k Cerita Awek

Tuesday, May 8, 2012

Jangan panggil aku selebritis

Awek Pantat Panas Cantik(by: kotaro_bee@yahoo.com) "Siapa bilang jadi artis itu enak? kalau orang tak menjalaninya sendiri, tak akan pernah tahu yang sebenarnya!". Itu kata seorang teman pada suatu waktu lewat email yang dikirimkannya padaku. Semula, aku sempat terheran-heran membacanya, kupikir dia hanya sekedar berkelakar saja. Dalam keherananku, aku pun membalasnya dengan menyelipkan sebuah pertanyaan singkat yang membutuhkan sebuah jawaban yang sangat panjang dan sejelas-jelasnya:"Kenapa?" Tiga hari kemudian dia mengirimkan sepucuk email balasan yang membuatku terperangah di depan komputer, aku bahkan sampai tak berkedip sekalipun ketika membacanya kata per kata. Kala itu, seakan aku dapat membayangkan bahwa aku sendiri yang berada dalam cerita yang merupakan curahan hatinya itu. Aku sebenarnya ingin menangis, kalau bisa. Tapi aku coba untuk mengontrol emosiku saat itu, apalagi aku berada di warnet yang kebetulan ramai pengunjung malam itu. Andy (=nama samaran) adalah seorang penpal dari Jakarta yang aku kenal lewat dunia maya, internet. Dia yang pertama kali mengirimkan sepucuk email kepadaku beberapa hari setelah salah satu ceritaku dimuat di situs ini. Kebetulan, temanku yang satu ini adalah seorang cover boy di salah satu majalah remaja Aneka, dan juga bintang iklan dan sempat bermain dalam beberapa sinetron remaja. Tampangnya pasti sudah tak asing lagi dengan wajah orientalnya yang khas dan tampak cute, apalagi di kalangan the teenagers. Yang berikut ini adalah curahan hatinya sendiri, berdasarkan apa yang dapat kutangkap dari ceritanya. Ia mengijinkan aku menyusunnya menjadi sebuah tulisan di situs ini, dengan syarat tidak menyinggung sedikit pun tentang identitas dan segala sesuatu yang khas dalam dirinya yang membuat para pembaca akan langsung dapat mengenalinya. Dan, sebagai seorang sahabat yang baik, aku akan menepati janjiku untuk menjaga rahasia ini. Jadi, aku harap para pembaca tak perlu menanyakan kepadaku", siapakah dia?" karena itu merupakan salah satu pertanyaan yang tak akan kujawab. Silahkan tebak sendiri, atau mungkin saja dia adalah orang yang duduk di dekat anda dan membaca cerita ini bersama dengan anda. Tak ada salahnya juga, sesekali curiga pada teman, iya kan? Ok, lebih baik aku ucapkan:"selamat membaca!" saja, semoga kalian suka dengan ceritanya. ***** Langit ibukota masih tampak kemerahan saat itu, belum lagi matahari terbenam ketika aku baru keluar dari studio X untuk keperluan syuting iklan sebuah produk minuman kemasan. Senang sekali rasanya setelah sepanjang hari, aku harus beraksi di depan kamera dan menjalani syuting berulang kali yang cukup menguras tenagaku saat itu. Belum lagi, semalam aku pulang larut dan baru tidur jam 1 dini hari setelah syuting sinetron. Hampir setiap hari seperti ini, bahkan seolah sudah menjadi sebuah rutinitas harian. Di satu sisi, aku menyukai pekerjaanku ini karena inilah obsesiku sejak kecil, aku ingin menjadi seorang entertainer yang profesional. Tetapi, siapa yang mampu bertahan, kalau ternyata harus menjalaninya dengan kerja keras semacam ini, sementara anak-anak lain seusiaku bisa bersenang-senang di luar sana dan menghabiskan waktu dengan teman-teman mereka. Terkadang aku berpikir kalau aku ini sebenarnya tergolong kuper alias kurang pergaulan, hanya saja tak banyak orang yang menyadarinya. Kebanyakan orang akan berpikir sebaliknya karena profesiku sebagai"selebritis". Jujur saja, sebenarnya aku tak begitu senang diberi julukan selebritis. Bagiku, itu adalah sebuah tanggung jawab yang besar yang hanya akan menambah bebanku, sebab seorang selebritis, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, pasti akan menjadi seorang public figure yang menjadi sorotan banyak orang. Otomatis, seorang selebritis tak pantas untuk punya cacat cela sedikit pun dalam dirinya agar ia bisa menjadi role model yang baik bagi banyak orang. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi seorang selebritis sejati dengan keadaanku sekarang? Aku sungguh tak pantas untuk menjadi seorang panutan. Petang itu sebenarnya masih terlalu siang untuk pulang, lagi pula jarang-jarang aku pulang syuting jam segitu. Paling-paling pulang sore hanya untuk mandi, setelah itu kembali lagi ke lokasi syuting dan baru pulang larut malam. Tapi hari itu beda, malamnya aku memang tak ada jadwal syuting. Jadi, aku punya waktu untuk sekedar menyegarkan otak sambil jalan-jalan malam itu. Tapi, dengan siapa? itu yang jadi masalah berikutnya. Aku paling malas kalau jalan-jalan sendirian, paling tidak harus dengan teman-teman smu-ku dulu. Aku kangen dengan tawa mereka, setelah tak bertemu selama 2 mingguan belakangan ini. Setelah pulang ke rumah dan mandi, aku pun mencoba untuk menelepon salah seorang temanku, Justin, untuk mengajaknya jalan-jalan malam itu. Lama sekali telepon tak diangkat, sehingga aku pun lantas memutuskan untuk menghubungi nomor HP-nya saja. "Aku lagi di Thamrin. Ok, sebentar aku mampir ke tempatmu!" sahut Justin sebelum ia menutup teleponnya. Aku belum sempat bertanya, ia bersama siapa saat itu, tapi yang jelas ia tak sendirian karena aku mendengar suara seseorang di telepon. Paling-paling ia bersama Denny atau Ricky, pikirku. Jam setengah tujuh, tiba-tiba kudengar suara klakson di depan rumahku. Sebuah sedan Jaguar hitam sudah parkir tepat di depan pagar rumahku, jelas itu bukan mobil Justin. Tak mungkin Jeep 80-an berubah menjadi Jaguar dalam dua minggu ini selama aku tak bertemu dengan Justin, pikirku iseng. "Dy, kenalin, ini Boni!" "Andy!" kataku sambil menjulurkan tangan. "Yah, tentu saja. Bagaimana aku tak mengenalimu?" sahut Boni. Aku hanya tersenyum mendengarnya, aku tak ingin besar kepala dan merasa begitu terkenal di mata banyak orang. Tapi ternyata topi dan kacamata yang kupakai tidak bisa menyembunyikan identitasku di mata Boni, ia masih mengenali wajahku. "Kita mau kemana?" tanyaku kemudian setelah mengambil tempat di jok belakang. "Ke PS! Tapi, kita makan dulu. Boni mau traktir nih!" gurau Justin sambil main mata ke arah Boni. Yang bernama Boni itu sebenarnya tidak seumuran kami, usianya sudah 26 tahun, lebih tua 5 tahun dari kami. Tapi tampangnya lumayan juga, mukanya bersih dan berpostur atletis sekalipun tak seganteng Jerry Yan, but he's good looking. Dan lebih lagi, tampak jelas kalau ia anak orang tajir. Tak lama kemudian, Justin melajukan mobil Boni menuju salah satu cafe langganan Boni yang tak jauh dari Plaza Senayan. Usai ke kafe, kami masih sempat cuci mata di Plaza Senayan dan berkeliling kota. Kami bertiga menghabiskan waktu sambil jalan-jalan sampai larut malam, dan hampir jam 12 malam ketika kami memutuskan untuk pulang. Namun, tiba-tiba Boni bermain mata pada Justin. Aku tak mengerti apa maksudnya, tampaknya Boni mengingatkan sesuatu pada Justin. Karena sesudah itu Justin langsung memutar balik mobilnya. "Mau kemana lagi?" tanyaku tak mengerti. "Tenang saja. Cuma sebentar kok!" sahut Justin sambil cengar-cengir. Ternyata, Justin membawa kami ke salah satu"pusat jajan" di Jakarta Pusat, tempat transaksi seks yang merupakan salah satu tempat yang masih ramai di tengah malam seperti saat itu. Tak berapa lama, mobil dihentikan di pinggir trotoar dan seorang pria berpenampilan parlente mendekati mobil kami. Aku hanya diam saja saat itu, hal begituan memang bukan bagianku, aku bahkan tak pernah mencoba-coba untuk lewat tempat ini di waktu malam sebab aku dengar tempat ini memang dipakai sebagai tempat mangkal para gigolo ibukota. Tidak lama, Boni terlibat tawar menawar dengan pria itu. Karena rupanya Boni akhirnya bersedia membayar tarif 3 juta yang dipatok oleh pria itu. Dan singkat cerita, Boni"membawa" pria berusia kurang lebih 24 tahunan itu. Pria itu didudukkan di sebelahku, di jok belakang. Aku sendiri memilih untuk memojok ke dekat pintu, sambil mengalihkan pandanganku dari pria di sebelahku itu. Tapi, ternyata pria itu berkali-kali mencuri-curi pandang ke arahku seolah-olah sedang mengamatiku. Kemudian, ia memberanikan diri memegang pundakku dan bertanya", Kamu Andy yang bintang iklan itu yah?" Jantungku rasanya langsung mau copot ketika mendengar pertanyaan itu. Aku tak tahu bagaimana harus menjawabnya. Aku tak mungkin berbohong. Lama aku hanya diam saja, pura-pura tak mendengar. Namun, tetap saja pria itu ngotot dengan pertanyaannya. Akhirnya, aku pun mengangguk saja. Setelah itu, kami pun berkenalan dan baru kuketahui kalau namanya