulai ramai dengan orang yang berlalu-lalang ingin menikmati suasana malam tahun baru, aku sudah begitu lelah sehingga aku mengambil tempat dikerumunan anak-anak muda di depan sebuah toko, dan ternyata mereka juga sama kayak kami yaitu ingin menikmati suasana malam tahun baru, akan tetapi tidak punya cukup banyak uang, kelihatannya mereka pergi dengan sekelompok besar, ternyata setelah aku ikut bergabung dengan mereka ternyata ada yang datang sendirian dan juga ada yang datang berdua dan juga bertiga jadi kami merasa senasib sehingga walaupun baru saja saling mengenal kelihatannya sudah begitu akrab, saling berbagi cerita dan pengalaman dan diselingi canda dan tawa sehingga membuat waktu cepat berlalu tanpa terasa sudah menunjukkan pukul 23.00 waktu Bali. Tiba-tiba Budi datang menghampiriku, memang sejak sore tadi aku sudah merasa lelah sehingga aku nggak mengikuti kemana dia pergi. "Ayo, ikut aku," katanya. "Aku dapet kenalan orang bule, sedangkan bahasa inggrisku nggak lancar," lanjutnya. "Kamu aja yang ngajak dia ngomong," tambahnya lagi. Dengan ogah-ogahan akhirnya aku bangun dari dudukku dan dengan berat hati aku meninggalkan kawan-kawan senasib yang baru kukenal, pergi meninggalkan mereka mengikuti langkah Budi yang ada di depanku menuju ke arah pantai Kuta. Setelah sampai didekat pantai maka oleh Budi aku diperkenalkan dengan seorang bule yang umurnya lebih tua dari aku. "Steve, he is my friend Adi," kata Budi pada bule itu. "How do you do?'" katanya. "How do you do," balasku. Setelah berbasa-basi sejenak, sambil ngobrol ditepi pantai, menayakan identitas masing-masing maka kuketahui bahwa dia masih berumur 27 tahun, karena cambang diwajahnya begitu lebat maka dia kelihatan lebih tua dari usianya yang sebenarnya. Kami bertiga cepat menjadi akrab, hanya Budi saja yang jarang sekali berbicara karena memang bahasa inggrisnya dia masih kurang fasih dan masih amburadul sehingga akulah yang banyak mengambil peran untuk terus mengobrol dengan Steve si bule itu. Sampai tak terasa pergantian tahun tinggal beberapa detik lagi yang ditandai dengan adanya kembang api beraneka warna warni diudara dan orang-orang disekitar pantai pada menghitung sambil melihat jam mereka masing-masing.. Lima.. Empat.. Tiga.. Dua.. Satuu happy new year, kata mereka serentak. Bersambung . . . .


Sunday, August 25, 2013

Buku itu aku pinjam

Awek Pantat Panas CantikWaktu itu aku masih SMA kelas satu, kebetulan aku punya tetangga wanita yang sekolahnya di SMEA dekat sekolah. Dia itu 1 tahun di atas umurku. Orangnya putih, mulus rada bongsor, payudaranya lumayan gede, pinggulnya sedeng, pantatnya rada nungging. Sewaktu aku habis pulang sekolah kulihat dia lagi santai-santai di depan rumahnya, kuhampiri dia.

"Da..! (namanya Farida) aku punya buku bagus, lu mau liat nggak?"
"Buku bagus apaan Ga?".

