k Cerita Awek: oral
Showing posts with label oral. Show all posts
Showing posts with label oral. Show all posts

Friday, December 27, 2013

Resident Evil X - 1

Awek Pantat Panas CantikSalam kenal, saya seorang penggemar game, anime dan hentai. Sudah 2 tahun lebih saya mengenal situs sumbercerita.com, namun belum pernah saya melihat satupun cerita yang bersetting dunia game dan anime, padahal di situs-situs dan milist asing ada begitu banyak cerita-cerita yang berbau hentai. Maka untuk itu saya memberanikan diri untuk menjadi orang pertama yang memulainya. Bukankah sejarah terukir dari mereka yang berani mendobrak tradisi? Bukankah penulis adalah 'Dewa' bagi tulisan dan karakternya? jadi boleh dong mengembangkan imajinasi seluas-luasnya. Semoga langkah saya bisa menjadi awal perkembangan hentai fanfics berbahasa Indonesia. Bagi para hentaimania ditunggu karya-karyanya, OK!

*****

Wednesday, November 6, 2013

Lily gadis hiperseks - 1

Awek Pantat Panas CantikRespons pembaca yang unik membuatku semakin bersemangat menuliskan kisah-kisahku. Ada pembaca yang minta diajarkan sex, ada yang ingin berkenalan, bertukar pasangan dan banyak juga yang memuji karyaku. Terima kasih! Aku akan selalu berusaha menampilkan karya yang orisinal.

Untuk ceritaku yang terbagi dua bagian, janganlah hanya dibaca bagian pertamanya saja. Misalnya ceritaku: "Ita, The Wild Girl-1" dibaca jauh lebih dibanyak dibandingkan dengan yang membaca, "Ita, The Wild Girl-2." Sayang sekali kalau anda tidak membaca bagian keduanya. Bacalah semuanya dulu, baru beri penilaian.

Friday, March 1, 2013

Namaku Elang - 3

Awek Pantat Panas Cantik"Bang."
Suaranya memanggilku serak. Kakinya melangkah menuju bath tub. Masuk ke dalamnya. Mendekatiku. Sinar lampu kamar mandi menimpa tubuhnya yang polos. Memantulkan pesona kemungilannya. Aku tak mampu berkata-kata. Hanya dapat memandanginya. Wajahnya, rambutnya yang sebahu, hidungnya yang bangir, matanya yang kelam. Lalu ke lehernya. Terus ke dadanya yang penuh, aku tidak tahu ukuran pastinya, sebesar bola baseball kukira (ukuran berapa, tuh?). Putingnya berwarna merah muda, menyembul keluar seperti karet penghapus. Perutnya rata, tidak ada lemak di situ. Ke bawah pusarnya terdapat sekumpulan anak-anak rambut, membentuk segitiga kecil yang gelap. Kakinya yang langsing, betisnya.

Wangi tubuhnya mengambang di udara. Kejantananku tambah mengeras. Ugh! Kakinya melangkah ke arahku perlahan. Tiba di hadapanku, dia meraih wajahku. Mengelus pipi, turun ke leherku. Aku mengerang dibuai jemari lentiknya. Ugh! Tangannya pindah ke dadaku, meraba dan menyentuhnya, bermain-main di bulu dadaku. Memainkan puting susuku. Aku menghela nafas. Ugh! Perlahan bibirnya tiba di pentil susuku, mengecupnya. Lalu lidahnya menjilati, menghisap, menggigit pelan. Aku melenguh. Ugh! Wajahnya yang hanya sampai di dadaku, bermain-main di sana selama beberapa saat. Tanganku yang tadi menutupi kelelakianku, sekarang perlahan meninggalkannya. Yang kiri meraih belakang lehernya, sedang yang kanan membelai punggung dan bokongnya naik turun. Lalu keduanya meraih pantatnya. Meremasnya. Mencubiti perlahan. Mengusapnya memutar. Pantatnya sungguh ranum. Terdengar rintihan kecil, keluar dari bibirnya yang mungil.

Sunday, February 24, 2013

Pengalaman mengerikan

Awek Pantat Panas CantikKejadian yang paling mengerikan, kisah ini terjadi sekitar satu setengah tahun yang lalu. Sebuah kejadian yang tidak akan pernah saya lupakan. Kurang lebih dua tahun yang lalu, saat masih duduk di semester kedua, di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta, saya dikenalkan dengan seorang gadis yang sebut saja namanya Alia oleh sahabat saya Rika (bukan nama sebenarnya). Alia seorang gadis yang tinggi dan langsing.

Saat pertama berkenalan, saya memperkirakan tinggi badannya diatas 175 cm. Wajahnya mulus, menarik dengan matanya yang tajam dan bening serta bibirnya yang berwarna merah lembut, selalu tampak tersenyum. Tubuhnya cukup ideal menurut pendapat saya, dan saya sungguh terkesan dengan kecantikannya. Gaya bicaranya sopan, ramah, serta menyenangkan. Kalau sedang tertawa, Alia nampak cantik sekali (paling tidak menurut saya).

Thursday, February 21, 2013

Saudara tiri - 1

Awek Pantat Panas CantikSebelum aku cerita, kenalkan dulu namaku Ben. Ceritaku ini dimulai, waktu aku SMA kelas 3, waktu itu aku baru sebulan tinggal sama ayah tiriku. Ibu menikah dengan orang ini karena karena tidak tahan hidup menjanda lama-lama. Yang aku tidak sangka-sangka ternyata ayah tiriku punya 2 anak cewek yang keren dan seksi habis, yang satu sekolahnya sama denganku, namanya Lusi dan yang satunya lagi sudah kuliah, namanya Riri. Si Lusi cocok sekali kalau dijadikan bintang iklan obat pembentuk tubuh, nah kalau si Riri paling cocok untuk iklan BH sama suplemen payudara.

Sejak pertama aku tinggal, aku selalu berangan-angan bahwa dapat memiliki mereka, tapi angan-angan itu selalu buyar oleh berbagai hal. Dan siang ini kebetulan tidak ada orang di rumah selain aku dengan Lusi, ini juga aku sedang kecapaian karena baru pulang sekolah. "Lus! entar kalau ada perlu sama aku, aku ada di kamar," teriakku dari kamar. Aku mulai menyalakan komputerku dan karena aku sedang suntuk, aku mulai dech surfing ke situs-situs porno kesayanganku, tapi enggak lama kemudian Lusi masuk ke kamar sambil bawa buku, kelihatannya dia mau tanya pelajaran. "Ben, kemaren kamu udah nyatet Biologi belom, aku pinjem dong!" katanya dengan suara manja. Tanpa memperdulikan komputerku yang sedang memutar film BF via internet, aku mengambilkan dia buku di rak bukuku yang jaraknya lumayan jauh dengan komputerku.