Ryan. Tentang profesinya, sudah jelas tak perlu kutanyakan lagi, aku malas berbasa-basi kalau aku sudah tahu. Malam itu, ternyata mereka bertiga hendak menginap di apartemen Boni. Semula, aku minta diantar pulang saja ketika mereka mengajakku menginap bareng. Tapi, Justin dan Boni malah mendesakku terus, bahkan Justin ngotot membawaku ke apartemen Boni, ia mengendarai mobilnya sama sekali tak menuju arah rumahku. Akhirnya aku pun menyerah juga, lagi pula kupikir toh besok aku mulai syuting agak siangan jadi aku bisa saja kalau menginap di rumah Boni malam ini. Tapi apa yang mereka akan lakukan dengan seorang gigolo di apartemen Boni nantinya, aku tak berani membayangkannya. Yang jelas, malam ini pastilah akan terjadi pertempuran seru di dalam kamar apartemen Boni. Benar saja, sesampainya di dalam kamar apartemen Boni yang mewah. Boni langsung mengambil empat buah kondom dari laci meja di dekat ranjangnya, ia membagikannya pada kami bertiga. "Tidak, Bon. Sorry, Aku tak ikut kalian!" kataku saat Boni menyodorkan kondom kepadaku. Aku mengembalikan kembali kondom itu ke tangan Boni, namun Boni malah mencengkeram tanganku dan memaksaku untuk menerimanya. "Pakai saja. Kau belum pernah tau nikmatnya kan?" kata Boni sambil nyengir. Saat itu, betul-betul adalah pergumulan yang sangat berat dalam batinku. Aku pernah bersumpah untuk tak mau melakukannya lagi sejak Om James (=baca artikel: Obsesi sang model) meninggalkanku beberapa tahun silam. Boni dan Justin memang tak pernah tahu perihal hubunganku dengan om James, yang mereka tahu hanyalah aku seorang model yang sukses, tanpa mengetahui siapa yang ada di balik kesuksesanku dan telah mengangkatku dari jurang kemiskinan ke suatu tempat yang menjadi impian banyak orang. Mereka menyangka kalau aku seorang anak muda yang alim dan tak banyak tingkah seperti mereka, jadi dianggapnya aku tak berpengalaman untuk urusan permainan liar itu. Syukurlah, kalau mereka menganggapku seperti itu. Namun bagiku, seolah-olah aku hidup dalam kemunafikan saja saat itu. Aku ibarat sebuah kuburan yang bercat putih di luar, namun penuh tulang belulang dan kebusukan di dalamnya. Habis itu, Boni mulai melancarkan aksinya (Baru kuketahui kalau Boni ternyata seorang gay yang hiperseks), Ia menghantar Ryan menuju ranjang asmaranya. Di sanalah, Ryan ditidurkan dalam posisi terlentang dan kemudian Boni mulai mempreteli pakaian Ryan satu per satu sampai pemuda itu hanya mengenakan celana dalam birunya saja. Bagian tubuh yang pertama diserang Boni tentulah sesuatu yang kelihatan menonjol di balik CD yang sangat seksi, yaitu tak lain adalah kontol Ryan yang cukup besar itu. Boni langsung mencaploknya dengan mulutnya dan menghisapnya dari bagian luar celana dalam Ryan. Sesekali lidahnya bermain-main di seputar pusar dan kedua selangkangan Ryan yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang berwarna hitam lebat. Pemuda itu memang tergolong pria berbulu yang seksi. Sementara itu, aku dan Justin yang duduk di sofa dekat jendela hanya memelototi aksi Boni dan Ryan itu tak berkedip, sebuah tontonan live yang gratis. Justin bahkan menggesek-gesekkan tangannya di kemaluannya, tak puas dari bagian luar, ia pun mulai memasukkan tangannya ke dalam sela-sela celananya. Sempat kulirik sebentar ketika Justin memasukkan tangannya itu, ia sepertinya sangat menikmati permainan solonya itu untuk merangsang libidonya sendiri. Tapi tiba-tiba diluar dugaan, Justin menggenggam tanganku dan memandunya untuk ikut memegang kemaluannya yang sudah full ereksi saat itu. "Buka, Dy. Aku horny banget!" pinta Justin agar aku membukakan restsleting celananya. Dengan agak gugup, aku pun menurut saja. Entah kenapa, aku jadi seperti robot saat itu, mungkin saja karena aku pun sedang terangsang sekali saat itu. Apalagi kulihat, Ryan dan Boni sudah bergulingan di atas ranjang sambil saling melumat satu sama lain tanpa berpakaian lagi, keduanya sudah telanjang bulat! Aku membantu Justin membuka restsleting celananya dan juga kancing bajunya. Setelah itu kupelorotkan celananya, sehingga ia hanya mengenakan baju yang terbuka dan celana dalam saja. Kemudian tanpa terkontrol lagi, aku langsung mendaratkan ciumanku yang pertama ke bibir Justin yang seksi. Sementara itu, tanganku bergerilya di seputar dadanya dan kemaluannya secara bergantian. Kuselipkan tanganku ke balik kemejanya dan kemudian kuremas-remas kedua puting susunya, sambil sesekali diiringi remasan-remasan pada bagian pinggang dan sentuhan-sentuhan maut ke seluruh bagian dadanya yang bidang itu. Sementara itu, tanganku yang satu lagi meremas-remas bagian belakang kepala Justin. Kami berdua saling menghisap, saling melumat, saling menggigit dan bermain lidah. Kurasakan desahan nafas Justin yang membuatku makin terangsang untuk terus menikmati tubuhnya, ia sesekali menggeliat-geliat di atas sofa sambil mendekapku dengan erat. Justin lalu memasukkan tangannya ke dalam celanaku, ia meraba-raba kontolku yang sudah tegang dan basah oleh cairan precum saat itu. Ia lantas meremas-remasnya dengan gemas, sebelum akhirnya ia pun membuka celanaku dan membuatku panthless saat itu. Setelah usai permainan lumat melumat, Justin berjongkok di depanku dan memulai lumatan yang baru yaitu melumat kontolku. Bagai diburu nafsu yang membara, Justin terus memainkan kontolku di mulutnya, ia menghisapnya keluar masuk dan menjilatinya seolah sedang menikmati es krim cone. Sesekali ia mengocoknya. "Argh!" desahku ketika rasa nikmat tak kuasa lagi untuk kutahan. Kurasakan kenikmatan tiada tara ketika kulit pembungkus rudalku bergesekan dengan liang mulut Justin. Apalagi ketika ia membawanya keluar masuk mulutnya. Sampai pada puncaknya ketika cairan kelelakianku mulai menyemprot dan bertumpahan memenuhi mulutnya. Aku langsung lemas saat itu seiring dengan mengendurnya urat-urat pada kontolku. Sebagai seorang gigolo profesional yang sudah punya jam terbang tinggi, Ryan pun tak kalah liar dibandingkan Boni. Ia mencoba memuaskan pelanggannya itu dengan jurus-jurus mautnya. Dalam keadaan telanjang bulat di atas kasur, Ryan lantas menindih paha Boni sambil memegang secangkir lemon juice di tangannya. Setetes demi setetes, ia menumpahkannya di dada dan perut Boni, dan sesudah itu ia membungkuk dan menjilatinya dari tubuh Boni. Boni pun terlihat menggelinjang-gelinjang dan mendesis tak kuasa menahan rasa geli bercampur nikmat saat itu. Ryan terus bergerilya di seputar dada dan perut Boni dengan lidahnya. Kemudian, lagi-lagi Ryan menindih tubuh Boni, mereka saling melumat lagi dengan bibir mereka, sementara kontol mereka saling digesek-gesekkan di bagian bawah sana. Selanjutnya tak banyak yang bisa kuceritakan tentang malam itu, aku tak begitu ingat semuanya. Yang jelas, malam itu aku pun sempat menikmati permainan seorang gigolo, dan itu untuk yang pertama kali dan terakhir bagiku. Jujur saja, aku tak sanggup mengimbangi permainan orang-orang semacam Ryan dan Boni yang kelewat hiperseks. Tapi lain halnya dengan Justin, aku senang bermain dengannya. Karena sejak malam itu, kami masih sering mengulanginya dan menghabiskan waktu bersama. Justin pun kini menjadi sudah menjadi bf-ku, dan tak ada seorang pun di sekeliling kami yang curiga ketika kami jalan bersama, karena mereka rata-rata sudah tahu kalau kami bersahabat sejak lama. Jadi mereka pikir, kami hanyalah sepasang sahabat karib, yah kuharap tetap seperti itu saja! Karena mau atau tidak, suka atau tidak, orang akan tetap memanggilku "selebritis", jadi aku harus selalu kelihatan tampil baik di depan mata mereka. Hanya saja kalau boleh mengajukan permintaan saat ini, aku hanya ingin minta satu hal saja", jangan panggil aku selebritis!" Tujuanku mengungkapkan semua ini bukan apa-apa atau untuk mencari sensasi, sebab aku rasa aku sudah tak perlu lagi mencari popularitas dan sensasi karena semuanya sudah kudapatkan dan itu tak ada gunanya bagiku. Tetapi, aku hanya sekedar mau mengingatkan kalian bahwa jika ingin menjadi seorang selebritis, siapkanlah mental yang cukup agar tak sampai terjerumus kepada hal-hal yang seharusnya tak perlu terjadi, sebab kehidupan selebritis tak sekedar bicara tentang popularitas, keglamoran dan kemewahan, melainkan juga berbicara tentang sebuah tantangan yang sangat complicated yang akan membuatmu langsung diperhadapkan pada pilihan: hidup atau mati, digilas atau menggilas, dan lain sebagainya. ***** Salamku untuk semua teman-teman di seluruh Nusantara, aku mencintai kalian semua. Salam - Andy.
Tamat