Sunday, June 16, 2013

Petualanganku dengan Dian dan Yanti - 1

Awek Pantat Panas CantikSetelah aku lulus SMA, aku melanjutkan studi di Bandung. Kebetulan aku diterima di sebuah PTN yang terkenal di Bandung. Mengenai hubunganku dengan Tante "U" di kota asalku sudah berakhir sejak kepindahan keluarga Oom "U" ke Medan, dua bulan menjelang aku ujian akhir SMA. Namun kami masih selalu kontak lewat surat atau telpon. Perpisahan yang sungguh berat, terutama bagiku, mungkin bagi Tante U hal itu sudah biasa, karena hubungan sex buat dia hanya merupakan suatu kebutuhan biologis semata, tanpa melibatkan perasaan. Namun lain halnya denganku, aku sempat merasa kesepian dan rindu yang amat sangat terhadapnya, karena sejak pertama kali aku tidur dengannya, hatiku sudah terpaut dan mencintainya. Sejak aku mengenal Tante U, aku mulai mengenal beberapa wanita teman Tante U, mereka semuanya sudah berkeluarga dan usianya lebih tua dariku. Wanita lain yang sering kutiduri adalah Tante H; dan Tante A seorang janda cina yang cantik. Jadi semenjak kepindahan Tante U ke Medan, merekalah yang menjadi teman kencanku. Karena Tante H dan Tante A sudah berstatus janda, maka tidak ada kesulitan bagi kami untuk mengatur kencan kami. Hampir setiap hari aku menginap di rumah Tante H. Dengan Tante H boleh dikata setiap hari aku melakukan hubungan intim tidak mengenal waktu dan tempat. Pagi, siang sore atau malam, di kamar, di ruang tamu, di dapur bahkan pernah di teras belakang rumahnya. Teradang kami main bertiga, yakni aku, Tante H dan Tante A. Di rumah Tante H benar-benar diperas tenagaku. Sesekali waktu aku harus melayani teman Tante H yang datang ke sana untuk menghisap tenaga mudaku. Aku sudah tidak perduli lagi rupanya, aku dijadikan gigolo oleh Tante H. Pokoknya asal aku suka mereka, maka langsung kulayani mereka. Suatu saat aku bertemu dengan seorang gadis. Cantik dan sexy banget body-nya. Dian namanya, teman adik perempuanku. Dengan keahlianku, maka kurayu dan kupacari Dian. Suatu hari aku berhasil mengajaknya jalan-jalan ke suatu tempat rekreasi. Di suatu motel, akhirnya aku berhasil menidurinya. Aku agak kecewa, rupanya Dian sudah tidak perawan lagi. Namun perasaan itu kupendam saja. Kami tetap melanjutkan hubungan, dan setiap kali bertemu, maka kami selalu melakukan hubungan badani. Rupanya Dian benar-benar ketagihan denganku. Tidak malu-malu dia mencariku, dan bila bertemu langsung memintaku untuk menggaulinya. Tapi aneh, Dian tidak pernah mengajakku, bahkan melarang aku datang ke rumahnya. Kami biasa melakukan di motel atau hotel melati di kotaku, beberapa kali aku mengajak Dian ke rumah Tante H. Kuperkenalkan Tante H sebagai familiku, dan tentunya aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bercumbu dengannya di kamar yang sering aku dan Tante H gunakan bercumbu. Suatu hari, entah kenapa, tiba-tiba Dian memintaku untuk main ke rumahnya, katanya dia berulang tahun. Dengan membawa seikat bunga dan sebuah kado aku ke rumahnya. Aku pencet bel pintu dan Dian yang membukakan pintu depan. Aku dipersilakan duduk di ruang tamu. Segera Dian bergegas masuk dan memanggil mamanya untuk diperkenalkan padaku. Aku terkejut dan tergagu melihat mamanya, sebab perempuan itu. Ya.. mamanya Dian sudah beberapa kali tidur denganku di rumah Tante H. Mama Dian nampak pias wajahnya, namun segera mama Dian dapt cepat mengatasi keadaan. Mama Dian berlagak seolah-olah tidak mengenalku, padahal seluruh bagian badannya sudah pernah kujelajahi. Beberapa saat Mama Dian menemani kami ngobrol. Dengan sikap tenangnya aku pun menjadi tenang pula dan mampu mengatasi keadaan. Kami ngobrol sambil bercanda, dan nampak terlihat bahwa Mama Dian benar-benar seorang Ibu yang sayang pada putri tunggalnya itu. Keesokan harinya, Mama Dian menemuiku. Di ruang tamu rumah Tante H, Mama Dian menginterogasiku, ingin tahu sudah sejauh mana hubunganku dengan Dian. Aku tidak mau segera menjawab, tanganku segera menarik tangannya dan menggelandang tubuhnya ke kamar. Dia berusaha melepaskan peganganku, namun sia-sia, tanganku kuat mencekal, sehingga tidak kuasa dia melepaskan tangannya dari genggamanku. Kukunci pintu kamar dan segera kuangkat dan rebahkan tubuhnya di atas kasur. Segera kulucuti pakaianku hingga aku telanjang bulat, dan segera kutindih tubuhnya. Dia meronta dan memintaku untuk tidak menidurinya, namun permintaanya tak kuindahkan. Aku terus mencumbunya dan satu persatu pakaiannya kulucuti, dan akhirnya aku berhasil memasukkan penisku di vaginanya. Begitu penisku melesak masuk, maka Mama Dian bereaksi, mulai membalas dan mengimbangi gerakanku. Akhirnya kami berpacu mengumbar nafsu, sampai akhirnya Mama Dian sampai pada puncak kepuasan. Peluhku bercucuran menjatuhi tubuh Mama Dian, kuteruskan hunjaman penisku di vaginanya. Mama Dian mengerang-erang keenakkan, sampai akhirnya orgasme kedua dicapainya. Aku terus genjot penisku, aku benar-benar kesal dan marah padanya, karena aku tahu dengan kejadian itu maka bakalan usai hubunganku dengan Dian, padahal cinta mulai bersemi di hatiku. Sambil terus kugenjot penisku di vaginanya, kukatakan padanya bahwa Dian juga sudah sering aku tiduri, namun aku sangat mencintai, menyayangi bahkan ingin menikahinya. Aku katakan semua itu dengan tulus, sambil tidak terasa air mataku menetes. Akhirnya dengan hentakan yang keras aku mengejan kuat, menumpahkan segala rasa yang kupendam, menumpahkan seluruh air maniku ke dalam kemaluannya. Badanku terasa lemas, kupeluk tubuh Mama Dian sambil sesenggukan menangis di dadanya. Air mataku mengalir deras, Mama Dian membelai kepalaku dengan penuh rasa sayang. Kemudian dikecup dan dilumatnya bibirku. Tubuhku berguling telentang di samping kanan tubuhnya. Mama Dian merangkul tubuhku, menyilangkan kaki kiri dan meletakkan kepalanya di dadaku. Terasa kemaluannya hangat dan berlendir menempel di perutku, tangan kirinya mngusap-usap wajahku. Tidak henti-hentinya mulutnya menciumku. Sambil bercumbu, kuceritakan semua kisah romance-ku, hingga aku sampai terlibat dalam pergaulan bebas di rumah Tante H. Dengan sabar didengarnya seluruh kisahku, sesaat kemudian kembali penisku menegang keras. Segera tanganku bergerilya kembali di liang kemaluannya, selanjutnya kembali kami berpacu mengumbar nafsu kami. Kami bercumbu benar-benar seperti sepasang pengantin baru saja layaknya. Seolah tidak ada puasnya. Sampai akhirnya kami kembali mencapai puncak kepuasan beberapa kali. Setelah babak