Sunday, February 17, 2013

Dari email turun ke ranjang - 1

Awek Pantat Panas CantikNamaku Rio. Beberapa pembaca mungkin sudah pernah membaca pengalamanku yang kutuangkan di situs ini. Semenjak pengalamanku dimuat, aku jadi kebanjiran email. Dari sekian banyak email-email itu, ada satu email yang dikirim dari seorang ibu yang usianya dia sebut 52 tahun. Untuk menyembunyikan identitasnya, sebut saja namanya Lilis. Aku memanggilnya dengan sebutan Mbak, jadi Mbak Lilis.

Perkenalan kami termasuk cepat. Hanya sekitar dua atau tiga kali kirim-kiriman email, kami sudah bertukar nomer handphone. Setelah itu kami mulai sering ber-SMS-ria dan mulai jarang email-emailan. Biasanya aku SMS-an dengan Mbak Lilis di atas jam 9 malam, karena di atas jam segitu suaminya baru berangkat kerja. Suami Mbak Lilis sebut saja Mas Yuda, bekerja di perusahaan IT internasional yang afiliasinya berada di Sudirman, dimana jam kerja sang suami menurut Mbak Lilis disesuaikan dengan jam kerja kantor pusatnya di London.

Monday, February 11, 2013

Enaknya anak SMU

Awek Pantat Panas CantikAku tinggal di Cirebon tapi tempat kerjaku di dekat Indramayu yang berjarak sekitar 45 Km dan kutempuh dengan kendaraan kantor (nyupir sendiri) sekitar 1 jam. Bagi yang tahu daerah ini, pasti akan tahu jalan mana yang kutempuh. Setiap pagi kira-kira jam 06.30 aku sudah meninggalkan rumah melewati route jalan yang sama (cuma satu-satunya yang terdekat) untuk berangkat ke kantor. Pagi hari di daerah ini, seperti biasa terlihat pemandangan anak-anak sekolah entah itu anak SD, SMP ataupun SMU, berjajar di beberapa tempat di sepanjang jalan yang kulalui sambil menunggu angkutan umum yang akan mereka naiki untuk ke sekolah mereka masing-masing. Karena angkutan umum sangat terbatas, biasanya mereka melambai-lambaikan tangannya dan mencoba menyetop kendaraan yang lewat untuk mendapatkan tumpangan. Kadang-kadang ada juga kendaraan truk ataupun pick-up yang berhenti dan berbaik hati memberikan tumpangan, sedangkan kendaraan lainnya jarang mau berhenti, karena yang melambai-lambaikan tangannya berkelompok dan berjumlah puluhan.

Suatu hari Senin di bulan Oktober 98, aku keluar dari rumah agak terlambat yaitu jam 06.45 pagi. Kuperhatikan anak-anak sekolah yang biasanya ramai di sepanjang jalan itu mulai agak sepi, mungkin mereka sudah mendapatkan kendaraan ke sekolahnya masing-masing. Saat perjalananku mencapai ujung desa Bedulan (tempat ini pasti dikenal oleh semua orang karena sering terjadi tawuran antar desa sampai saat ini), kulihat ada seorang anak sekolah perempuan yang melambai-lambaikan tangannya.
Setelah kulihat di belakangku tidak ada kendaraan lain, aku mengambil kesimpulan kalau anak sekolah itu berusaha mendapatkan tumpangan dariku dan karena dia seorang diri di sekitar situ maka segera kuhentikan kendaraanku serta kubuka kacanya sambil kutanyakan, Mau ke mana dik?. Kulihat anak sekolah itu agak cemas dan segera menjawab pertanyaanku, Pak boleh saya ikut sampai di SMA (edited by Yuri), dari tadi kendaraan umum penuh terus dan saya takut terlambat?, dengan wajah yang penuh harap. Yaa, OK lah.., naik cepat, kataku. Terima kasih paak, katanya sambil membuka pintu mobilku.

Sunday, February 10, 2013

Dosenku seksi sekali - 2

Awek Pantat Panas CantikYa, aku dan teman-temanku sering bergurau begini saat melihat Bu Via: jika rambut di tempat yang terbuka saja subur, apalagi rambut di tempat yang tersembunyi. Dan ternyata aku bisa membuktikan gurauan itu. Ternyata rambut di tempat itu memang luar biasa. Bahkan aku yang semula berpikir rambut yang menghiasai vagina Kiki luar biasa karena subur dan indah, kemudian menerima kenyataan bahwa ada yang lebih indah, yaitu milik Bu Via ini. Dari samping keadaan itu seperti taman gantung Raja Nebukadnezar saja :-).
Segera berkelebat pikiran dalam otakku, betapa menyenangkannya tersesat di hutan teduh dan indah itu. Maka aku segera menenggelamkan diri di tempat itu, di hutan itu. Lidahku segera menyusuri taman indah itu dan kemudian melanjutkannya pada sumur di bawahnya. Maka Bu Via menjerit kecil ketika lidahku menancap di lubang sumur itu. Di lubang vaginanya. Bau khas vagina yang keluar dari lubang itu semakin melambungkan gairahku. Dan jeritan kecil itu kemudian di susul jeritan dan erangan patah-patah yang terus menerus serta gerakan-gerakan serupa cacing kepanasan. Dan kurasa ia memang kepanasan oleh gairah yang membakarnya.
Aku menikmati jeritan itu sebagai sensasi lain yang membuatku semakin bergairah pula menguras kenikmatan di lubang sumur vaginanya. Lendir hangat khas yang keluar dari dinding vaginanya terasa hangat pula di lidahku. Kadang-kadang kutancapkan pula lidahku di tonjolan kecil di atas lubang vaginanya. Di klitorisnya. Maka semakin santerlah erangan-erangan Bu Via yang mengikuti gerakan-gerakan menggelinjang. Demikian kulakukan hal itu sekian lama.
Kemudian pada suatu saat ia berusaha membebaskan vaginanya dari sergapan mulutku. Ia menarik sebuah bangku rias kecil yang tadi menjadi ganjal kakinya untuk mengangkang. Aku dimintanya duduk di bangku itu. Begitu aku duduk, ia kembali memagut penisku dengan mulutnya secara lembut. Tapi itu tidak lama, karena ia kemudian memegang penisku yang sudah tidak sabar mencari pasangannya itu.

Thursday, January 24, 2013

Cerita Ananda - 3

Awek Pantat Panas CantikAku begitu terkejut mendengarkan seorang nyonya yang begitu alim, lugu dan tertutup akhirnya menjadi sangat 'terbuka'.