Monday, May 7, 2012

Lily Panther - Bintang-bintang pun berebut - 1

Awek Pantat Panas CantikSANG JENDERAL

Aku diberitahu Om Lok untuk segera bersiap karena seorang pejabat akan datang, seperti bisa kalau pejabat baik itu sipil maupun militer, bisaanya beliau datang saat jam istirahat, biasa Sex After Lunch or Sex During Lunch.
Saat itu aku tak tahu dari mana seorang Jendral atau pejabat punya duit berlebih untuk membayarku, tak terlintas dalam benakku kalau sebenarnya mereka tidak membayar dari kantungnya sendiri, tapi atas service dari orang lain, kolega, konco KKN, rekanan bisnis atau lainnya. Baru belakangan setelah aku freelance aku tahu semua permainan para pejabat dan pengusaha, terlalu busuk untuk diikuti memang, tapi toh sedikit banyak aku ikutan menikmati manisnya era Orde Baru.

Saturday, May 5, 2012

Linda, marketing manager yang menggairahkan

Awek Pantat Panas CantikPerkenalkan namaku Roni (samaran). Aku adalah seorang WNI Keturunan yang berdomisili di kota D di pulau B. Umurku 30 tahun. Saat ini aku sudah mempunyai seorang istri tapi belum dikaruniai seorang anak. Aku dulu sangat suka bercinta dengan perempuan, tapi hanya terbatas pada orang yang aku kenal. Dan hanya hubungan ONE NIGHT STAND, alias cinta semalam. Salah satu pengalamanku ingin kubagikan pada para penggemar situs Rumah Seks. Dan kisah ini benar-benar aku alami. Akan aku coba menceritakannya. Cerita ini dimulai dari kepindahanku ke Kota D di pulau B dari Kota S di Pulau J pada tahun 1997. Waktu itu aku baru berumur 25 tahun. Karena alasan untuk mengisi kekosongan di cabang perusahaan, aku dipindah tugaskan. Saat itu aku bekerja di salah satu perusahaan garment terbesar di Indonesia. Dan tugasku adalah sebagai marketing yang tugasnya mengorder atau menawarkan barang baru ke toko-toko besar maupun kecil termasuk departement store seperti Matahari, dll. Suatu hari aku menawarkan order ke sebuah dept store yang cukup populer di kota D tersebut. Untuk menemui bagian pembelian aku harus melewati bagian resepsionist terlebih dahulu. Pada hari itu aku terkejut karena yang menjaga bagian tersebut tidak kukenal (karena biasanya adalah orang lain). Orangnya cantik, berwajah oval, manis, berkulit kuning langsat dan sangat mulus. Bodinya yang sangat bahenol, pinggang yang ramping, berpantat besar, dengan payudara berukuran kira-kira 36C. Berambut hitam panjang. Siapapun lelaki yang melihatnya pasti(aku jamin) menelan ludah dengan sex appealnya yang tinggi dan sangat memikat itu. "Selamat siang", sapaku. "Oh ya, selamat siang," jawabnya dengan suara yang halus. "Saya ingin bertemu dengan Bapak Andrie di bagian pembelian," Kataku selanjutnya sambil mataku memandang tanpa berkedip ke wajah cantik dan dadanya, kebetulan waktu itu dia memakai blazer dengan kaus dalam yang berleher sangat rendah sehingga saya bisa melihat belahan payudaranya yang besar itu. "Baik tunggu sebentar," jawabnya sambil tersenyum manis, kemudian dia menelepon bagian pembelian. Sambil menunggu itu tidak henti-hentinya aku mencuri-curi pandang ke arahnya. Sementara dia, sepertinya merasa kuperhatikan, jadi sesekali tersenyum sambil menulis sesuatu di buku di hadapannya. Tak lama kemudian telepon berdering dan aku dipersilahkan masuk. Setelah selesai urusan tersebut, aku keluar melewati meja resepsionist, dan kulihat cewek (sebut saja Ayu) seperti biasa menjaga meja tersebut. "Hallo Yu," sapaku. "Eh, Pak Roni, dari tadi, Pak?" sahutnya. "Iya. Ini sudah selesai order. Eh Yu, tadi yang jaga meja ini siapa sih?" tanyaku langsung. Kami sudah cukup akrab karena keseringanku ke tempat ini. "Oh, itu tadi Ibu Linda, Pak, Manager Marketing yang baru, kenapa sih? Kok nanya-nanya?" tanyanya sambil tersenyum. Belum sempat kujawab, Si Cantik Linda muncul. Aku jadi sedikit salah tingkah. Apalagi.. "Bu, ini lho ditanyain sama Pak Roni," Ayu langsung nyerocos sampai wajahku terasa panas. Singkat cerita kami berkenalan dan saling memanggil nama karena kemudian kuketahui umurnya hanya terpaut setahun lebih tua dariku dan sudah menikah dengan orang yang usianya terpaut jauh darinya. Ayu sempat mengatakan kalau Linda baru saja berulang tahun. Dan sambil bercanda aku mengatakan kalau aku mau diajak makan-makan. Dan dia menyanggupinya. Pertemuan kami selanjutnya hanya di sekitar pekerjaan dan ngobrol masalah-masalah ringan. Suatu hari, saat suaminya berdinas di Jakarta, aku diundang ke rumahnya. Setelah aku tanya alamatnya, malam harinya aku datang ke rumahnya. Aku disambutnya dengan memakai baju kaus tipis tanpa lengan dan celana yang super pendek, hingga lekuk tubuhnya terlihat jelas, apalagi belahan pantat di bawah celananya makin merangsangku. Kaget juga melihat penampilannya yang seseksi itu, walaupun dia terlihat memakai BH, tak urung membuat nafsu dan adik kecilku merinding. Di rumahnya saat itu hanya dia sendiri ditemani pembantunya yang lebih sering berada di dapur seperti saat itu. Setelah sekian menit mengobrol, kami mulai saling mendekatkan diri. Sampai dadanya yang besar dan kenyal itu menyentuh dadaku. Dan mulai berpelukan dan saling mencium pipi, kemudian aku lanjutkan dengan mencium lehernya. "Kamu ternyata nakal juga ya, Ron," katanya sambil tertawa kecil saat saya ciumi leher jenjangnya. "Habis kamu sangat menggairahkan dan menggemaskan," jawabku sambil melancarkan serangan. Aku berusaha menembus daerah dadanya, tapi ditepisnya. Dan katanya jangan nanti nggak enak, kan dia sudah menikah. Jadinya aku harus menahan nafsuku malam itu walaupun pada saat penisku sudah sangat keras aku sempat menggesek-gesekkan ke perutnya sambil kami berdiri berpelukan. Malam itu aku pulang dengan hampa dan menahan gejolak nafsuku. Sesampainya aku di rumah, aku langsung bermasturbasi sambil membayangkan bersetubuh dengannya. Sejak hari itu, bila bertemu sikap kami biasa saja, hanya saling menyapa, bahkan kurasakan dia agak menjauhiku. Dan hal ini berlangsung cukup lama sampai kira-kira delapan bulan lamanya. Aku sudah hampir melupakan niatku untuk bercinta dengannya sampai suatu saat ada berita di pagerku (saat itu aku belum punya Hp) berupa undangan ke rumahnya untuk menepati janjinya waktu itu dia mengajakku makan merayakan ulang tahunnya. Aku telepon dia dan membuat janji (waktu itu suaminya bertugas ke luar kota). Malam itu pkl.10.00 aku datang ke rumahnya. Kembali aku disambut dengan pakaian yang menggairahkan berupa kaus tipis tanpa lengan dan rok pendek yang memperlihatkan cetakan pantat dan celana dalamnya. Dari pengalamanku yang lalu aku tidak ingin ceroboh lagi. "Kok sepi-sepi saja, Lin? Suamimu berapa hari tugas ke Jakarta?" tanyaku setelah beberapa lama berbasa-basi. "Empat hari. Eh, mau minum, Ron?"tanyanya. "Boleh," jawabku. "Aku tadi dapat pinjaman VCD dari temanku di kantor, dan aku belum nonton. Kamu sudah pernah nonton nggak?" Tanyanya sambil meletakkan minuman dan kemudian melangkah ke almari dekat kursi tamu. "Mana sih, aku lihat dulu judulnya," jawabku. Setelah diserahkannya, aku teliti ketiga VCD tersebut, dan aku agak terkejut karena salah satunya merupakan film mandari