terakhir kami selesaikan, Mama Dian bangkit dan menggandengku menuju kamar mandi, kami mandi berendam bersama di kamar mandi sambil bercumbu. Sambil berendam kami bersenggama lagi. Setelah puas, kami menumpahkan hasrat kami, kami keringkan tubuh kami dan segera berpakaian. Nampak sinar puas membias di wajah Mama Dian. Dengan bergandeng tangan kami keluar kamar, kupeluk pinggangnya dan kuajak menuju ke ruang tamu. Kami duduk berdua, kemudian berbincang mengenai kelanjutan hubunganku dengan Dian. Mama Dian ingin agar hubunganku dengan Dian diakhiri saja, walaupun kami sudah begitu jauh berhubungan, sekalipun Dian sudah hamil karenaku. Dia memberikan pandangan tentang bagaimana mungkin aku menikahi Dian, sedangkan aku dan Mama Dian pernah berhubungan layaknya suami istri, sebab bagaimanapun kami akan tinggal serumah. Bagaimana mungkin kami melupakan begitu saja affair kami, rasanya tidak mungkin. Aku dapat mengerti dan menerima alasan Mama Dian, namun aku bingung bagaimana cara menjelaskan kepada Dian. Aku tidak sanggup kalau harus memutuskan Dian. Akhirnya aku mengatakan ideku pada mama Dian. Selanjutnya selama beberapa hari aku tidak menemui dan sengaja menghindari Dian. Mamanya memberitahu kalau Dian saat ini dalam keadaan hamil 2 bulan akibat hubungannya denganku. Pada suatu hari, aku ditelpon Mama Dian. Dia memberitahu kalau Dian sedang menuju ke rumah Tante H untuk mencariku. Aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Saat itu Tante H sedang menyiram tanaman kesayangannya di kebun belakang, segera kuhampiri dia dan kuajak dia ke kamar yang biasa aku dan Dian pakai untuk berkencan. Kulucuti seluruh pakaian Tante H dan juga pakaianku sendiri, selanjutnya kami bersenggama seperti biasanya. Tidak berapa lama Dian datang dan langsung menuju ke kamarku. Terdengar pekik tertahan dari mulutnya saat melihat adegan di atas ranjang, dimana aku dan Tante H sedang asyik bersenggama. Terdengar pintu kamar dibanting, Dian pulang ke rumah dengan hati yang amat terluka. Tante H merasa tidak tega dengan kejadian itu, Tante H memintaku untuk segera menyusul Dian, namun tidak kuhiraukan, bahkan aku semakin keras dan cepat menghentakan penisku di liang kemaluannya. Tante H mengerang-erang keenakan, mengimbangi dengan gerakan yang membuat penisku semakin cepat berdenyut. Kami mencapai orgasme hampir bersama, aku berguling dan menghempaskan badanku ke samping Tante H. Mataku menerawang jauh menatap langit-langit kamar, air mataku bergulir membasahi pipiku. Inilah akhir hubunganku dengan Dian, akhir yang amat menyakitkan. Dian pergi dariku dengan membawa benih anakku di rahimnya. Musnah sudah impian dan harapanku untuk membina rumah tangga dengannya. Tante H menghiburku, dia mengingatkan aku bahwa aku sudah membuat keputusan yang benar. Jadi tidak perlu disesali. Didekapnya tubuhku, aku menyusupkan wajahku ke dada Tante H, ada suatu kedamaian di sana, kedamaian yang memabukkan, yang membangkitkan hasrat kelelakianku lagi. Sesaat kemudian kami berpacu lagi dengan hebat, hingga beberapa kali Tante H mencapai puncak kepuasan. Aku memang termasuk tipe pria hypersex, dan mampu mengatur timing orgasmeku, sehingga setiap wanita yang tidur denganku pasti merasa puas dan ketagihan untuk mengulangi lagi denganku. Beberapa hari kemudian aku terima telpon Dian. Sambil terisak, Dian pamit padaku karena dia dan mamanya akan pindah ke Surabaya. Aku minta alamatnya, tapi Dian keberatan. Dari nada suaranya nampak Dian sudah tidak marah lagi padaku, maka aku memohon padanya untuk terakhir kali agar dapat aku menemuinya. Dian mengijinkan aku menemuinya di rumahnya, segera aku meluncur ke rumahnya. Untuk inilah saat terakhir aku berjumpa dengan kekasihku. Kupencet bel pintu, Mama Dian membuka pintu dan mempersilakan aku masuk. Nampak wajahnya masih berbalut duka dan kesedihan, dia amat merasa bersalah karena menjadi penyebab hancurnya hubunganku dengan Dian. Mama Dian menggandengku menuju ruang keluarga, nampak Dian kekasihku duduk menungguku. Melihatku, Dian bangkit dan menghampiriku, tidak kusangka pipiku ditamparnya dengan keras. Kubiarkan saja agar rasa kesal dan tertekan di hatinya terlampiaskan. Dian berdiri bengong setelah menamparku, dilihat tangannya dan pipiku bergantian seolah tak percaya akan apa yang dia lakukan. Tiba-tiba ditubruk dan dipeluknya badanku, dibenamkan wajahnya ke dadaku sambil sesenggukan menumpahkan tangisnya. Aku peluk tubuhnya dan kuelus rambutnya. Agak lama kami demikian, kami menyadari bahwa saat inilah saat terakhir bagi kami untuk bertemu. Mama Dian mendekat dan merangkul kami berdua dan membimbing kami untuk duduk di kursi panjang. Kami bertiga duduk sambil berpelukan, Mama Dian di tengah, kedua tangannya memeluk kami berdua. Akhirnya kesunyian di antara kami terpecahkan dengan ucapan Mama Dian. Mama Dian mengatakan memberi kesempatan pada kami untuk memutuskan, apakah akan kami lanjutkan hubungan kami atau kami putuskan sampai disini saja. Berat sekali rasanya, jika kami teruskan hubungan kami maka berarti aku memisahkan jalinan kasih ibu dan anak tunggalnya ini. Aku menyerahkan keputusan akhir pada Dian. Sambil terisak, Dian akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, saat kuingatkan bahwa di rahimnya ada benih anakku, Dian menjawab biarlah, ini sebagai tanda cinta kasih kami berdua, Dian akan tetap memelihara kandungannya dan akan membesarkan anak itu dengan kasih sayangnya. Beberapa saat kemudian aku berpamitan, dengan berat Dian melepaskan pelukanku, namun sebelum kami berpisah, sekali lagi Dian memintaku untuk menemaninya. Ditariknya aku ke kamarnya, dan dengan penuh kasih sayang, dibukanya pakaianku dan pakaian yang melekat di tubuhnya. Kami berdiri berpelukan dengan tanpa sehelai benang menempel pada tubuh kami. Kucumbui Dian kekasihku untuk terakhir kalinya, kugenjot penisku di vaginanya dengan lembut dan penuh perasaan, aku khawatir kalau-kalau genjotanku akan menyakitkan anakku yang ada di rahimnya. Semalam kami bercengkerama, pada pagi keesokan harinya aku berpamitan. Dengan perasaan yang amat berat, dilepas kepergianku. Aku berpamitan pula pada Mama Dian, kucium punggung tangannya sebagai tanda kasih anak ke ibunya, ditengadahkan wajahku dan dikecupnya keningku dengan penuh rasa sayang. Aku menitipkan anakku pada Dian, dan mohon padanya agar memberi kabar saat kelahirannya nanti. Sampai disitulah akhir hubunganku dengan Dian dan mamanya. Bersambung . . . . .