"Maksudku, apa mereka suka melakukannya denganku" tanyanya.
"Oh ya", aku meyakinkannya.

Friday, January 18, 2013

Guru pelatih

Awek Pantat Panas CantikNi kisah masa aku masih kursus di Maktab Perguruan Seri Begawan. Masa tu aku berada ditahun 3 1997. Aku sebenarnya amat rapat dengan seorang guru pelatih (peserta kursus) perempuan bernama si Manja. Aku sudah mengenalinya selama kurang dari setahun.

Suatu petang jam 5.00 petang aku pun berdatang dengan si Manjaku didalam kuliah. Kebetulan aku memegang kunci kuliah kami. Jadi bila kami berdatang di dalam sudah tentulah aku akan mengunci pintu supaya lebih privacy. Selalunya aku dan Manja hanya bercerita-cerita biasa saja. Tapi kali ini aku pun bercerita pasal seks. Mula-mula Manja kemalu-maluan untuk bercerita denganku. Tapi lama-lama kemudian dia pun ikut sama bercerita pasal seks. Aku pun bertanya pada si Manja pasal BLOWJOB. Dengan malu-malu Manja memberitahuku dengan tepat. Katanya sumber pengetahuannya datang dari video lucah.

Thursday, January 10, 2013

Cyberlove story - 1

Awek Pantat Panas CantikTeknologi mempengaruhi perilaku manusia tak bisa dibantah. Perkembangan teknologi jaringan yang begitu pesat memungkinkan orang melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhannya hanya dengan sentuhan ujung jari di kamar masing-masing tanpa terjebak traffic jam. Ngobrol, berbelanja, berkiriman dokumen, cari informasi apapun, semuanya dapat dilakukan tanpa beranjak dari rumah. Bahkan sebentar lagi orang tak memerlukan office space yang mahal itu. Seluruh aktivitas bisnis dapat dilakukan dan dikendalikan dari rumah. Boss tak pernah bertatap muka langsung dengan staff-nya merupakan hal yang biasa. Tak apa-apa, yang penting urusan beres. Demikian pula untuk satu urusan yang universal dimiliki manusia penghuni planet biru ini, urusan cinta. Orang jatuh cinta tak lagi hanya dari pandangan pertama, tapi bisa dimulai dari sentuhan ujung jari pada keyboard. Cyber Love, demikian julukannya. Seperti kisah cinta di dunia nyata, percintaan di alam mayapun tak selalu diakhiri dengan happy ending, malahan lebih banyak unhappy-nya, paling tidak seperti yang pernah kualami. Dua kali Aku terlibat cinta cyber dan dua-duanya berakhir dengan unhappy. Inilah yang hendak Aku ceritakan kepada Anda sekalian pecinta Rumah Seks yang budiman! Anda yang tak tertarik dengan perselingkuhan yang berakhir unhappy jangan dilanjutkan membacanya, cukup sampai disini saja. Juga bagi Anda yang tak suka kisah-kisah kegagalan. Aku memang tak secanggih para penggemar Rumah Seks lainnya yang begitu mudah mendapatkan cewek idealnya. Begitu mudah menggaet cewek dengan gambaran tubuh yang "wah" dan amat mudah juga mengajaknya ML. Beginilah Anda biasanya menggambarkan fisik yang "wah" itu: Langsing dan tinggi nyaris dua meter, kulit putih mulus licin bak salju sehingga lalatpun gagal hinggap di tubuhnya, terpeleset --walaupun belum tentu pernah melihat salju--, buah dada kenyal bulat sebesar kepala bayi, pinggang ramping kayak bambu, paha bulat mirip batang pohon pinang dengan liang vagina sekecil lidi.. pendek kata, seperti Sophia Latjuba atau Tamara Blezinsky-lah (gimanapun ejaannya). Aku tak secanggih itu, pembaca. Cewek teman selingkuhku tak secantik kedua selebritis itu. Tinggi "cuman" 163 (tidak 2 meter), kulit kuning langsat (bukan putih), bra ukuran 34 (bukan bukan dibalik jadi 43), pinggang cukup membentuk gitar (nggak sekecil bambu) dan "kewanitaan" yang sedikit sesak untuk ukuran penisku yang rata-rata orang melayu. Dan untuk berlanjut sampai ke ranjang pun tak semudah seperti yang biasa Anda lakukan: begitu ketemu, kenalan terus langsung jilat-jilat vagina dan tancepan. Prosesku lumayan panjang dan dengan intensitas hubungan yang naik-turun, tak selalu lancar. Aku, pria 28 tahun, sudah berkeluarga, anak satu, kerja di perusahaan swasta di Jakarta. "Ketemu" pertama kali dengan Alia (begitu saja kusebut namanya) di mailing list group yang mengkhususkan diskusi tentang politik Indonesia. Di antara belantara lalu-lintas diskusi itu suatu saat pada topik tertentu Aku dan Alia saling dukung pendapat (topik apa dan gimana saling dukungnya tak relevan bila kutulis di sini). Maka kulayangkan sebuah mail lewat japri-nya. Isi mail masih lanjutan topik tadi dan kuakhiri dengan keinginan untuk kenal lebih dekat. Perkenalanku mendapat respons positif dan mulailah kami saling berkirim mail sampai "melupakan" forum mailing-list dan jadi jarang posting. Pada tahap saling membuka identitas masing-masing kusebutkan statusku dengan sebenarnya. Alia sedang kuliah di jurusan Sospol Universitas di kotanya Makassar semester VI. Asli dari Manado tapi kelahiran Makassar. Statusnya sedang berpacaran dengan mahasiswa dari jurusan lain yang berasal dari daerah yang sama, sejak tahun pertama kuliah. Perbincangan lewat mail tak lagi tentang politik, tapi lebih soal-soal pribadi. Misalnya dia dengan terbuka menceritakan telah menyerahkan segalanya kepada pacarnya itu. Dia sudah tak gadis lagi sejak setengah tahun sebelum bertemu aku lewat dunia maya. Dia juga bercerita tentang aktivitas seks-nya dengan pacarnya serta perasaan-perasaannya. Termasuk pengakuannya bahwa dia hanya berhubungan seks dengan satu pria saja, yaitu pacarnya itu. Juga dia selalu menceritakan masalah yang dia alami dalam berpacaran. Semacam curhat. Komunikasi diantara kami tak hanya lewat mail saja, tapi juga chatting. "Witing tresno jalaran soko kulino" begitu pepatah Jawa yang artinya kurang lebih awal cinta datang karena dekatnya bergaul. Itulah yang sedang kualami. Hubungan kami begitu dekatnya sehingga diam-diam timbul sesuatu di dalam hati yang tak kami perkirakan sebelumnya. Ada sesuatu yang hilang rasanya bila sehari saja tak membaca mailnya. Ketika Aku bilang ke Alia tentang perasaan ini, ternyata dia mengalami hal yang sama. Singkatnya, kami saling jatuh cinta walaupun masing-masing telah punya pasangan tetap. Kami juga berjanji, saling berusaha mencari peluang untuk bertemu secara fisik. ---------- "Elo tahu engga kantor Departemen Anu," tulisnya pada suatu siang kami chatting. "Tahu. Kenapa?" jawabku. "Gue ada rencana kuliah lapangan ke situ." Nah! akhirnya peluang buat ketemu Alia datang juga. Jangan gembira dulu, kataku dalam hati. "Oh ya? Kapan? Sama siapa?" tulisku memberondong. "He he.. satu-satu dong, semangat banget." "Semangat dong, kan kita bisa ketemu." "Pengin ketemu, gitu?" "Ah elo, kaya engga tahu aja. Pengin banget, tahu. Kapan nih?" Alia sebutkan tanggal yang artinya 2 minggu lagi. "Sama temen-temen 10 orang, plus 2 orang dosen," katanya lagi. Saat ketemu inilah yang Aku tunggu-tunggu. Oh, aku mencintainya. "Nginap di mana?" "Di Mess Yayasan Anu." "Nggak nginap ama gue aja?" "Enak aja, engga boleh dong, musti ngumpul."Bagus, nggak boleh bukan berarti tak mau. Saat bermalam bersama ini pula yang kudambakan. Tak sekedar melepas rindu memuaskan hasrat cinta, tapi juga hasrat yang lain. "Iya ngerti musti ngumpul, tapi sesekali boleh dong minta izin nginap di rumah famili, gitu." Alia diam. "Emang bisa nginap di rumah elo?" katanya setelah beberapa saat hening. Betapa polosnya dia. Tak mungkin Aku masukin cewek ke rumah, bisa-bisa terjadi perang rumah tangga. "Entar gue booking kamar." Langsung, boo.. "Ih, elo. Udah biasa gitu ya?" "Bukan begitu," sahutku cepat-cepat. "Alia, elo tahu kan, gue pengin banget ketemu. Kesempatan ketemu yang amat langka ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya.." "Kenapa musti di hotel?" Iya, kenapa ya? Bingung jawabnya. "Yah, supaya kita bisa kangen-kangenan, ngobrol, bebas