yang XX alias semi. "Yang dua sudah nonton sih, juga yang mandarin ini, Cuma waktu itu belum selesai. Kamu pengen nonton yang mana? Kalau aku yang mandarin ini aja," jawabku sambil berpikir untuk mencumbunya. "Boleh aja, tapi VCD playernya ada di kamarku,"jawabnya. Pikirku, wah kesempatan, nih. "Gak apa-apa kan, emangnya nggak boleh?" tanyaku memancing. "Boleh sih, yuk, kita ke kamarku," jawabnya sambil ngeloyor ke kamarnya di dekat ruang tamu. Setibanya di dalam, kami berdua duduk manis di depan TV-nya sambil menonton. Lalu aku mencoba untuk melingkarkan tanganku ke pundaknya. Dia tidak bereaksi. Lalu aku makin berani untuk membelai kepala dan rambutnya yang panjang dan lembut. Dia Cuma tersenyum saja aku perlakukan demikian. Lalu kusibakkan rambut di sekitar lehernya dan aku cium perlahan sambil menjilatnya pelan. "Ih, geli, Ron"katanya sambil bergidik. "Tenang aja, kamu nikmati ya,"jawabku. Aku mencumbunya dengan sangat pelan. Mulai dari lehernya, kemudian aku turun ke pangkal lengannya. Aku terus mencium dan menjilatinya perlahan sementara tanganku tetap membelai rambutnya dan yang satu membelai tangannya, tanpa aku berusaha untuk membuka pertahanannya yang manapun. Linda makin lama makin menggelinjang karena kegelian dan nafsunya yang perlahan mulai naik. "Ron, aku matikan saja ya VCD-nya? Toh juga nggak ditonton, sekalian lampunya ya,"katanya sambil sedikit terengah. "Oke,"jawabku. Lalu dia mematikan VCD, TV, dan lampu kamar tersebut, sehingga situasi remang, dan hanya diterangi oleh lampu teras. Walau demikian aku masih bisa melihat jelas semuanya. Setelah itu aku kembali melanjutkan aksiku. Aku menciumi bibirnya sambil membuka bajunya, sehingga dia hanya memakai BH dan roknya. Kemudian setelah beberapa lama; "Ron, kita buka aja semua yuk," ajaknya. "Ayuk,"jawabku, kemudian kami mulai melepas busana kami satu-satu sambil berdiri di tempat tidurnya. Terpampanglah pemandangan indah di depanku. Linda yang tersenyum manis, dengan payudara berbentuk bulat sempurna dan terlihat sangat kenyal serta bentuk tubuh yang mirip gitar spanyol, ramping, pinggul yang besar, dan terutama daerah kemaluannya yang tidak terlalu lebat, namun terlihat berbulu sangat halus. Kemudian aku mulai mencium bibirnya lembut sekali. Kunikmati ciuman-ciuman itu. Kemudian aku mulai turun menciumi leher jenjangnya yang mulus sambil tangan kiriku mulai memainkan susunya yang kenyal dan mulai mengeras, meremas dan memutar-mutar putingnya, sementara tangan kananku meraba bagian pantatnya yang juga besar dan padat. Setelah beberapa lama dia mulai bereaksi dengan membelai tubuhku dari punggung sampai kemudian berhenti di kemaluanku. Linda mulai membelai-belai adikku sambil mengocoknya perlahan. Wah, sensasinya sangat luar biasa. "Ron, burungmu keras sekali,"katanya sambil mendesah. Aku tidak menjawabnya karena sibuk mencumbunya. Kemudian perlahan-lahan aku rebahkan dia di tempat tidur. Dan aku mulai mencium dan menjilat turun dari bibir, leher sampai pada bagian susunya yang kuhisap dan kujilati perlahan. Aku menikmati susunya yang besar dan mulus banget. Aku jilatin daerah sekitar putingnya, sambil menyedot. Cukup lama aku menikmati susunya sambil aku remas-remas. Rasanya aku ingin menelan semuanya bulat-bulat. Linda menggelinjang sambil mengeluarkan suara erangan dan desisan dari mulutnya. Sambil menikmati cumbuanku, tangannya tak lepas dari penisku, membelainya lembut. Perlahan aku makin turun sampai pada perutnya, kemudian ke selangkangannya. Aku mulai mencari daerah pribadinya yang ditumbuhi bulu-bulu yang hitam, lembut dan tidak terlalu lebat. Aku terus menjilati sampai pada kemaluannya. Linda makin menggelinjang dan mendesis. "Oh..terus, Ron,..enak sekali..teruskan..,"desisnya. Maka aku makin menjilati kemaluannya sampai pada klitorisnya, kurasakan tubuhnya makin menegang. Kuhisap lembut klitoris dan kemaluannya yang berbau khas, hingga makin menaikkan gairahku. Kemaluan itu makin lama makin basah, mengeluarkan lendir yang aku jilat sampai puas. Pahanya mulai bergerak menjepit kepalaku, sehingga aku merasakan kemulusannya membelai pipiku. Tak lupa aku juga sebentar-sebentar enjilat paha dan daerah di sekitar vaginanya itu. Kemudian aku sedikit mengangkat pantatnya agar aku bisa menjilati lubang anusnya. Sementara itu, tangannya bergerak-gerak menggapai kepalaku sambil menekan makin dalam. Kembali aku mainkan lidahku di lubang vaginanya itu, masuk dan keluar. Linda makin menggelinjang dan kurasakan badannya makin mengejang. Setelah aku puas memainkan kemaluannya, aku memintanya ganti mencumbuku. Maka aku direbahkan dengan posisi dia di atasku. Linda mulai menciumiku dari bibir, leher, dan akhirnya ke susuku sambil tangannya membelai lembut penis dan testisku. Ciuman lembutnya sangat merangsangku sehingga adikku makin keras dan memanjang. (Oh ya, penisku tidak terlalu besar, tapi sangat kencang dan keras). Cukup lama dia menciumi daerah dadaku, kemudian dia semakin turun, dan tidak disangka (karena aku menikmati sambil memejamkan mata) dia mulai menjilat lembut kepala penisku. Aku sempat kaget karena tidak menyangka dia akan melakukannya. Aku nikmati saja jilatan-jilatan lembutnya. Kemudian dia mulai mengulum penisku juga sangat lembut. Wah, rasa dan sensasinya sangat luar biasa. Aku bagai terbang tinggi ke awan. Tidak sampai di situ, dia juga menjilati testisku yang makin merangsangku. Cukup lama dia menjilati penisku, sampai ada sedikit cairan yang keluar dan dia menjilatinya sampai habis. Kemudian dia perlahan bangun dan duduk di atas penisku. Pelan-pelan dia menggesek-gesekkan vaginanya di atas penisku. Vaginanya yang lembut dan licin serasa memijit penisku yang keras. "Oh,..enaknya..ss.ss.ss,"erangnya. Tak lama kemudian tubuhnya terlihat mengejang dan roboh ke dadaku. "Luar biasa, Ron, aku sampai bisa keluar,"bisiknya sambil terengah. Kemudian kami bercumbu lagi, dan dia mengulangi hal yang sama sampai dua kali, dan dalam waktu singkat dia mengalami orgasme kembali, sementara aku belum merasa ingin keluar. Maka aku nikmati saja permainannya, sampai kemudian.. "Aku masukin ya adikku,"kataku. "Ya, tapi pelan-pelan ya, "jawabnya. Maka aku mulai memasukkan penisku ke lubang senggamanya perlahan sampai semuanya masuk. Kemudian aku mulai menggoyang perlahan-lahan, makin lama makin cepat. Sementara dia mengerang dan mengejang Di antara desahan dan deru napasnya aku makin mempercepat gerakanku, sampai akhirnya.. "Lin..aku..mau..kell..luar," dan tersemburlah spermaku ke liangnya. Kemudian aku lemas. Aku biarkan penisku berada di vaginanya beberapa lama sambil merasakan denyutan-denyutannya yang menggairahkanku. Kami mengulangi permainan kami beberapa kali malam itu. Sampai waktu menunjukkan pukul 02.00 pagi. Dan aku pulang dengan kepuasan dan sedikit penyesalan (maklum istri orang). Keesokan siang, aku kembali ke rumahnya, dan bercinta sampai malam. Kemudian kami pergi makan malam seperti yang dijanjikannya. Setelah kejadian itu, kami bersikap biasa bila bertemu, karena kami tidak ingin orang lain tahu perbuatan kami. TAMAT