Friday, June 7, 2013

RM50 punya cerita - 2

Awek Pantat Panas CantikDia mula dapat mengagak tindakan Pak Mahat seterusnya tetapi entah bagaimana dia masih lagi terpaku diatas meja itu seakan menantikan Pak Mahat bertindak, lantaran jiwanya sendiri telah sedikit sebanyak mula dikuasai nafsu.

"Jangan takut sayang.. Kali ni kalau Sheila bagi Pakcik masukan batang ni dalam cipap Sheila tu.. Pakcik janji akan tambah lagi RM30.. Dah jadi RM100.. Tu" pujuk Pak Mahat kerana bimbang Sheila akan menukar fikirannya.

Friday, May 17, 2013

Murid dan Guru - Hadiah istimewa - 3

Awek Pantat Panas CantikDebby sangat menyukai usapan-usapan telapak tangan Theo. Usapan-sapan itu mengurangi dinginnya terpaan angin malam. Bahkan kehangatan pun mulai terasa menjalar di bagian bawah perutnya ketika ia merasakan lidah Theo merayap mendekati lipatan antara paha dalam dan vaginanya. Ia merintih ketika bibir lelaki yang suka 'mimik' pipisnya itu menariki bulu-bulu halus di sekitar bibir vaginanya. Bulu-bulu itu masih terlalu pendek, masih sepanjang bulu alis mata sehingga bibir itu selalu gagal menariknya. Hal itu malah membuat vaginanya semakin basah. Setelah mengencangkan lilitan kimono agar belahan di bagian dadanya tidak terbuka, kedua lengannya segera jatuh di atas kepala lelaki itu. Ia menginginkan lidah hangat itu membelah bibir vaginanya.

"Theo, mimik dulu dong lendirnya," kata gadis itu sambil membuka bibir vaginanya dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Sejenak, Theo menghentikan ciuman-ciumannya. Ia menengadah sambil tersenyum, tak lama kemudian, ia kembali menciumi paha kiri gadis itu. Sengaja tidak diturutinya keinginan gadis itu.
"Theo, jahat!" kata gadis itu sambil menarik kepala Theo ke arah pangkal pahanya. Kedua tangannya menahan agar kepala itu tetap berada di pangkal pahanya. Dan ketika ia merasakan kehangatan lidah menyusup ke dalam vaginanya, ia merintih..

Monday, April 15, 2013

Daftar Cerita - Lainnya 04

Awek Pantat Panas Cantik301. Gara-gara ditilang polwan - 1
302. Gara-gara ditilang polwan - 2
303. Hanya sebatas petting
304. Ilmu pelet tingkat tinggi - 1

Saturday, March 23, 2013

Gairah terlarang - 3

Awek Pantat Panas CantikKami bertiga terkejut mendengar suara klakson mobil kupastikan itu suara klakson mobil Papaku yang memang khas. Mbak Sari menengok melalui jendela di dekatnya. Dari jendela itu dia bisa melihat halaman luar rumahku.

"Papa. Papa pulang." Teriak Mbak Sari.

Thursday, March 14, 2013

Posisi seks dengan Mr. P kecil dan pendek

Awek Pantat Panas CantikBanyak pria merasa khawatir ukuran Mr. Penis yang relatif kecil tidak mampu
memberi kesenangan pada saat hubungan intim hingga mereka berusaha
membesarkanya dengan berbagai cara dari medis hingga ramuan tradisional.

Sunday, March 3, 2013

Andani Citra - Kost si Dimas 2

Awek Pantat Panas Cantik"Sini Mbak bukain bajunya, biar enakan, ayo.. jangan malu-malu disini semua bugil kok!" kulucuti pakaiannya tanpa menunggu responnya, dia masih malu-malu menutupi penisnya dengan tangan.
Kutepis tangannya dan kugenggam penis yang masih setengah tegang itu, aku berlutut di depannya dan mulai menjilati benda itu, kemasukkan bagian kepalanya ke mulutku dan kuemut pelan. Aku melirik ke atas melihat reaksi wajahnya dengan mata merem-melek dan menelan ludah memperhatikan aku mengoralnya. Makin kukocok benda itu terasa makin keras dan besar, memang nggak jumbo size sih, namanya juga ABG, tapi kerasnya lumayan.
"Hmmhh.. Mbak.. geli Mbak!" erangnya gemetaran.
"sudah jangan cerewet, dikasih enak gratisan malah bawel, nanti juga ketagihan kok" jawabku.