dari gangguan." Diam. Sejurus kemudian. "Entarlah. Gimana nanti aja." Bukankah ini semacam sinyal setuju? Tibalah saat yang amat kunantikan. Alia dan rombongan akan tiba Minggu sore di Jakarta. Dia berjanji akan meneleponku ke kantor begitu dia punya peluang yang aman. Akupun mulai melakukan persiapan untuk menyambut kedatangannya. Pertama, persiapan waktu. Aku harus cari akal supaya bisa kabur dari rumah sekitar seminggu. Dari beberapa alternatif alasan dan memperhitungkan resikonya, Aku memilih alasan "dinas luar ke Semarang". Kedua, persiapan tempat. Aku memilih Hotel "AM" di Kebayoran Baru walaupun room rate-nya lumayan mahal, tapi dekat dengan tempat Alia kerja dan juga Mess-nya. Dan jauh dari rumah, supaya lebih aman. ---------- Obrolan kami makin seru setelah masa "ice-breaking" tak lama dilalui. Kami sempat saling salah tingkah pada menit-menit pertama Alia masuk ke kamar hotel. Alia begitu bersemangat cerita tentang kegiatannya selama praktek kerja lapangan di instansi pemerintah itu. Aku tak begitu memperhatikan ceritanya. Perhatianku terpusat pada gerak gesture dia bercerita dan sesekali melempar pandangan ke bawah, ke sepasang kaki mulusnya dan sedikit paha yang tak tertutup oleh rok span-nya. Tapi konsentrasi pikiranku sebenarnya adalah, bagaimana "strategi" untuk memindahkan Alia dari tempat duduknya sekarang ke kasur yang kududuki, bagaimana cara memulainya. Memang, memulai adalah hal yang paling sulit. "Aneh ya gue.." katanya tiba-tiba. Dia baru menyadari mataku sering mampir ke kakinya. Aku sedikit gugup. "Emang kalo ke kantor gue mesti pakaian begini?" sambungnya. "Nggak ah, justru gue seneng loe pakai seragam." "Oh iya? Kenapa?" "Lebih feminim." "Emang gue maskulin ya?" "Bukan begitu. Gue emang lebih suka ngeliat cewek pakai rok dibanding pake celana panjang, apalagi.." "Apalagi apa?" "Kalo nggak pakai apa-apa." "Huh, dasar." "Sorry." Aku khawatir kalau dia tak suka gurauanku yang menjurus ini. Mukanya bersemu merah. Apakah ini saat memulai? Ayo Sam, bangkit dan dekati dia. 'Bangkit' sih sudah, yang di dalam celanaku, dekatinya ragu-ragu. Kenapa ragu? Dia sudah mau masuk kamar dengan pintu tertutup, apakah ini bukan suatu tanda? Iya, tapi kan duduk di kursi dan dia asyik cerita pengalamannya. Siapa tahu dia menunggu action kamu? Umm.. tapi masa tiba-tiba "nyerang", begitu. Nggak dong, gunakan cara seperti pengalaman kamu sebelumnya! Dia duduknya "jauh" sih. Okay, Aku ke kamar mandi pura-pura mau pipis supaya bisa pindah duduk. Nah, sudah duduk di kursi, tapi masih ada penghalangnya, ada meja bundar di antara kami. "Terus nanti selesai job training di situ, ngapain?" pancingku memulai obrolan. "Tulis laporan. Kan kerja sambil kumpulin data." Nah, mulailah dia bercerita lagi tentang job trainingnya, penuh semangat. Aku terus menatapi gerak bibirnya yang menggemaskan itu. "Eh, ngapain sih, ngeliatinnya gitu?" "Gitu kenapa?" "Tajem." "Seneng aja ngliatinnya." "Ngliatin apaan?" "Bibir kamu." "Kenapa, dower?" "Eh, nggak. Bibir kamu seksi." Telapak tanganku mampir di bahunya. Alia menunduk tapi tak menepis tanganku. Kuremas bahunya pelan. Masih menunduk. Dengan tangan masih di bahunya Aku bangkit mendekat, kedua tanganku di bahu kanan-kirinya. "Alia.." Dia masih menunduk. Wajahnya bersemu merah lagi. Kusentuhkan jariku di dagunya, mengangkat. Barulah matanya menatapku. Kepalaku bergerak pelan mendekati wajahnya, bibirnya kukecup. Sekali kecupan lalu kulepas lagi. Tak ada tanda-tanda penolakan. Serangan kedua pada bibirnya tak sekedar kecupan lagi tapi diikuti dengan lumatan. Pada detik kedua bibir Alia memberikan reaksi, lumatanku disambutnya. Nafasnya mulai memburu. Tangan kananku yang ada di bahunya perlahan bergeser turun. Telapak tanganku memberi sinyal bahwa buah yang tak begitu besar itu keras dan membulat, ternyata. Tentu saja tanganku tak puas hanya merasakan kekenyalan dadanya dari luar, ingin menyentuh kulitnya langsung. Dua kancing bajunya yang teratas telah kulepas dan detik berikutnya keempat jariku mulai menyusup ke balik bra Alia. Detik-detik berikutnya akan lancar saja, pikirku. Tapi ternyata tidak. Tangan Alia menarik tanganku yang baru saja merasakan halusnya kulit buah kenyal itu dan lumatanku pun dilepas. Alia menggeleng lembut sambil menyodorkan mulutnya lagi. Kulumat lagi. Dadanya tak boleh disentuh. Mungkin belum saatnya, aku harus bersabar. Ciuman dengan posisi begini tak nyaman juga. Kutarik tubuhnya, kubimbing ke kasur dan kurebahkan. Tak ada penolakan, aman. Bahkan Alia membentangkan kakinya. Dengan sendirinya kedua belah telapak tanganku segera menelusuri kedua pahanya, menyusup di balik roknya. Oops, lagi-lagi Alia menepis tanganku. Kenapa sih dia? Main tarik-ulur? Tanganku ditariknya sehingga tubuhku rebah menindihnya. Kami berciuman lagi. Bukan Sammy kalau tak mencoba dan mencoba lagi. Sambil terus melumat bibir tangan kananku menyusup lagi ke bawah menelusuri lengkungan pinggir pinggulnya. Tak ada gerakan perlawanan. Bahkan ketika tanganku berhasil mencapai kain celana dalam di pinggir pinggulnya. Bahkan ketika menarik karet celana dalamnya ke bawah tak ada juga perlawanan. Lebih jauh lagi, ketika telapak tanganku merasakan lebatnya bulu-bulu kewanitaannya. Bulu lebat itu tak mengagetkanku, lengannya memang ditumbuhi bulu lumayan lebat, apalagi "pusat"nya. Aku kaget karena Alia tak menolakku merabai kewanitaannya. Basah berlendir. Aku jadi penasaran ingin menikmati "pemandangan" di bawah sana. Aku bangkit dan menyingkap roknya. Alia memang unpredictable, tiba-tiba dia mencegah tanganku yang membuka roknya. Bingung gue. Yang membuatku makin bingung, Alia melepas kaitan ikat pinggangku, melepas kancing jeansku, menarik ritsnya dan karet celana dalamku dan merabai Juniorku sudah tak betah terkurung tegang. Aku seperti orang tolol yang hanya diam saja menyaksikan Alia mengelusi batang penisku. Bingung. Waktu kedua tanganku menyusupi pahanya, dia menolak. Tapi tak bereaksi sewaktu aku menarik celana dalamnya dan merabai kelaminnya. Aku yakin, dia bukannya tak tahu apa keinginanku saat ini, ingin menyetubuhinya. Tersirat dalam mail-mailnya dia tak menolak ketika aku "minta" kelak kalau ada kesempatan bertemu. Tubuh bawahku sudah telanjang, penisku sudah tegang mengacung. Tentunya dia makfum akan "langkah selanjutnya". Alia masih berpakaian lengkap, kecuali celana dalamnya yang sedikit bergeser ke bawah tapi masih nempel di pahanya. Gerakan Alia berikutnya lagi-lagi membuatku bingung. Tangannya berhenti mengelusi kelaminku lalu Alia bangkit berdiri. Selagi aku bengong mencoba mengerti tingkahnya ini, tiba-tiba kedua tangan Alia membuat gerakan cepat melepas celana dalamnya! Lalu, lagi-lagi dia menarik tubuhku hingga rebah menindih tubuhnya. Dengan gemas kugigiti kedua buah dadanya berganti-ganti kanan dan kiri. Tak langsung ke kulitnya sih, masih ada penghalang baju dan bra-nya. Apa boleh buat, memang hanya itu yang diizinkan. Beberapa kali aku berusaha membuka pakaian atasnya, dia selalu menolak. Aku tak tahan lagi, ingin segera memasuki tubuhnya. Dengkulku membuka pahanya dan penisku merengsek masuk mencapai selangkangannya. Kugeser-geser, kugosok-gosok, dan.. perlahan namun pasti, aku mulai masuk. Tak mudah memang, tapi tak susah benar. Aku tak kaget kalau dia sudah tak perawan lagi. Alia pernah cerita miliknya yang paling berharga telah diserahkan kepada pacarnya yang sekarang. "Itulah satu-satunya penis yang pernah kulihat dan memasuki tubuhku," tulisnya ketika itu. "Jadi nanti, punyaku yang kedua," balasku. "Iya, kalau jadi." Bersambung . . . .