Friday, May 4, 2012

Bali bagus - 2

Awek Pantat Panas CantikRudi kemudian menarik punggung Dewi sehingga punggung Dewi tegak. Saya menjilat dan menghisap seluruh payudara Dewi. Tapi itu tidak bertahan lama karena tangan Rudi menjalar keseluruh tubuh Dewi. Akhirnya saya mengambil bir di mini bar lalu duduk dikursi menikmati adegan seksual yang liar itu. Beberapa kali Dewi melenguh pertanda ia mengalami orgasme tapi Rudi tidak berhenti sedikit pun.

Dewi kemudian melepaskan dirinya dan mendorong Rudi untuk duduk ditempat tidur. Dewi duduk dipangkuan Rudi dan mulai menggoyang pinggulnya. Pinggul dan pantat Dewi terlihat merah karena ditampar Rudi. Tak henti-hentinya Dewi berceracau disetubuhi Rudi. Akhirnya tidak lama kemudian Rudi ejakulasi. Rudi memegang pinggul Dewi dan meremasnya dengan keras. Dewi pun kembali orgasme lalu mereka berdua berebahan ditempat tidur dengan lemas.

Thursday, May 3, 2012

Cikgu Zainab guru olahraga

Awek Pantat Panas CantikKali ini N menemui pembaca situs Rumah Seks dengan ucapan timakacih kerana sudi membaca kisah N dan salam sejahtera. N melalui adventure baru yang tidak disangka-sangka- adventure lama tetap ada dengan inovasi-inovasi yang menarik yang dihidangkan oleh kakak-kakak dan makcik-makcik gersang di kompleks kepolisian itu.

Wanita yang lawo tetap diminati. Tambah-tambah yang memiliki kecantikan asli bukan ditampal dengan makeup yang tebal. Kalau bermakeup pun sekadar menyepuh melayah mendatangkan seri yang ampuh. Wanita yang wajahnya tidaklah lawo sangat tetapi mempunyai tubuh yang mengiurkan boleh memikat, tidak kurang juga dengan wanita-wanita yang berbadan gemuk mempunyai keistimewaan mereka.