Saturday, February 23, 2013

Pengalaman Den

Awek Pantat Panas CantikSiang itu sepulang dari sekolah aku langsung menuju rumah untuk bermain playstation yang baru dibelikan ayah untukku. Saat itu keadaan rumah cukup lengang karena ayahku berada di kantor sementara ibuku sedang mengunjungi saudaranya yang berada di luar kota selama tiga hari. Di rumah cuma ada seorang pembantuku yang sudah cukup tua usianya.

"Den kecil," begitu pembantuku biasa memanggilku yang memang saat itu aku baru berusia 13 tahunan.

Tuesday, February 19, 2013

The sexual desire

Awek Pantat Panas CantikSeks, seks, seks dan seks. Hanya itu yang ada di pikiranku. Aku sekarang sedang butuh seorang pria yang gagah perkasa memerkosa pantatku tanpa henti hingga aku mati karena merasakan nikmat yang ada. Aku ingin ada yang memamerkan kejantanannya dan siap untuk aku hisap sampai cairan putih kental yang kurindukan bisa kuteguk hangat mengalir dalam kerongkonganku. Aku butuh keringat dan wangi tubuh pria yang bisa kijilat dan kuhirup sedalam mungkin agar seluruh saraf birahiku bisa bergetar dan bereaksi kembali. Ha.. ha.. ha.. itu semua mustahil adanya, karena sekarang, aku malah ada di ruangan yang sempit ini, yang pengab ini, yang lembab ini, kadangkala kecoak berseliweran, burung gagak teriak-teriak mengejek diluar, bahkan terkadang terdengar suara orang berteriak, bertengkar dan saling mencaci. Kau tahu aku ada dimana, aku ada di balik jeruji besi yang berkarat dan bau sengit.

Awalnya hanya ingin mencari angin di luar sana, tahu-tahunya malah muncul kesempatan mengambil sebuah baju kaos oblong di pasar 'cakar'. Teman-teman memanggilku dari balik seng yang disandarkan di dinding. Aku ikut saja karena di dalam 'geng'-ku hanya aku yang paling sering diperalat, disuruh-suruh, bahkan dikambing hitamkan. Seperti pada hari itu, hari dimana aku malah kena getahnya. Mereka menunjuki sebuah kios yang penjaganya lagi molor dan mendengkur keras.
Dani menarik telingaku dan berbisik, "Cepat! Kesempatan nih, ambil yang mana saja yang kamu bisa."

Sunday, February 17, 2013

Dari email turun ke ranjang - 1

Awek Pantat Panas CantikNamaku Rio. Beberapa pembaca mungkin sudah pernah membaca pengalamanku yang kutuangkan di situs ini. Semenjak pengalamanku dimuat, aku jadi kebanjiran email. Dari sekian banyak email-email itu, ada satu email yang dikirim dari seorang ibu yang usianya dia sebut 52 tahun. Untuk menyembunyikan identitasnya, sebut saja namanya Lilis. Aku memanggilnya dengan sebutan Mbak, jadi Mbak Lilis.

Perkenalan kami termasuk cepat. Hanya sekitar dua atau tiga kali kirim-kiriman email, kami sudah bertukar nomer handphone. Setelah itu kami mulai sering ber-SMS-ria dan mulai jarang email-emailan. Biasanya aku SMS-an dengan Mbak Lilis di atas jam 9 malam, karena di atas jam segitu suaminya baru berangkat kerja. Suami Mbak Lilis sebut saja Mas Yuda, bekerja di perusahaan IT internasional yang afiliasinya berada di Sudirman, dimana jam kerja sang suami menurut Mbak Lilis disesuaikan dengan jam kerja kantor pusatnya di London.

Sunday, February 10, 2013

Dosenku seksi sekali - 2

Awek Pantat Panas CantikYa, aku dan teman-temanku sering bergurau begini saat melihat Bu Via: jika rambut di tempat yang terbuka saja subur, apalagi rambut di tempat yang tersembunyi. Dan ternyata aku bisa membuktikan gurauan itu. Ternyata rambut di tempat itu memang luar biasa. Bahkan aku yang semula berpikir rambut yang menghiasai vagina Kiki luar biasa karena subur dan indah, kemudian menerima kenyataan bahwa ada yang lebih indah, yaitu milik Bu Via ini. Dari samping keadaan itu seperti taman gantung Raja Nebukadnezar saja :-).
Segera berkelebat pikiran dalam otakku, betapa menyenangkannya tersesat di hutan teduh dan indah itu. Maka aku segera menenggelamkan diri di tempat itu, di hutan itu. Lidahku segera menyusuri taman indah itu dan kemudian melanjutkannya pada sumur di bawahnya. Maka Bu Via menjerit kecil ketika lidahku menancap di lubang sumur itu. Di lubang vaginanya. Bau khas vagina yang keluar dari lubang itu semakin melambungkan gairahku. Dan jeritan kecil itu kemudian di susul jeritan dan erangan patah-patah yang terus menerus serta gerakan-gerakan serupa cacing kepanasan. Dan kurasa ia memang kepanasan oleh gairah yang membakarnya.
Aku menikmati jeritan itu sebagai sensasi lain yang membuatku semakin bergairah pula menguras kenikmatan di lubang sumur vaginanya. Lendir hangat khas yang keluar dari dinding vaginanya terasa hangat pula di lidahku. Kadang-kadang kutancapkan pula lidahku di tonjolan kecil di atas lubang vaginanya. Di klitorisnya. Maka semakin santerlah erangan-erangan Bu Via yang mengikuti gerakan-gerakan menggelinjang. Demikian kulakukan hal itu sekian lama.
Kemudian pada suatu saat ia berusaha membebaskan vaginanya dari sergapan mulutku. Ia menarik sebuah bangku rias kecil yang tadi menjadi ganjal kakinya untuk mengangkang. Aku dimintanya duduk di bangku itu. Begitu aku duduk, ia kembali memagut penisku dengan mulutnya secara lembut. Tapi itu tidak lama, karena ia kemudian memegang penisku yang sudah tidak sabar mencari pasangannya itu.