Tuesday, January 8, 2013

Mojang Bandung

Awek Pantat Panas CantikBeberapa tahun lalu ketika perusahaan tempatku bekerja mendapatkan kontrak suatu proyek pada sebuah BUMN besar di Bandung, selama setahun aku ngantor di gedung megah kantor pusat BUMN itu. Fasilitas di gedung kantor ini lengkap. Ada beberapa bank, kantor pos dan kantin. Kantorku di lantai 3, di lantai 1 gedung ini terdapat sebuah toko milik koperasi pegawai BUMN ini yang menyediakan kebutuhan sehari-hari, mirip swalayan kecil. Ada 3 orang pegawai koperasi yang melayani toko ini, 2 diantaranya cewek. Seorang sudah berkeluarga, satu lagi single, 22 tahun, lumayan cantik, putih dan mulus, mungil, sebut saja Sari namanya.

Awalnya, aku tak ada niat "mengganggu" Sari, aku ke toko ini karena memang butuh makanan kecil dan rokok. Sari menarik perhatianku karena paha mulusnya "diobral". Roknya selalu model mini dan cara duduknya sembarangan. CD-nya sempat terlihat ketika ia jongkok mengambil dagangan yang terletak di bagian bawah rak kaca etalase. Aku jadi punya niat mengganggunya (dan tentu saja ingin menyetubuhinya) setelah tahu bahwa Sari ternyata genit dan omongannya "nyrempet-nyrempet". Niatku makin menggebu setelah Sari tak menunjukkan kemarahan ketika beberapa kali aku menjamah paha mulusnya dan bahkan sekali aku pernah meremas buah dadanya. Paling-paling ia hanya menepis tanganku sambil matanya jelalatan khawatir ada orang yang melihatnya. Tentu ini ada "ongkosnya", yaitu aku tak pernah minta uang kembalian.