Antara menggoda dan godaan - 2

Awek Pantat Panas CantikHampir jam 12 tengah malam, aku dan Bang Jay pulang dari rumah Bang Hotman. Kami membawa kaset demo untuk diperlihatkan pada Bu Poppy besok pagi. Dalam perjalanan pulang, ketika melewati daerah Kemang, Bang Jay usul untuk mampir ke cafe. Aku sedang capek dan mau langsung pulang saja dan tidur. Nggak enak juga rasanya aku menolak ajakan Bang Jay. Tapi fisik dan otakku rasanya capek banget. "Kalau abang mau, bawa mobil ini saja," usulku padanya yang sedang nyetir, "Aku turun di sini, pulang naik taxi." Huh! Usul yang tidak kompak, mengabaikan kebersamaan. Batinku protes. "Kasihan kamu pulang sendiri. Apalagi naik taxi. Jakarta rawan perampokan dan pemerkosaan. Harus hati-hati," kata Bang Jay."Apalagi tampang seperti kamu Yadi. Yang naksir banyak," tambahnya. Dia melirik ke arahku dan sedikit tertawa. Aku terdiam beberapa saat. Bang Jay juga memperhatikanku" Jalanan sekitar Blok M masih ramai, padahal sekarang sudah lewat tengah malam. Lampu hias yang berkelap-kelip membuat suasana sekitar menjadi semarak dan indah. Aku alihkan pembicaraan mengenai diriku dengan menanyakan soal Bu Ayu. Bang Jay menjelaskan bahwa biro iklan kami telah lama jadi rekanan perusahaan tempat Bu Ayu bekerja. Dan tanpa kuminta, Bang Jay terus bercerita bahwa hal yang wajar bisnis dengan servis layanan seksual. Kalau bosnya laki dikirim cewek untuk melayaninya. Dan kalau perempuan biasanya Bang Jay yang mencarikan cowok gigolo. Bang Jay cerita lagi, kalau aku langsung diterima bekerja karena penampilanku. Bukan karena nilai-nilaiku di ijazah atau lampiran prestasi lainnya. Bekerja di lingkungan bisnis di Jakarta memang harus punya tampang keren yang menjual disamping pintar dan trampil. Mestikah aku tersinggung setelah mengetahui ini" Karena itu aku dibiaran Bu Poppy bersama-sama dengan manajer pemasaran seperti Bu Ayu. Aku belum menyadari itu semua. Waktu dalam 2 bulan, belum mampu aku melihat gelagat bisnis seperti ini. Dalam hati aku berkeyakinan untuk memperlihatkan prastasiku, bukan tampang yang bagus saja. Olah raga yang kulakukan untuk menjaga kebugaran tubuhku dan peralatan perawatan tubuhku bukanlah yang utama. Tampil keren tapi nggak bisa apa-apa, buat apa? Sudah 2 minggu aku di aparteman ini. Kerja yang lumayan sibuk, tapi bagiku sangat menyenangkan. Bang Jay banyak membantuku. Dan satu hal lagi, aku tidak sampai terjerumus untuk 'berhubungan lebih jauh' dengan Bang Jay. Bang Jay dapat menjaga dirinya, walau kadang aku bisa tidak tahan untuk digoda Bang Jay. Bayangan akan indahnya tubuh Bang Jay ketika mandi yang pernah kulihat seringkali menggodaku untuk kembali mengulanginya. Terutama saat kudengar suara air ketika Bang Jay mandi. Keinginan untuk mendobrak masuk, sampai saat ini masih dapat kutahan. Siang ini Bima akan datang. Akhirnya dia model yang dipakai untuk promosi produk. Tadi dia telpon dan mengatakan mau mampir. Bang Jay sedang ke Mas Narto mengantar sketsa disain untuk poster yang telah aku buat beberapa koreksinya. Tinggal aku sendiri sambil main internet. Memeriksa email gratisku yang nyaris penuh. Lusa adalah jadwal kami shooting di studio sekitar Kebun Jeruk. Kami akan masuk siang setelah minta Rina untuk mengkonfirmasi jadwalnya. Semua telah sesuai rencana dan kami dapat jatah sehari penuh pemakain studio dan peralatannya. Settingnya pun mereka yang mempersiapkannya, sesuai dengan disain yang kami buat. Bel pintu berbunyi. Segera aku log-out dari halaman emailku, kemudian buka pintu. Bima sedang berdiri sambil tersenyum. "Aku tidak mengganggu, kan?" tanyanya. "Ah, nggak. Silahkan, Bim. Sendirian saja?" aku balik bertanya. Dia mengangguk sambil melangkah masuk. Dapat kucium aroma tubuhnya yang wangi. Ransel yang disandangnya ditaruh di lantai sambil buka sepatu. Dia kelihatan rapi dengan kemeja polos kuning dan celana jeans hitam ini. Segera aku tutup pintu. Aku persilahkan dia duduk di kursi tamu dan kuambilkan minum, dua botol aqua dari kulkas. "Aku tidak sabar untuk pengambilan gambar besok Sabtu," katanya. Dia buka botol air yang kuserahkan padanya. Kulihat wajahnya sangat ganteng dengan bulu mata dan alis yang hitam. Jambangnya terbentuk rapi. Ada lesung pipitnya di pipi dan dagunya sedikit belah. Kumis dan jenggotnya tercukur rapi. Rambutnya tidak begitu panjang tersisir rapi. Sesekali dia menyisir rambutnya yang jatuh di kening dengan jarinya. Ada sedikit desir di hatiku. Ada apa ini, Yadi" Kau naksir anak laki ya" batinku berkecamuk. "Sudah lihat storyboard-nya kan?" tanyaku. "Sudah, cuma belum detil," katanya. Dia tahu aku sangat memperhatikannya. Dia juga rupanya memperhatikanku. Aku jadi ingat waktu aku bertemu dia saat audisi di sini, dia menyangka aku juga peserta. Seperti Bu Ayu juga begitu, ketika aku pertama kali bertemu di kantornya, aku disangka model untuk produknya. Aku menggelengkan kepala, membuyarkan lamunanku. Aku ajak dia ke meja makan. Ada copy storyboard yang dapat dilihatnya di sana. Aku jelaskan padanya akting seperti apa yang diinginkan dan suasananya. Katanya dia juga sudah tandatangan kontrak sebagai model produk ini. Rupanya ini adalah kontrak pertamanya sejak dia memulai profesi ini. Biasanya hanya sebagai peragawan, penjaga stand atau pagar bagus resepsi pernikahan yang honornya tidak begitu banyak. "Sepertinya tidak susah ya?" tanyanya. "Semoga saja begitu," kataku. "Nanti telanjang atau pakai celana ya?" dia balik bertanya lagi. Aku