Friday, February 8, 2013

Anneke: 7 days to exhibit - 3

Awek Pantat Panas CantikKudengar Anneke kembali menyiram tubuhnya. Tak lama kemudian, suara pintu kamar mandi terdengar berderit. Anneke baru selesai mandi. Aku mencoba membayangkan saat dia baru keluar dari kamar mandi dengan menjinjitkan kakinya karena khawatir telapak kakinya akan membasahi lantai keramikku. Kubayangkan rambutnya yang masih basah dengan handuk yang melilit tubuh indahnya. Kubayangkan tetes-tetes air yang jatuh dari tubuhnya ke lantai, tercecer dalam kristal-kristal yang bening. Kubawa terlena semua bayang-bayangku hingga akhirnya aku tertidur.

Mas Adit pulang baru pada pukul 8 malam. Atas inisiatifnya sendiri yang selalu tak pernah dapat kucegah, Anneke menyiapkan makan malam kami. Dari persediaan bahan yang ada di lemari es, dia memasak masakan ala serba Thai. Ada kangkung pedas, ada Tom Yang Goong dan menu utamanya adalah Pla Jian, masakan dari ikan campur jahe. Ah, anak ini memang benar-benar pintar membawa diri. Suamiku makan dengan lahapnya. Selama makan, aku berlagak seakan tak ada hal aneh yang pernah terjadi. Seakan aku tak tahu bahwa dia telah mengintipku mandi, dan sebaliknya aku juga tidak ingin menimbulkan kecurigaannya bahwa aku juga telah mengintipnya saat dia mandi. Besok Anneke akan menghadapi wawancara akhir yang akan berlangsung di kantornya pada pukul 11 siang. Rencananya, dia akan berangkat dari rumah besok pada pukul 10 pagi. Dia sudah memperhitungkan bahwa paling lama dalam waktu 30 menit, dengan taksi dia akan dapat mencapai kantornya.