Saturday, January 5, 2013

Isteri Sojar - Haslima

Awek Pantat Panas CantikHati Lina hanya tinggal sebahagian sahaja. Ada orang yang tidak pernah memulangkannya, walaupun Lina hanya pinjamkan sekejap. Ada yang pulangkan dengan penuh kelukaan. Ada yang sudi berikan sebahagian hatinya pula sebagai ganti. Dan jika nak tahu, setiap hati manusia ada nilai yang tersendiri.

Sekali hati terluka, kadangkala sukar untuk mengubati-nya. Ada kalanya, mengambil masa yang lama. Bila tiba sesuatu yang tidak diingini, mungkin pemilik hati itu akan menyendiri sehingga hatinya pulih semula. Hati yang diberi ini bukan untuk suka-suka. Ianya lahir atas satu kepercayaan. Dari situ, wujudlah rasa kasih sayang. Jika hilang rasa percaya itu, maka sukarlah untuk hati itu kem-bali indah.

Sunday, December 30, 2012

Nikmatnya rumput tetangga

Awek Pantat Panas CantikSebut saja namaku Pram, aku adalah suami dari seorang istri yang menurutku sungguh sangat sempurna. Namun begitu sebagaimana layaknya sebuah pepatah, rumput tetangga sangatlah segar, itu yang berlaku dalam kehidupanku. Walaupun pelayanan yang kuterima dari istriku sungguh tidak kurang suatu apapun, masih juga terlintas dalam anganku fantasi yang menggairahkan setiap kali Tante Amy lewat di depan rumah.

Tante Amy adalah seorang pengusaha Garment yang cukup ternama di kota Solo. Kalau tidak salah tafsir, usia Tante Amy sekitar 38 tahun, sementara suaminya adalah pemilik sebuah penginapan di Pantai Senggigi Pulau Lombok. Barangkali karena lokasi usaha pasutri ini yang berjauhan, mungkin itulah penyebab mereka sampai sekarang ini belum dikaruniani momongan. Tapi sudahlah, itu bukan urusanku, karena aku hanya berkepentingan dengan pemilik betis kaki yang berbulu halus milik Tante Amy yang selalu melintas dalam setiap fantasi seksku. Kalau menurut penilaianku betis kaki Tante Amy bak biji mentimun, sementara gumpalan buah dada, pantat maupun leher Tante Amy sangatlah sejuk kurasakan seiring dengan air liurku yang tertelan dalam kerongkonganku.

Sunday, December 23, 2012

Akhirnya Lusi berselingkuh - 2

Awek Pantat Panas CantikSaat ini kami berpakaian secara informal. Sebagai ganti setelan yang kaku, Martin mengenakan celana santai dan kaos polo. Aku memakai sebuah blus dan rok panjang. Kali ini saat payudaraku mulai menggosok pada tubuhnya aku bisa merasakan panas tubuhnya. Puting susuku mengeras dan aku pikir dia pasti bisa merasakannya. Perutku adakalanya menabraknya, menabrak kemaluan yang lurus keras yang pernah aku rasa sebelumnya. Satu lagu berganti yang lain, sebuah nomor lambat yang lain.

Setiap kali perutku menggosok penisnya, aku bisa merasakan tangannya pada pinggangku, dengan pelan menarikku mendekat. Tidak pernah kasar, tidak pernah lebih dari sekedar sebuah remasan yang lembut. Sepanjang waktu itu dia selalu bicara seolah-olah itu tidak terjadi, seolah-olah aku tidak sedang menggosokkan payudaraku pada tubuhnya, seolah-olah kemaluannya yang keras tidak sedang menekan ke perutku. Yang akhirnya, saat lagu hampir berakhir, aku mundur dengan kasar dan sungguh-sungguh.

Tuesday, November 13, 2012

Sedapnya wanita gemuk

Awek Pantat Panas CantikPengembaraan Abang N berkembang dalam dunia chatting. Kawan/partner tidak mengira usia dan status. Pokoknya siapa sahaja yang berhasrat dan berkeinginan menjadilah.

Pernahkah dengar ungkapan begini: "Kalau seseorang sayangkan seseorang, maka dia akan lakukan apa juga demi mempertahankan perhubungan mereka. Dan kadang-kadang timbulnya benci. Bila sudah benci, dia akan lakukan apa jua demi untuk memperlihatkan kebencian atau menimbulkan kebencian yang mendalam."

Saturday, November 3, 2012

Surabaya indah

Awek Pantat Panas CantikPagi ini aku sedang membereskan pakaianku untuk dimasukkan ke dalam koper. Ayahku memperhatikan dengan wajah sedih karena aku satu-satunya anak lelakinya harus pergi demi meraih masa depanku. Aku akan tinggal di Surabaya bersama Tante dan Oomku.
"Papa harap kamu bisa menjaga diri dan berbuat baik, menurut pada Oom Benny dan TanteLenny.." kata papaku.
Aku hanya diam menoleh menatap papaku yang nampak kurang bersemangat karena kepergianku, lalu kupeluk papaku.
"Saya tidak akan mengecewakan Papa.." kataku sambil menuju ke pintu.

Friday, October 26, 2012

Sukses sekali - 1

Awek Pantat Panas CantikAku masih jengkel dengan suasana hari ini. Pagi-pagi kok sudah adu mulut, kalau sudah begitu maka satu hariku penuh pasti penuh kemuraman dan kedongkolan. Emosiku sudah menyedot energi sampai-sampai kerjapun tidak konsentrasi dan asal masuk kantor saja. Huahm, emang cewek susah sekali dimengerti. Ada saja yang bisa membuatnya ngomel panjang pendek. Misal karena telat jemput tadi pagi, padahal toh cuma persoalan 5 menit (ditinjau dari setting arlojiku maksudnya, he... he... he...). Kapan-kapan gara-gara lupa mampir beliin minyak wangi titipannya, lain waktu gara-gara ketiduran di gedung bioskop, dan sebagainya.

Berhubung kejengkelanku belum sirna sama sekali maka aku cabut dari kantor sebelum jam 4, toh berlama-lama di kantor juga percuma. Mondar-mandir ke toilet cuci muka, pura-pura buang hajat padahal ngerokok, pura-pura serius menatap monitor padahal tidak ada satu file-pun yang kubuka kecuali screen saver yang meliuk-liuk warna-warni (untung meja kerja kami diberi pembatas meskipun tidak penuh, sehingga masing-masing karyawan masih memiliki privacy yang cukup memadai).