tertawa. "Kenapa? Malu ya?" "Nggak sih. Cuma nanti hasilnya tidak vulgar banget kan?" katanya lagi. Aku mengangguk. Rupanya dia kuatir juga dengan pengambilan gambar yang nyaris telanjang itu. Dia mengingatkan iklan rokok yang kena cekal, yang dulu pernah ditayangkan karena menampilkan cowok yang telanjang tertutup busa sabun. Kukatakan padanya kalau hasilnya tidak akan sevulgar itu. Kemudian aku jelaskan prosesnya nanti akan ditentukan saat editing di post-pro. "Tubuhku lagi belang nih," katanya kemudian. Aku tentu saja sedikit kaget. "Tapi nggak tahu deh, bisa hilang kembali normal lagi nggak ya. Tinggal sehari dua hari lagi.." "Belang gimana?" tanyaku. "Kemarin aku berenang ke Carita dengan anak-anak gengku. Biasa, acara tanpa rencana. Aku pakai singlet ketika main di pantai, jadinya belang begini," katanya sambil membuka kemejanya, dan menggantungkannya di sandaran kursi makan. Huh! Tubuhnya dengan otot tidak begitu menonjol, tapi sangat proporsional membuat otakku memberikan sinyal rangsangan. Rasanya beda dibanding ketika melihat dia saat audisi, walau sama-sama telanjang dada. Mungkin karena tidak ada orang lain di ruang ini. Apa saja dapat terjadi. Dia mengelus tubuhnya yang atletis itu. Dia sedang menggodaku? batinku. Ada garis tepi singlet di punggung dan sisi dadanya. Bahu dan lengannya yang kekar itu kelihatan berwarna lebih gelap dibanding dada dan perutnya yang lebih terang. Kulitnya warna gelap malah kelihatan lebih seksi dimataku. "Tidak pakai krem ya?" tanyaku sambil melihat lebih dekat kulitnya. Mengelusnya pada kulitnya yang belang itu. Ototnya keras ketika aku coba meremasnya. "Nggak. Namanya tidak rencana," katanya sambil membuka celananya, memperlihatkan pahanya yang belang. Paha yang kekar. Apaan lagi ini? Aku menelan liurku. Jantungku mulai berdebar. Celana dalam mini warna biru muda itu memperihatkan tonjolan kontolnya ketika celana jeansnya merosot sampai ke bawah dengkulnya. Dia mengelus depan kontolnya yang menggembung. Benar-benar menggoda dia. Kemudian mengelus pahanya yang belang. Bokongnya yang lumayan indah itu tertutup hanya separuh. Otakku sudah mulai ingin berbuat lebih jauh. Tapi kutahan. Denyut darahku di kontol kurasakan memompa yang membuat kontolku menegang. Aku sampaikan bahwa belang pada tubuhnya itu akan mudah untuk di hilangkan pada saat proses di komputer. Memang jadi memakan waktu dan biaya lagi. Kusampaikan padanya untuk tenang saja dan cukup istirahat untuk persiapan shooting dan pemotretan besok Sabtu. Setelah itu, dia memakai kembali celananya dan kemejanya. Kami ngobrol sambil main internet. Usia kami yang tidak begitu jauh, dia lebih muda 2 tahun dariku membuat obrolan jadi asyik. Kukatakan padanya alasan dia terpilih karena tampang bersihnya, tanpa anting dan tato di tubuhnya. Kemudian dia juga cerita soal teman-temannya yang lebih senang hura-hura. Dia berpikiran untuk punya prestasi selagi sempat. Selagi ada waktu. Prestasi apa saja, tidak mesti yang menghasilkan duit. Aku setuju sekali dengan pendapatnya itu. Kukatakan padanya, aku dapat langsung bekerja dengan lancar mengurus semua hal, karena pengalaman berorganisasi dan magang kerja ketika masa kuliah. "Tidak sempat pacaran dong, Yadi," katanya mengomentari cerita kesibukanku itu. Aku tertawa. Apa aku harus cerita petualanganku dengan Siska, yang bekerja sebagai SPG di Mall sambil kuliah? Atau dengan Mas Hardi, sang komandan Resimen Mahasiswa di kampusku yang gay? Ah, aku jadi ingat Mas Hardi. Dimana dia sekarang ya? Kukatakan padanya, kebetulan aku berteman akrab dengan orang yang dapat memberi aku pengalaman hidup, yang membuat aku punya kemampuan diri yang lebih baik. Pacar atau teman dekat itu pilih yang memberi nilai positip pada diri kita, usulku padanya. Untuk curhat atau diskusi hal apa saja, terasa enak dan bermanfaat. Kami ngorol seperti dua sahabat yang sudah kenal lama. Sampai nggak terasa, sudah sore. Bima pamit pulang. Malamnya aku ke studio shooting untuk mengecek setting kamar mandi yang katanya sudah selesai. Rina, Sisy sudah disana lebih dulu. Mereka meminta aku dan Bang Jay untuk datang melihat. Akhirnya waktu yang kutunggu tiba juga. Siang ini kami sudah berada di studio shooting. Bang Jay sedang di ruang operator, mengecek pencahayaan di layar yang katanya agak gelap. Aku minta korten ruang shower diganti, warna cerah. Untung stok ada, kami pilih warna oranye, warna yang sama dengan kemasan produk. Bima telpon bahwa dia dalam perjalanan. Memang dia kuminta datang agak sore agar dia punya waktu banyak untuk istirahat. Dan lagi persiapan di studio tak perlu melibatkan dia langsung. Kami sedang makan siang ketika Bu Ayu datang. Sikapnya biasa saja terhadapku. Skandal yang kami lakukan setelah makan siang beberapa hari lalu tidak membuat sikapnya berubah. Hebat dia! pikirku. Menjaga jarak dan sikap di depan orang banyak terhadapku terlihat wajar di mataku. Aku juga tertolong untuk juga bersikap wajar dan tidak pernah terjadi 'apa-apa' diantara kami. Aku melaporkan kesiapan shotting yang sampai saat sekarang tidak ada masalah. Dia senang. "Pengambilan gambarnya dimulai kapan?" tanyanya. Dia hanya makan rujak yang dibawa Sisy. Tak mau makan nasi bungkus seperti kami. "Nanti sekitar jam lima," jawabku. Dia melirik jam tangannya. Masih ada waktu sekitar 4 jam lagi. Setelah melihat sekeliling studio yang telah disetting kamar mandi, Bu Ayu pamit pulang dulu. Nanti sore katanya akan balik lagi. Bersambung . . . . .