Sunday, February 3, 2013

Pualam yang tergores - 4

Awek Pantat Panas Cantik"Jangan pandangi aku seperti itu..!" katanya dengan suara serak dan matanya masih terpejam. "Aku mencintaimu.." kataku sambil merengkuh wajahnya hingga mendekati wajahku lalu aku cium kening serta pipinya. Ia membuka matanya dan memandangku sambil tersenyum. Aku kembali menciumnya dan kini beralih kebibirnya. Kukecup dan kulum bibirnya yang seksi. Reno membalas ciumanku dengan mesra. Sementara tanganku mulai bergerilya meraba dan meremas punggungnya serta bagian-bagian tubuhnya yang lain. Selanjutnya kami kembali masyuk kedalam biduk kemesraan yang begitu dalam tanpa batas. Keduanya saling meremas dan menggelinjang oleh nafsu yang semakin membakar tubuh mereka. "Lakukan Ren.. aku ingin kau melakukan itu padaku..!" kataku disela-sela deru nafasku. Aku mengatur posisi sedemikian rupa diatas tubuhnya untuk dapat melakukan penetrasi. Beberapa kali dicoba tetap saja tidak berhasil lalu kami merubah posisi dengan turun dari ranjang serta mencoba kembali sambil berdiri. Dengan bertumpu pada bibir ranjang aku membungkukan tubuhku dan membuka pahaku lebar-lebar. Setelah dirasa cukup ia permainkan lubang anusku maka dengan perlahan ia mulai menusukkan kontolnya kedalam pantatku. Sedikit demi sedikit dan disertai erangan kecil dari bibir kami berdua, kontolnya mulai bias masuk dengan perlahan. Hingga akhirnya bukan hanya palkonnya tetapi seluruhnya masuk kedalam pantatku dengan disertai jeritannya yang cukup kencang. Sesaat kami sama-sama diam. Ia mengatur nafasnya yang memburu lalu kemudian dengan dibantu oleh tanganku iapun mulai menggerak-gerakkan pantatnya maju mundur dengan irama yang teratur. Aku mengimbanginya dengan menggerakkan pantatku serta kadang memutarnya disela-sela desahan dan eranganku. Keduanya terus berpacu dan mendaki bukit-bukit terjal dalam deru nafas yang memburu. Hingga akhirnya setelah beberapa saat kemudian keduanya sama-sama mulai mencapai garis finis dalam pendakiannya. Dan dengan disertai erangan dan jeritan kecil diantara ranjang yang derit mereka sama-sama melenguh dan sampai pada klimaksnya. Reno menekankan pantatnya semakin dalam saat ia merasakan orgasme, tangannya mencengkram pinggangku dengan kuat lalu memeluk tubuhku dengan kencang pula. Kulepaskan pegangan tanganku pada sisi ranjang dan dengan perlahan aku bangkit berdiri. Reno memekik tertatahn manakala kontolnya terlepas dari pantatku. Aku emnatapnya dengan tersenyum. Lalu kami saling berpelukan dengan mesra. "Kita pulang sekarang.." katanya dengan suara sedikit parau. Entah kenapa aku sendiri tidak tahu. Lalu ia pamitan untuk mandi terlebih dulu. Beberapa saat kemudian kami meninggalkan hotel tempat kami menghabiskan malam terakhir kami sambil menikmati indahnya cinta kami berdua. Sepanjang perjalanan kami lebih banyak terdiam. Aku terlalu sulit untuk menyelami apa yang ada dalam hatiku dan akupun sama sekali tidak bisa menebak apa yang ada dalam hatinya. "Aku harap kau mau mengantarku ke bandara sore nanti.." kataku pelan setelah kami berada dalan kendaraan umum yang membawa kami kembali ke hotel tempatku menginap. "Aku tidak tahu.. aku harus masuk kerja.. kalau aku tidak kerja aku bias mengantarmu ke bandara.." katanya datar. "Tapi.. aku sangat ingin kau ikut ke bandara.. aku ingin melihatmu disaat-saat terakhirku disini.." kataku kembali. Dia hanya terdiam memandangi jalanan yang mulai meninggalkan laju kendaraan. Tak berapa lama kemudian aku sampai dihotelku dan aku turun sementara ia meneruskan perjalanannya pulang untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja. Sesampainya dikamar akupun beristirahat karena memang sudah tidak ada kegiatan hanya menunggu jemputan untuk mengantarku ke bandara. Tengah ahri aku terjaga oleh kedatangan salah beberapa orang tamu yang ingin mengucapkan selamat jalan padaku dan saat itu aku gunakan untuk mencoba mencari Reno. Beberapa kali mataku mencoba mencari sosoknya tetapi tidak juga ketemu maka setelah tamu-tamuku pulang aku berpura-pura minta dibersihkan kamarku dan aku menanyakan tentang Reno yang ternyata hari itu ia tidak masuk kerja. Hatiku bertanya-tanya ada apa gerangan yang membuatnya tidak masuk. Tadi ia janji akan tetap masuk kerja. Aku berusaha mencari informasi lewat receptionis maupun teman kerjanya pada saat mereka membersihkan kamarku dan menurut salah seorang waitress yang juga anak PKL dan kebetulan katanya teman akrabnya bilang ia tidak bisa masuk dan menitipkan salam untukku. Ia bilang ia tahu kalau aku akan cec out hari itu. Ia hanya berpesan terima kasih untuk semuanya dan selamat jalan. Mendengar hal itu hatiku menjadi sangat perih. Ingin sekali aku menangis saat itu tetapi aku tidak bisa melakukannya bagaiamanapun juga aku harus menjaga wibawa dan harga diriku. Aku tidak ingin mereka tahu apa yang telah terjadi diantara kami berdua. Kepedihan hatiku terasa sangat menyesak didada. Mengapa disat-saat terakhir ia justru tidak mau masuk..? apakah juga ia tidak mau emngantarku ke bandara..? apakah ia tidak mau bertemu denganku untuk terakhir kalinya..? berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hatiku tanpa kutahu jawabnya. Dan tiba-tiba telepon berdering yang memberitahukan ada yang berbicara denganku. Setelah aku angkat tiba-tiba jantungku berdesir tak menentu. Suara itu akhirnya muncul. Suara khas yang sangat aku rindukan. Suara dari orang yang sangat aku cintai. "Kenapa kamu tidak masuk kerja hari ini..?" tanyaku langsung dengan suara bergetar. "Aku.. tidak enak badan.. dan mungkin aku juga tidak bisa mengantarmu ke bandara.. " katanya perlahan. Ada nada kepedihan dari balik suaranya itu. "Kenapa.. kamu sudah janji mau masuk atau mengantarku ke bandara.. apa kamu sama sekali tidak mau bertemu denganku untuk terakhir kalinya..?" tanyaku beruntun. Kesedihan yang kurasakan semakin membahana diruang batinku. "Aku hanya bisa mengucapkan selamat jalan.. semoga selamat ditempat tujuan.. terima aksih untuk semuanya.. hanya itu yang bisa aku ucapkan.. " katanya lirih dan terdengar kesedihan semakin terasa. "Please Ren.. paling tidak kita bertemu untuk terakhir kali sebelum aku pergi.." kataku memohon. Tangisku hampir meledak saat itu. "Maaf mas.. aku tidak bisa.. aku tidak sanggup untuk ketemu..selamat jalan.. aku.. " katanya dan tiba-tiba ia menutup teleponnya. "Ren.. tunggu Ren.. " aku terdiam. Hatiku sangat sakit karenanya. Kenapa ia menutup teleponnya begitu saja..? kenapa ia tega lakukan ini padaku..? kenapa ia tidak