Saturday, October 20, 2012

Pengalaman mengejutkan - 3

Awek Pantat Panas CantikTeh Endang memandangku dengan pandangan sinis. Ia memandangi badan saya dari ujung rambut ke ujung kaki. Memang badan saya atletis, maklum saya rajin fitness. Tanpa aba-aba terlebih dahulu, Teh Endang langsung mengarahkan ciumannya kearah bibir saya. Tangannya meremas kedua pantat saya. Ciumannya sangat ganas dan liar. Mendapat perlakuan itu saya kaget sambil sedikit senang. Ternyata saya tidak dimarahi seperti yang telah saya bayangkan sebelumnya. Saya secara spontan membalasnya dengan liar pula. Pada waktu tangan saya hendak menyusup ke arah payudaranya dia menepis tangan saya.

"Gus masa cuma si Yuyun doang yang kebagian, Endang juga mau..", katanya sambil memegang penis saya yang dari tadi sudah berdiri.
"Belum apa-apa udah mau pegang punyaku, kamu nakal Gus..", katanya sambil tersenyum padaku.

Tuesday, September 25, 2012

Supir papaku - 1

Awek Pantat Panas CantikPapaku baru saja menyewa seorang supir baru karena supir yang lama berhenti. Supir baru ini lebih muda, bernama Adi. Badannya masih tegap dan umurnya 28, empat tahun lebih tua dibanding saya. Adi dikenalkan oleh teman ayahku yang hendak pindah ke Singapur. Karena tak ingin Adi menganggur, maka ia merekomendasikan Adi pada ayahku. Rumah ayahku memang tidak besar, hanya kami berdua yang menempatinya. Adi menempati kamar supir lama. Dalam sekejab, kamar sempit itu disulapnya menjadi kamar yang sangat bernuansa maskulin. Bahkan aroma cologne murahannya tercium tajam di setiap sudut kamarnya. Ayahku percaya sekali pada Adi meski masih pegawai baru. Namun, saya merasa ada sesuatu dalam dirinya yang misterius sekali, seakan-akan dia menyembunyikan sesuatu. Untuk ukuran seorang supir, Adi memang melebihi standar. Wajahnya tampan dan terkesan tangguh. Kehidupan masa lalunya nampak sangat keras, tergambar jelas di wajahnya yang tampan itu. Kulitnya tidak terlalu gelap, menyelimuti tubuhnya yang tegap dan atletis. Sebagai seorang pria, saya diam-diam iri dengannya. Meskipun penampilan fisik Adi memang luar biasa, namun nasibnya tidak begitu bagus sebab dia terjebak di tangga karir sebagai seorang supir pribadi. Tanpa ada yang tahu, saya sering mengintipnya mencuci mobil ayahku karena dia selalu melakukannya sambil bertelanjang dada. Ah, betapa saya ingin meremas dadanya itu. Tapi rasanya tak mungkin karena Adi terlihat sangat heteroseksual. Tak mungkin dia mau ngentotin saya. Sejak dulu, saya sudah sadar bahwa saya hanya tertarik pada pria, namun saya mencoba untuk menekan sifat homoseksual-ku. Jika ayahku tahu, dia pasti akan marah. Namun dengan kehadiran Adi, bebanku bertambah berat karena saya harus menekan nafsuku terhadapnya. Pernah, di suatu malam, saya menyelinap kelaur rumah dan diam-diam bersembunyi di luar jendela kamar Adi. Dari balik jendela itu, kulihat Adi sedang berbaring di ranjang sambil bertelanjang bulat. Kontolnya ngaceng sekali seperti baja. Mulut Adi agak membuka, nampaknya dia sedang mendesah-desah akibat rangsangan yang dia berikan pada kontolnya sendiri. Tanpa ampun, kontolnya dikocok-kocok dengan kecepatan tinggi. Saya hanya bisa menelan ludah melihat dadanya yang sempurna dan juga kontolnya yang besar. Adi terlalu larut dalam lamunan joroknya sehingga dia tak menyadari keberadaanku. Kudengar dia mengerang, "Oohh.. Hhoohh.. Oohh.." Kontolnya berdenyut-denyut di tangannya. Sesekali, Adi meludahi kontolnya sebagai pelumas. Tidak tahan melihat adegan erotis itu, saya buru-buru mengeluarkan kontolku sendiri dan mulai sibuk mengocoknya. Napasku memburu-buru menyaksikan Adi membelai-belai dada bidangnya sendiri dengan penuh sensualitas. Ingin rasanya kupeluk tubuhnya yang atletis dan seksi itu. "Aahh.." desahku saat kontolku mengeluarkan precum. Sebutir cairan bening melepaskan dirinya dari lubang kontolku. Cairan itu langsung kuambil dengan jariku, lalu kujilat. Mm.. enak sekali. Udara malam yang dingin malah membuatku semakin terangsang. Setelah bermenit-menit mengocok, akhirnya yang kutunggu-tunggu datang juga. Kulihat Adi mulai gelisah, tubuhnya bergetar dna mengencang. Seluruh ototnya berkontraksi seakan sednag menahan sesuatu. Wajah Adi yang ganteng sedikit menyeringai menahan nikmat yang teramat sangat. Dan lalu.. Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Mataku hampir terbelalak saat kulihat pejuh putih kentalnya muncrat ke atas dan jatuh kembali mendarat di atas tubuhnya. "Aarrgghh!! Hhoohh!! Oohh!! Uugghh!! Aahh!!" Adi terus-menerus mengerang dan mendesah. Tubuhnya yang kekar atletis itu mengejang-ngejang seperti orang kesurupan. Kontol perkasa itu terus menembakkan pejuhnya selama beberapa kali sampai akhirnya berhenti sama sekali. Kulihat, tubuh Adi basah kuyup dengan pejuh bercampur keringat. Kolam pejuh sudah terbentuk di perutnya yang berkotak-kotak akibat ejakulasinya tadi. Tanpa rasa jijik, Adi meraup pejuhnya dengan tangannya dan kemudian mendekatkannya ke bibirnya. Dengan mata kepalaku sendiri, kusaksikan cairan kejantanannya menete ke dalam mulutnya. Adi menelan pejuhnya sendiri! Dan dia nampak sangat menyukainya. Saya tak sempat menyaksikan apa yang diperbuat Adi selanjutnya sebab orgasmeku sendiri hampir datang. Sambil menahan eranganku, saya membiarkan tubuhku dikejangkan oleh orgasmeku. "Hhoohh!! Oohh!! Oohh!! Hhoohh!!" Pejuhku dimuntahkan ke atas rerumputan. Tubuhku tak berdaya, diguncnag orgasme dan saya harus berpegangan pada tembok jika saya tak mau terjatuh. Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Hampir selama semenit, saya mendesah dan mengejang. Rasanya nikmat sekali. Kubayangkan betapa nikmatnya berejakulasi dalam pelukan Adi. Oh, saya berharap mimpiku dapat terwujud suatu saat. Kemudian, saya buru-buru kembali masuk ke dalam rumah, dan kembali memerankan peranku sebagai pria heteroseksual. Setiap pagi, Adi bangun dan mencuci mobil, lalu mengantarkan ayahku ke kantor. Adi kemudian pulang lagi sampai sore dan lalu menjemput ayahku. Begitulah kegiatannya sehari-hari. Namun terkadang, saya merasa seolah-olah Adi juga sering menatapku secara diam-diam. Misteri dalam diri Adi semakin besar, hingga suatu ketika, saya mengetahui apa yang disembunyikannya selama ini.. Suatu pagi, saya kembali mengintipnya dari balik jendelaku. Jendela kamarku kebetulan menghadap keluar sehingga kapan pun Adi sedang sibuk mencuci mobil, saya pasti berkesempatan untuk mengintip tubuhnya. Pagi itu, entah kenapa, Adi hanya mengenakan celana dalamnya yang terlihat usang. Dengan santai, dia mencuci mobil ayahku. Tentu saja air terciprat dan membasahi celana dalamnya itu. Dalam sekejab mata, celana itu basah kuyup. Berhubung celana itu agak tipis, pantatnya yang padat itu tercetak dengan jelas. Kontolku langsung ngaceng. Birahiku menyala-nyala. Tak kuat membendung nafsuku, saya buru-buru melepas celanaku dan mengeluarkan kontolku. "Aahh.." desahku melihat adegan erotis itu. Adi nampak sengaja meliuk-liukkan pinggulnya, seakan menggodaku. Tiba-tiba, Adi membalikan tubuhnya. Tentu saja saya kaget setengah mati. Untung saja jendelaku diselimuti tirai sehingga tubuhku agak tersamar. Dari balik tirai, kusaksikan cetakan kontolnya di balik celana dalam basah itu. "Aahh, besar sekali," gumamku, penuh nafsu. Kontolku sendiri mulai bocor dengan precum. Kuperas-peras batang kontolku dan semakin banyak precum yang keluar. Sambil ngocok, saya memata-matai gerak-gerik Adi. Sesekali kulihat Adi sengaja mengelus-ngelus kontolnya dari balik celananya. "Oohh.. Hhoohh.. Hhoosshh.." Napasku makin berat dan tak beraturan. Kubayangkan bagaimana nikmatnya bercinta dengan supir itu, merasakan tubuhnya, memegang kontolnya, dan dingentot. Semua bayangan-bayangan erotis itu, ditambah dengan live-show yang sedang digelar Adi di luar, memacu orgasme. Kontolku semakin ngaceng dan basah, namun saya tetap memerasnya sampai.. "Oohh.. Oohh.. Aarrgghh!!" Kontolku berdenyut keras tiap kali pejuh dimuntahkan keluar. Tubuhku bergetar dan mengejang, seiring dengan gelombang orgasme yang kurasakan. Ccrrott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Tirai tempat persembunyianku juga ikut bergerak, terkena tubuhku. Tanpa kusadari, tirai itu tersibak, dan Adi tak snegaja melihatnya. Dia menyaksikan bagaimana saya dikuasai orgasme. "Aarggh!! Oohh!! HhoH!! Aahh!!" erangku, terus saja memerah kontolku. Pejuhku bermuncratan ke atas lantai, menciptakan genangan pejuh. "Oohh.. Hhohh.. Hhsshh.." Dan semuanya kembali seperti semula. Kontolku mengempis, napasku kembali teratur, dan saya tersadar kembali. Saat kuintip Adi, ternyata supir itu sudah tidak ada dan mobil ayahku sudah bersih mengkilap. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Adi sedang merencanakan aksi pemerkosaan terhadapku! Siang itu setelah mengantarkan ayahku, Adi menghampiriku di dapur. Saya baru saja selesai makan siang dan hendak mencuci piring saat Adi tiba-tiba berdiri di belakangku. Dengan sensual, ditempelkannya tubuhnya ke punggungku. Sebuah benjolan mendorong-dorong pantatku. Tentu saja saya jadi kaget tapi senang. Namun di lain pihak, saya takut kalau itu hanyalah jebakan saja. Bagaimana jika dia hanya ingin mengetesku saja? Maka kuputuskan untuk tetap memainkan peran sebagai seorang pria 'straight'. Berpura-pura tersinggung, kudorong tubuhnya dengan punggungku. "Kenapa sih, Bang Adi? Salah minum obat yach?" Saat kubalikkan badanku, saya baru sadar bahwa Adi sudah bertelanjang dada. Pantas saja, saat dia menempelkan badannya ke punggungku, saya dapat merasakan dengan jelas setiap kontur dadanya yang berotot. Badan Adi yang atletis mengingatkanku pada badan Jason Brooks, cowok ganteng yang berperan sebagai Sean Monroe di Baywatch Hawaii. Puting Adi yang kecoklatan nampak menegang dan melenting, menjaga otot pektoralnya yang aduhai. Di bawah dada bidang itu, nampak otot perut six-pack yang kotak-kotak seperti papan cuci. Rambut-rambut halus tumbuh menyebar di dada Adi, lalu turun ke belahan six-pack-nya, dan kemudian menghilang di balik celana panjang hitamnya. Untuk sejenak, saya terhanyut dalam lamunanku, membayangkan isi di balik celana itu. Keringat dingin mulai mengucur saat saya menyadari apa yang sedang Adi lakukan. Dia sedang menggodaku! Dan celakanya, tak ada seorang pun di rumah selain Adi dan saya. 'Astaga, jika Adi benar homoseksual, apakah dia akan memperkosaku,' tanyaku panik pada diriku sendiri. Tak ada seorang pun di dunia ini yang mau diperkosa, bahkan pria gay sekalipun, karena pemerkosaan berkonotasi negatif dan kasar. Namun entah kenapa, tiba-tiba saya terangsang sekali. Saya membayangkan diriku terbaring bugil tak berdaya di lantai sementara Adi mengentotinku dengan kasar. Kontolku mulai tegang dan tercetak di balik celanaku. Saya sama sekali tak menyadarinya, namun Adi sadar dan telah melihatnya! "Tenang saja, gue gak bakal nyakitin loe. Gue cuma mau bersenang-senang saja, kok," kilahnya.
Bersambung . . . . .