Wednesday, May 2, 2012

Pembantuku yang menggairahkan

Awek Pantat Panas CantikPada waktu pertama kali dia masuk, aku mulai tertarik melihat payudaranya yang montok, ingin rasanya aku meremasnya dan memasukkan barangku ke miliknya.

Kemudian setelah satu bulan berlalu aku mendapatkan kesempatan, ketika itu badannya agak demam dan aku menawarkan diri untuk menggosoknya dengan balsem yang aku punya. Dia pertama sich agak ragu, kemudian karena aku terus mendesak, dengan terpaksa dia mengijinkan aku mengerokinya. Aku buka ritsluitingnya dan aku mulai mengeroknya. "Boleh nggak kubuka BH kamu?" tanyaku waktu itu. "Untuk apa?" tanyanya balik. "Ya supaya saya bisa ngerok kamu dan menggosok badan kamu dengan balsem." jawabku dan tanpa menanti jawaban serta ijinnya aku langsung buka BH-nya. "Gila.. payudaranya montok banget" kataku dalam batin ingin rasanya aku meremasnya, kuperkirakan ukurannya minimal 36B, lama kelamaan aku tak tahan dan meremasnya dan sialnya dia teriak "Jangan gitu". Tapi karena nafsu telah menguasai batok kepalaku, tak kuat lagi aku menghentikan tanganku yang masih terus menggerayangi dadanya yang ranum menggairahkan itu. Kemudian dia bangkit dari tempat tidur, membenahi pakaiannya dan keluar kamarku, dia masuk ke kamarnya.