mau bertemu denganku..? apakah memang benar ia tidak sanggup melihat kepergianku..? oh.. aku mendesah dan tiba-tiba air mataku mulai mengalir membasahi pipiku. Aku mulai terisak dan membenamkan diri dalam tangis pilu. Aku pandangi diriku dalam cermin didepanku. Air amta yang meleleh dipipi dan sorot mata yang lemah seolah tanpa cahaya. Aku begitu prihatin melihat diriku disana. Kenapa pula aku haru terlibat hubungan cinta seperti ini..? kenapa pula cinta itu harus hadir..? kenapa pula aku harus jatuh cinta padanya..? Aku semakin hanyut dalam tangisan. Aku meraih kertas dan mulai menggoreskan pena untuk menuangkan apa yang ada dalam hatiku saat itu. Kutuliskan semua apa yang aku rasakan tentang perasaanku padanya tentang rinduku padanya tentang sayangku padanya tentang cintaku yang ternyata begitu dalam aku rasakan. Saat aku menulis surat itu tiba-tiba orang yang mau mengantarku ke bandara sudah datang, buru-buru aku menghapus air mataku dan mengatakan padanya kalau aku belum siap dan aku memintanya untuk menunggu sesaat. Aku segera merapihkan semua barang-barangku kedalam koper serta segera membersihkan tubuhku dikamar mandi. Kuguyur seluruh tubuhku dengan harapan kan dapat sedikit meredam kepedihan yang aku rasakan saat itu. Tiba-tiba telepon dikamarku berdering dan Thanks God.. ternyata suara Reno yang berada disebrang sana. "Kenapa kau tutup teleponmu begitu saja..? kamu dimana..? bisa ketemu kan..? kamu jadi mengantarku kan..?" tanyaku nyerocos dengan hati girang. "Aku sekarang berada di wartel dekat hotel kamu tinggal.. cepatlah kesini aku tunggu.." katanya lalu segera menutup teleponnya tanpa memberi aku waktu untuk berkata-kata lagi. Bergegas aku berpakaian dan tanpa menyisir rambut terlebih dulu aku berlari keluar untuk menemuinya tanpa memp[edulikan teguran receptionis tentang rambutku yang acak-acakan. Diwartel aku mendapatinya sedang duduk terdiam dipojok ruangan. Pandangan matanya kosong. Ketika aku datang kearahnya ia hanya terdiam bahkan sama sekali tidak tersenyum. Aku bingung sekali. "Hai.. " kataku sambil duduk disampingnya. Aku tidak tahu entah apa yang harus aku katakana lagi. Aku hanya sesekali melirik kearahnya. Kulihat ia memainkan jari-jarinya dengan terdiam membisu. "Aku menitipkan sesuatu untukmu.. aku titip sama temen kamu sesama PKL.." kataku kemudian tanpa berani menatapnya. "Kamu tidak usah memberikan aku apa-apa.. sudah cukup yang aku dapat darimu.." katanya pelan tanpa menoleh. "Bukan sesuatu yang berarti bagimu.. dan sama sekali tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan sama dia.." kataku ragu. Ia menatapku tajam. "Jangan samakan kamu sama dia.. aku sudah melupakannya.. sekarang aku.. ehm.. jam berapa berangkat..?" tanyanya terkesan untuk menghindari perkataannya sebelumnya. "Aku ingin kau mau mengantarku ke bandara.. kau bisa ikut bersama orang yang mengantarku kesana.." kataku sambil melepaskan jam tangan yang melingkar ditanganku. "Jam ini bukan jam mahal.. tetapi aku sangat menyukainya.. aku ingin memberikan ini untukmu.. tolong jangan lihat harganya tetapi.. kenanglah aku lewat ini.. aku akan berkirim surat ataupun telepon sama kamu.. aku janji.. dan aku yakin kita pasti akan bertemu lagi suatu saat nanti.. entah kapan dan dimana..?" kataku datar sambil berusaha memasangkan jamku ditangannya. Kesedihan itu kembali muncul. Bukan saja padaku tetapi juga pada dirinya yang dapat aku lihat dari wajah dan matanya.Sesaat kemudian aku meninggalkannya untuk bersiap-siap dan kembali menjemputnya untuk berangkat ke bandara. Sepanjang perjalanan dia hanya terdiam sementara aku berusaha untuk menekan kepedihan yang aku rasakan saat itu dengan cara berbincang dengan tamu-tamuku yang ikut mengantarku ke bandara. Mungkinkah ia juga merasakan kepedihan seperti yang aku rasakan saat itu..? tanyaku dalam hati. Saat-saat itupun harus tiba. Saat-saat terakhir aku harus melihat dirinya, sosoknya, tubuhnya, dan segalanya yang ada padanya. Aku hanya dapat menjabat tangannya saja ketika harus berpamitan dengannya. Padahal aku sangat ingin memeluknya utnuk terakhir kali namun apa daya tak dapat aku lakukan, aku harus menjaga wibawaku didepan orang lain terlebih client-clientku. Dan, akhirnya dia harus berlalu meninggalkanku seorang diri ditengah keramaian orang-orang yang sama sekali tidak aku kenal. Aku hanya bisa terdiam mengenang semua yang pernah kami reguk bersama. Didalam pesawat yang membawaku ke Jakarta aku hanya terdiam senjang perjalanan. Pikiranku mengembara dan terbang jauh tinggi entah kemana. Hatiku sangat pedih. 11 hari yang penuh kesan dan kenangan. Hari-hari yang begitu indah dalam merajut benang-benang kasih antara aku dan dia. Hari-hari penuh kebahagiaan yang selalu saja mendatangkan ketakutan akan kata perpisahan yang ternyata memang harus terjadi tanpa bisa terelakkan lagi. Kini hatiku terasa pedih berpisah dengannya. Aku tidak tahu bagaimana hari-hariku selanjutnya. Aku tidak tahu bagaiaman aku dapat memendam kerinduanku padanya. Hatiku yang semula begitu enggan datang ke Jambi kini ternyata telah tertambat disana. Ragaku telah berada jauh dari Jambi tetapi hati dan jiwaku masih disana. Cinta yang berseni penuh keindahan dan kebahagiaan yang aku rasakan telah membuat hatiku berbunga-bunga. Cinta memnag indah saat bersama, tetapi cinta juga sangat menyakitkan kala segalanya harus berakhir, hatiku kini telah terluka, hatiku kini telah tersakiti oleh duri-duri cinta yang kuciptakan sendiri. Bagai pualam hatiku kini telah tergores, terkoyak tanpa kutahu kemana hilangnya serpihan-serpihan itu. Haruskan aku membunuh cintaku sendiri padanya..? haruskah aku memendam semuanya hingga disini..? ataukah memang harus kujaga cinta dan sayangku padanya..? masihkah ada kesempatan bagiku untuk kembali bertemu dengannya..? mungkinkah jarak yang begitu jauh dapat emmberi kami kesempatan tuk berjumpa..? Ataukah ahrus terbiar segalanya menjadi sebuah kisah sesaat..? sementara cinta dan sayangku terasa begitu dalam aku rasakan..!! Kini semuanya telah berlalu, kujalani hari-hariku yang berat dengan penuh harapan bahwa kan dapat jawaban darinya tetapi suratku tidak dibalas entah kenapa.. ataukah memang benar ia tidak mau meneruskan hubungan ini..? ataukah apa..? Kisah ini aku tulis untuk mengenang seseorang di Jambi yang begitu aku sayangi hingga sat ini. aku akan tetap mengenangmu sampai kapanpun.. kau akan tetap menjadi abgian terindah dalam hidupku.. maafkan aku andai aku telah menyakitimu.. dan aku masih mencintaimu. T A M A T